Itu Santunan Nak

Ilustrasi (Achmad Syaifudin/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

Oleh: Nanik Widahyanti


KETIKA aku membuka mataku, aku tak lagi berada di atas ranjang kesayanganku. Tubuhku tak lagi tertutup selimut tebal yang biasa menghangatkanku, aku tak lagi melihat dinding-dinding putih yang mengelilingi kamarku. Yang ku tahu saat itu, kepalaku sedang bersandar pada pundak yang aku tidak tahu itu pundak siapa. Kurasakan kedua tangan yang begitu erat mendekap tubuhku.

“ Minggir….Minggir….” Bibi, ya itu suara Bibiku. Teriakan itu membuatku memaksakan diri untuk mengangkat kepalaku yang sedang bersandar di pundak bibi. Dan, setelah ku angkat kepalaku, kukenal rumah ini, yang tak lain adalah rumah bibiku.

“Kenapa Bibi membawaku ke sini? Dan ada apa” pikirku kebingungan. Kulihat banyak orang yang berkerumun, orang yang tidak bisa aku sebutkaan satu per satu. Kulihat mata-mata mereka yang berlinang air mata, kulihat kesedihan yang begitu dalam pada diri mereka.

“Ada apa ini?” Aku masih kebingungan. Aku tak mengerti kenapa harus menangis dan menangis. Waktu itu usiaku masih 4 tahun, mungkin masih terlalu kecil untuk mengerti pemikiran orang dewasa.

“Bapak…..Bapak…..” Kudengar teriakan kakak perempuanku memanggil Bapak.

“Bapak….Bapak…..” Dan kudengar lagi, kali ini berganti suara ibu yang juga ikut memanggil Bapak. Ada apa? Ada apa dengan Bapak? Bibi semakin erat mendekapku, punggungku basah oleh air matanya. Satu persatu kerumunan orang-orang dewasa itu menghampiriku, mengelus-elus kepalaku, mengelus-elus punggungku dan mencium keningku sambil menangis tersedu.

Bibi membawaku ke sebuah tempat, aku masih berada dalam dekapannya. Dia memperlihatkan kepadaku sumber teriakan yang terus memanggil-manggil Bapak. Apa yang terjadi sebenarnya?

Kulihat ibu dan kakak perempuanku di sebuah ranjang, tapi tidak sedang tidur. Kedua tangan dan kaki mereka diikat sebegitu eratnya. Yang kutahu hal seperti itu hanya dilakukan kepada orang gila yang tidak terkontrol. Tapi kenapa itu dilakukan kepada ibu dan kakakku. Apa mereka gila? Tidak! Itu tidak mungkin.

“Berhentilah menangis, kasihan anakmu ini” Suara lirih Bibiku tiba-tiba mengheningkan suasana tengah malam. Sebentar, itu hanya sebentar. Setelah itu, teriakan lagi, tangisan lagi. Dan menjadi ramai lagi. Oh…ada apa ini sebenarnya? Aku masih belum mengerti.

****

“Laa ilaha illallah….. Laa ilaha illallah…” Kalimat Tahlil terus berkumandang. Kalimat yang biasanya dikumandangkan untuk mengiringi kematian seseorang. “Siapa yang mati?” Aku semakin tak mengerti.

Bibi yang tak kenal lelah, dia terus menggendongku kesana kemari. Dan kali ini dia memperlihatkan kepadaku, sesosok tubuh yang tertidur pulas di sebuah ranjang yang tidak lain adalah Bapak. Wajahnya putih, pucat. Tubuhnya ditutup kain batik panjang berwarna coklat. Dia tersenyum dalam tidurnya.

Aku ingin di dekatnya, aku ingin dia memelukku seperti biasanya. Aku ingin dia mengantarkan tidurku. Ya, aku ingin tidur dalam pelukannya. Kutunjuk dia dengan tangan kananku sebagai isyarat permohonan kepada Bibi untuk membawaku kepadanya. Tapi Bibi menangis, lalu dia pergi membawaku keluar.

****

Sebuah keranda di depan rumah sudah siap untuk diangkat. “Kira-kira siapa di dalamnya. Bapakkah? Oh, tidak! Itu tidak mungkin!” Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa yang sedang berada di dalamnya bukanlah Bapak.

