Dugaan Korupsi GIC, Wawali Nonaktif Suhadak Ditetapkan Tersangka

BUNGKAM: Wakil Wali Kota Probolinggo nonaktif Suhadak usai pemeriksaan lanjutan di kantor Kejari. Ia tidak memberikan keterangan apapun saat diwawancara wartawan. (Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

KANIGARAN – Wakil Wali Kota Probolinggo nonaktif Suhadak tak menyangka terlibat dalam dua pusaran kasus korupsi yang bakal menyandera kebebasannya. Betapa tidak, setelah divonis 5 tahun oleh Mahkamah Agung (MA), Suhadak ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi proyek pembangunan Gedung Islamic Centre (GIC).

Selasa (18/9), Suhadak dengan didampingi pengacara dan petugas Lapas Klas IIB Probolinggo, mendatangi kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Probolinggo. Kedatangannya untuk menjalani pemeriksaan lanjutan atas kasus tersebut.

Suhadak tiba di kantor Kejari sekira pukul 10.00. Suhadak yang mengenakan kaus tahanan berkerah dengan warna oranye itu, langsung masuk ke ruang pemeriksaan dengan kawalan ketat. Ia diperiksa hampir selama 4 jam, sampai pukul 14.00. Usai pemeriksaan, Suhadak keluar ruangan menuju mobil yang telah menunggunya.

Tak banyak komentar yang keluar dari terpidana kasus korupsi Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang Pendidikan 2009 itu. Pertanyaan sejumlah wartawan yang sudah menunggunya, tidak direspons. “Alhamdulillah,” katanya singkat ketika ditanya soal kabar.

Setali tiga uang, pengacara yang mendampinginya juga ogah bicara. Suhadak yang tangannya diikat borgol plastik itu, langsung masuk ke mobil tahanan yang sudah bersiap membawanya kembali menuju lapas.

Sementara itu, Kasi Intel Kejari Kota Probolinggo Herman Hidayat mengatakan, Suhadak sudah ditetapkan sebagai tersangka pada 9 Agustus silam. “Pemanggilan hari ini (Selasa) merupakan tindak lanjut dari proses penyelidikan serta pengembangan,” terangnya. Namun, Herman tidak menyebutkan berapa pertanyaan yang ditujukan pada Suhadak.

Herman –sapaan akrabnya– belum memastikan apakah ada tersangka lain selain Suhadak. “Yang ditetapkan sebagai tersangka sampai saat ini ada satu,” katanya. Suhadak sendiri merupakan tersangka ke empat atas kasus yang merugikan negara Rp 1,4 miliar itu.

Tiga tersangka lainnya sudah menjalani proses persidangan dan kini telah bebas. Di antaranya Purnomo yang saat itu menjadi Pejabat Pembuat Komitmen (PPK); Johan Wahyudi, yang merupakan konsultan proyek; kemudian Dini Santi Ekawati, mantan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK).

Saat itu, hakim menjatuhi hukuman pidana masing-masing satu tahun penjara pada ketiga terdakwa. Selain itu, para terdakwa juga wajib membayar uang denda sebesar Rp 50 juta dengan subsider 1 bulan kurungan. Nah, beberapa waktu lalu, ketiganya dipanggil Kejari untuk memberikan keterangan atas kasus tersebut. Hingga kemudian Kejari menetapkan Suhadak sebagai tersangka.

Diketahui, pembangunan GIC dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama dilakukan 2012 lalu dengan nilai Rp 4,6 miliar oleh PT Pandan Landung. Tahap kedua, dilakukan tahun 2013 dengan nilai Rp 825.605.000 oleh CV Keong Mas. Sedangkan tahap ketiga, juga dilakukan di 2013 oleh CV Sari Murni dengan nilai Rp 1.150.690.000.

Kasus GIC yang kini masuk di meja sidang itu adalah proyek 2012. Dalam penyidikan, Kejari melibatkan tim ahli dari Universitas Brawijaya (UB) Malang untuk memeriksa kualitas bangunan GIC.

Selanjutnya, hasil pemeriksaan tim ahli diserahkan ke Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk menghitung kerugian negara dalam kasus tersebut. BPKP menyebut, kerugian negara yang ditimbulkan proyek itu sekitar Rp 1,4 miliar untuk tiga tahap pembangunan. Mulai tahap pertama di tahun 2012, serta tahap dua dan tiga yang sama-sama dilakukan di tahun 2013. (rpd/rf/mie)