Biduan

Ilustrasi (Achmad Syaifudin/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

Oleh: Abdur Rozaq


SETIAP kali manggung di hadapan Ayeza, anakku, aku tak bisa total. Mama bilang goyanganku seperti gaya artis ibu kota yang sudah tak mengandalkan gerakan seronok untuk mendapatkan saweran. Padahal goyangan-goyangan itulah modalku. Wajahku kalah cantik dengan Erlita, biduan kampung sebelah sainganku. Kulitnya sudah mulus dari peruwatan, sedangkan aku harus mengandalkan lulur dan perawatan. Itupun, jika telat pergi ke salon, akan kembali seperti asal. Suara Erlita apalagi. Aku hanya unggul dari segi lekuk tubuh, begitu ujar Roni—suami sirriku—pula. Makanya mereka terus mewanti-wanti agar aku tak kalah binal dengan Erlita di atas panggung.

Tapi entah bagaimana, di depan Ayeza anakku, aku selalu rikuh untuk bergoyang dengan penjiwaan. Meski, sudah berkali-kali Roni menegur. “Lama-lama kamu ditinggal penggemar. Kamu pingin tenggelam dan kita tidak bisa makan?” begitu Roni selalu mengingatkan, tepatnya memprotesku.

Tapi aku memang tak bisa bergoyang untuk mempermainkan birahi para penyawer di depan Ayeza. Di depan Mama, aku sama sekali tak rikuh. Bahkan untuk menirukan gayaku di atas ranjang. Malah Mama yang selalu meyakinkanku jika seorang biduan, harus membayangkan dirinya menari tanpa ditutupi sehelai benang pun di atas panggung. Sejak tahu aku suka berkaraoke di rumah dan mulai berani menyanyi di panggung-panggung hajatan famili, Mama ke sana ke mari mencari kenalan biduan. Tak lama setelah itu, Mama tiba-tiba menjadi seorang koreografer untukku. Mama bahkan tak sungkan-sungkan menyuruhku bergoyang dengan hanya mengenakan celana dalam di kamar. Saat itu aku masih duduk di SMP.

“Suaramu pas-pasan sebenarnya. Makanya kamu harus total saat bergoyang di atas panggung.” Begitu ujar Mama saat itu. Dan seiring waktu, Mama mulai memaksaku meminum jamu, membelikan lulur untuk membuat kulit paha dan betisku lebih cepat menjadi mulus dibanding dengan gadis sebayaku. Belum lulus dari SMP, Mama sudah membawaku pergi ke seorang dukun dan memasang beberapa susuk di dagu, paha dan bokong. Kata Mama, ini semua demi masa depanku.

“Kamu mau hidup enak, kan? Mama rela melakukan apa saja demi masa depanmu. Siapa tahu kamu bisa seperti Inul. Kamu harus berbuat sesuatu untuk menyelamatkan masa depan kita,” pinta Mama, membuatku sampai kini tak punya pilihan selain menjadi biduan kampung.

Ketika suami pertama menceraikanku dan Ayeza lahir, sebenarnya aku sudah punya angan-angan untuk membuka salon. Sedikit tabungan dari hasilku menyanyi dari panggung ke panggung, kupersiapkan untuk modal. Namun desakan Roni membuat mimpiku itu tertunda entah sampai kapan.

“Aku punya kenalan produser di Surabaya. Kita bikin video demo, lalu kita viralkan. Kenalanku sudah berkali-kali berhasil mempopulerkan biduan. Nanti jika kau terkenal, hidup kita akan berubah.” Maka uang tabungan yang mestinya kujadikan modal untuk membuka salon itu habis tak tersisa.

Sayangnya, jangankan menjadi biduan terkenal, menjadi viral pun tidak. Video demo memang sudah kami buat. Tapi sejak pertama kali syuting aku sudah merasa janggal.

Tidak seperti angan-anganku, kami tidak melakukan rekaman di sebuah studio. Mereka, kenalan Roni itu hanya merekamku menyanyi dan bergoyang dengan handycam.

Tidak ada mixing suara dan video seperti yang dijanjikan Roni. Aku memang tak terlalu banyak tahu seperti apa proses rekaman profesional. Namun di Youtube aku tak menemukan proses rekaman seperti yang pernah kami lakukan.

Kini aku sudah tak ingin bertanya lagi kapan video itu selesai dan diunggah di Youtube. Roni selalu marah ketika aku menanyakannya, dan aku tak mau terlalu cepat bercerai lagi.

Malam ini, Roni kembali memarahiku habis-habisan karena mengajak Ayeza manggung. “Sudah kubilang, Ayeza ditinggal di rumah saja, dititipkan siapa lah,” semprot Roni begitu aku turun dari panggung dan membersihkan make up di kamar tuan rumah hajatan.