“Jika itu Bapak, maka aku akan ikut dengannya, aku akan tidur di sampingnya seperti biasa”

Aku menyaksikan keranda itu diangkat dan akan dibawa pergi. Tapi kemudian seseorang berteriak “Berhenti! Jangan dibawa dulu. Mana Yanti?” Keberangkatan keranda itupun tertunda seketika itu. Nenek mencariku. Untuk apa Nenek mencariku?

Nenek menghampiriku, dia meraihku dari gendongan Bibi. Dan dengan terpaksa Bibi melepaskan gendongannya. Kemudian Nenek memintaku berjalan bolak balik di bawah keranda yang sedang terangkat sebanyak tujuh kali. Entah apa itu artinya? Kemudian Nenek menghapus air matanya, memelukku dengan erat, kemudian mencium keningku.

“Kamu tidak usah mengingat-ingat Bapak lagi ya cu…” Ucapnya kemudian dengan lirih.

“Sekarang aku tahu, aku mengerti apa yang sedang mereka tangiskan. Aku tahu orang yang berada dalam keranda itu. Aku tahu kenapa ibu dan kakakku memanggil-manggil Bapak. Ternyata ini yang mereka tangiskan, kematian Bapak. Tidak! Aku tidak bisa terima ini. Aku ingin tetap bersama Bapak”

Keberangkatan keranda itu membuat Bibi dan Nenek lupa terhadapku. Mereka sibuk dengan sendirinya. Dan aku, aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Aku berjalan mengikuti langkah orang-orang yang mengiringi keberangkatan keranda.

Belum jauh aku berjalan terdengar suara Bibi memanggilku “Yanti….Yanti….” aku tak menghiraukan panggilan itu. Aku bersembunyi di tengah kerumunan orang. Itu sudah membuatku tak terlihat. Aku terus mrngikuti keranda itu. Kulihat sebuah pohon mangga yang besar di halaman depan. Aku bersembunyi di baliknya ketika mendengar panggilan lagi. “Yanti….Yanti….”

“Aku tidak mau pulang. Aku mau ikut Bapak. Aku tidak mau Bapak pergi”

Jalanan mulai sepi, kulihat dari kejauhan keranda masih belum sampai. Kupikir, aku pasti akan sampai pada keranda itu. Aku keluar dari balik pohon mangga yang menutupiku. Aku berlari menuju keranda.

Belum juga sampai, tapi dari belakang seseorang mengangkat tubuhku. Itu Pamanku. Aku digendongnya dan dibawa pulang. Tangan kananku terus menunjuk ke arah keranda. “Bapak..Bapak.. Aku mau ikut Bapak, Paman” Tapi paman tak menghiraukan permintaanku.

****

Teman-temanku sedang asyik bermain di halaman tetangga. Aku bergabung dengan mereka. Bukan untuk bermain juga, tapi untuk memperlihatkan sesuatu kepada mereka.

“Hai teman-teman. Sapaku kepada mereka”

“Eh, Yanti ayo main.” Ajak salah satu dari mereka.

“Tentu saja aku akan main dengan kalian, tapi ke sini dulu aku punya sesuatu” Aku memanggil mereka terlebih dahulu. Tanpa berpikir panjang merekapun menghampiriku.

“Lihat, aku punya uang banyak” Dengan bangga aku menunjukkan kepada teman-temanku uang yang ada di dalam kantong celanaku.

“Teman-teman, ternyata dak punya Bapak itu enak, banyak yang ngasih uang. Lihat uangku banyak. Kalian semua masih punya Bapak, jadi dak ada yang ngasih uang,” ucapku dengan bangga kepada mereka semua.

****

“Ibu, aku sangat senang sekali. Semenjak aku tidak punya Bapak, banyak sekali orang yang ngasih uang kepadaku” Ibuku mungkin saat itu sedang menahan luka yang sangat dalam karena ucapanku. Kepedihannya saat itu tak bisa aku bayangkan.

Aku menunjukkan uang yang kudapat kepada ibuku, lalu aku memberikannya. Ibu mengambil uang itu. Aku merasa sangat senang saat itu, 27 tahun yang lalu. Ibu tersenyum, tapi kedua matanya mengalirkan air mata dan pipinya menjadi basah. Dia memeluk tubuhku dengan erat. Aku merasakan kehangatan dalam pelukannya. Dia berkata dalam isak tangisnya. “ini uang santunan Nak.” (*)