MPU yang Tabrak Pemotor hingga Tewas Dirampok di Dringu, Sopir Diikat

ALAMI LUKA: Halili, salah satu pelaku perampokan MPU saat dirawat di RSUD Waluyo Jati Kraksaan. Ia alami luka usai MPU yang dirampoknya bersama teman-temannya alami kecelakaan di Curahsawo, Dringu. (Arif Mashudi/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

GENDING – Mobil penumpang umum (MPU) yang terlibat kecelakaan maut di Desa Curahsawo, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo diketahui merupakan mobil hasil rampokan. Empat pelaku yang tengah membawa kabur MPU itu pun telah diamankan petugas kepolisian.

Empat pelaku itu adalah Ahmad Basori, 21; AZ, 17; Halili, 21 yang sama-sama asal Desa Wonorejo, Kecamatan Maron. Satu pelaku lainnya adalah Usama, 25, warga Desa Maron Kulon, Kecamatan Maron.

MPU yang dirampok itu merupakan MPU jurusan Surabaya-Sidoarjo. Korban perampokan itu adalah Soebhi, 65, asal RT 3/RW 10, Kelurahan Tanah Kalikedindin, Kecamatan Kenjeran, Surabaya.

Korban Soebhi saat Jawa Pos Radar Bromo menceritakan, perampokan itu bermula saat Sabtu malam sekitar pukul 23.00 mobilnya ditumpangi empat pelaku. Mereka naik dari Terminal Bungurasih.

Awalnya, komplotan begal MPU itu mengaku hendak ke arah Sidoarjo. Mereka berempat membayar Rp 40 ribu. Karena tidak ada MPU lain, keempat pelaku pun minta diantar ke Porong dengan ongkos tambahan Rp 20ribu.

Sesampai di Porong, mereka minta diantar ke Probolinggo. “Kalau ke Probolinggo sepakat ongkos tambah RP 150 ribu. Tapi, uang itu belum dibayar. Mereka baru bayar Rp 40 ribu dan Rp 20 ribu ke Porong itu aja,” kata Soebhi sang sopir MPU kepada Jawa Pos Radar Bromo.

Korban Soebhi mengaku menerima tawaran calter ke Probolinggo dengan ongkos Rp 150ribu. Sebab, hari itu, penumpang tengah sepi. Sementara dirinya dikejar setoran. Tiap harinya, ia setor Rp 80 ribu ke pemilik angkot.

Ia awalnya juga gak ada rasa curiga, kalau keempat penumpang itu hendak merampoknya. “Sesampai di jalan tengah di alas-alas daerah Probolinggo, salah satu penumpang minta berhenti dengan alasan hendak buang air kecil,” ceritanya.

Soebhi pun ikut turun untuk buang air kecil. Saat kencing itulah ia langsung disergap dan diikat tangannya dengan gunakan sabuk. Korban ditinggalkan di kawasan Desa Sekarkare, Kecamatan Dringu. “Saya tidak melawan dan teriak. Karena tempatnya sepi dan gelap di tengah alas. Jadi, yang penting saya selamat dulu,” ujarnya.

Saat mobilnya dibawa kabur dikatakan Soebhi, dirinya berusaha untuk melepaskan ikatan tangannya. Saat berhasil, dirinya berjalan jauh menuju jalan raya dan bertemu warga. Hingga akhirnya diantar ke Polsek Dringu. “Untungnya, saya selamat dan pelakunya sudah diamankan,” ujarnya. (mas/mie)