Beberapa orang sampai mengintip melalui pintu kamar. Mungkin teriakan Roni terdengar keluar meski suara piano listrik mengalun melalui sound system. Kusapu air mataku dengan tisu. Semoga Ayeza tak melihat air mata menggenang di antara maskara. Aku diam saja. Aku bukan perempuan penurut sebenarnya, tapi demi perkawinan sirri kami, ucapan kasarnya itu hanya kuiyakan. Masih untung aku selalu bisa meluluhkan amarahnya dengan uang dan tubuh letihku.

Ayeza memang bukan darah dagingnya. Ayeza darah dagingku dan mantan suami pertama yang menceraikankanku, karena aku tetap dengan pendirianku untuk tetap menjadi biduan. Maka tentu saja Roni tak merasakan beban dengan ucapannya itu.

Gadis berusia tujuh tahun ditinggalkan di rumah seorang diri, bagaimana jika ia terbangun dari tidurnya dan menangis? Bagaimana jika seorang pedofilia menyergap lalu membunuh dan membuang mayatnya untuk menghilangkan jejak? Aku selalu merasa lebih tenang mengajak Ayeza manggung, meski ia harus melihatku bergoyang –seperti kata Mama—seakan sedang bergumul di atas ranjang.

Aku tak tahu apakah Ayeza sudah mulai mengerti jika aku bergoyang seraya membayangkan diri tanpa busana. Aku juga tak tahu apakah Ayeza pernah melihatku bergumul dengan ayah tirinya di kamar sebelah malam-malam.

Yang kukhawatirkan, ia pernah membuka HP ku, dan melihat belasan video tak senonoh yang direkam Roni saat ia menerkamku. Maka, meski Roni berkali-kali murka karena kuajak Ayeza saat manggung dan goyanganku tidak total, aku tak punya banyak pilihan. Jiwa dan kebebasanku memang telah disandera oleh suami sirri yang kapan saja bisa meninggalkanku itu.

Aku memang bukan perempuan yang layak menjadi contoh bagi Ayeza. Hampir segala perbuatan dosa kulakukan demi sekedar untuk bertahan hidup, atau menyiasati agar tak bunuh diri lebih cepat.

Soal rencana bunuh diri, kau pasti mengerti apa alasanku. Ya, salah satunya aku memang masih waras, dan mengerti arti rasa malu dan rikuh. Bisa kau bayangkan, aku bernyanyi dari panggung ke panggung. Mulai dari pesisir hingga ke pelosok pegunungan. Datang dengan make up menor dan pakaian seronok hanya untuk bergoyang di atas panggung papan bahkan di atas paving.

Tak jarang aku harus menyanyi dan bergoyang di halaman tuan rumah. Di tanah, kulihat banyak lubang bekas hak sepatu larsku. Kadang bocah-bocah menyelipkan uang saweran di sela-sela dadaku. Kadang seorang pria mabuk berjoget dan mengepungku di atas panggung. Matanya berkilatan merah, nafas berbau alkoholnya mendengus-dengus. Tubuhku ini, yang saat bayi dielus-elus Mama, ibarat sex toys pelambung hayalan tabu para lelaki. Meski saat berusia tiga dan tujuh bulan di rahim Mama dibacakan doa, kini tubuh letihku hanya seharga uang saweran.

Bagaimana pun Mama mencuci otakku untuk membunuh rasa malu, kadang aku merasa menjadi manusia rendah. Bagaimana tidak, setiap kali manggung di acara hajatan, aku harus mengenakan pakaian paling tak beradab.

Tak seperti para tamu undangan yang mengenakan pakaian begitu santun dan gagah, demi uang ratusan ribu rupiah aku harus mengenakan pakaian paling primitif. Aku berangkat dari rumah dengan mengenakan jaket atau longdres, hanya untuk kulepas saat aku bergoyang.

Ketika insomnia mendera dan malam mulai sepi kecuali oleh dengkuran Roni, aku biasa melihat videoku ketika bergoyang. Tak jarang, aku merasa melecehkan martabat kaumku sendiri.

Lalu, ratusan pertanyaan mengepung jiwa gersangku. Hanya untuk inikah aku terlahir? Inikah hidup, mengapa manusia harus menjual apa saja demi sesuap nasi dan mimpi yang semu? Mengapa aku tak punya banyak pilihan, menjadi penjaga toko atau membuka warung kopi, misalnya?

Mengapa para penggemar begitu dermawan memberikan uangnya hanya demi bergoyang bersamaku di atas panggung? Sampai kapankah kusuapi Ayeza dengan uang –kata mantan suamiku—haram? Mengapa Mama tak seperti kebanyakan ibu, yang risih melihat anaknya dijadikan bahan hayalan tabu para lelaki? Bagaimana jika tiba-tiba aku mati dan Tuhan belum mengampuni dosaku? Apakah guru-guru dan teman-teman Ayeza tahu jika ia anak seorang biduan? Apakah Ayeza kelak juga akan menjadi biduan sepertiku?

Di depan cermin, sering kupandangi tubuh polosku seraya berdialog dengannya. Tubuh ini, ketika kelak mengendur, masih adakah yang mengelu-elukannya? Siapakah sebenarnya ia, penyanyi atau penari? Aku tak seberapa bisa menyanyi, pun menari.

Aku hanya menuruti saran Mama untuk memperagakan gerakan-gerakan paling tabu di atas panggung atau di teras tuan rumah hajatan. Apakah sebenarnya yang ada dalam benak laki-laki ketika tubuh ini bergoyang? Mereka mungkin menghayalkanku sebagai perempuan penuh cinta, karena aku tersenyum kepada siapa saja.

Bisa jadi mereka membayangkan adegan paling cabul atas tubuhku hanya karena telah memberikan uang saweran. Apakah itu berarti aku menjual diri? Ah tidak, aku bukan penjaja tubuh. Aku hanyalah seorang biduan. Orang boleh memegang pundak atau pinggulku. Tapi tak boleh lebih dari itu.

Tapi apa bedanya, bukankah aku menjual ilusi liar para lelaki agar mereka mengundang dan memberiku saweran? Tidak, mereka hanya bisa berhayal dan bergoyang denganku. Yang boleh menyentuh tubuh ini hanya Roni. Kapan saja ia mau, meski aku letih dan merana.

Dialog-dialog sepi dengan tubuhku, kadang berlangsung begitu mendalam. Aku menanyakan akhir dari nasib tubuh ini kelak. Jika aku sudah membujur kaku, masih adakah orang yang sudi menyentuh dan menggilai tubuhku? Tentu saja tidak. Mereka tak benar-benar mengagumimu. Mereka memperlakukan khusus tubuh ini, karena mendapat imbalan memanjakan angan-angan paling liar di kepala mereka.

Maka, dari hasilku manggung kusisihkan uang untuk menyekolahkan Ayeza di sekolah favorit di kota ini. Ia sudah hapal Juz Amma dan beberapa bacaan salat. Meski masih tujuh tahun, Ayeza sudah rajin mengenakan kerudung ketika kuajak jalan-jalan.

“Kata Bu Guru, perempuan harus pakai kerudung. Mama kapan mau pakai kerudung?” celetuknya suatu kali, ketika ia kuajak jalan-jalan ke kota. Tentu, tentu saja pertanyaan Ayeza itu menusuk dadaku. Kupalingkan wajah agar ia tak melihat mataku berkaca-kaca. Tapi ternyata ia sudah mengerti banyak hal.

“Mama menangis? Kenapa Mama menangis?”

“Mata Mama kemasukan debu, sayang” elakku seraya mengambil tisu.

Namun, hidup memang tak selalu memberikan banyak pilihan. Hingga kini aku tak bisa berbuat apa-apa selain manggung dan mengumpulkan saweran sebanyak mungkin. Kami butuh uang untuk sekedar bertahan hidup. Roni dan Mama ibarat benalu yang tak mungkin kucerabut dari hidupku, karena memang demikian suratan menentukan.

Utang Mama seakan tak pernah berkurang sepeser pun meski pontang-panting aku mencicilnya. Yang membuaku ikhlas menjadi perahan Mama, adalah utang air susu dan darah dagingku kepada Mama.

Tubuhku ini, biarlah kujual demi mengangsur utang-utang yang takkan pernah lunas kepada Mama. Sejak kecil Mama membesarkanku seorang diri setelah Papa pergi dengan selingkuhannya. Cekikan renten itu pun, bisa jadi Mama gunakan untuk membiayaiku memasang susuk dan melengkapi kostum panggung ketika belum banyak job dulu.

Dan Roni, aku hanya bisa menyuapinya dengan sabu-sabu agar tak lari dariku. Satu-satunya alasanku bersedia menjadi istri sirrinya adalah Ayeza. Roni memang tak pernah sedikit pun menganggap Ayeza sebagai anak tirinya. Kupertahankan Roni agar Ayeza merasa memiliki semacam keluarga. Paling tidak, ketika mengambil rapor di sekolahnya, teman-teman Ayeza menyangka ia memiliki seorang ayah.

Selanjutnya, aku hanya menunggu waktu hingga Ayeza sedikit mandiri. Ketika kelak ia tak harus dininabobo sebelum tidur. Ketika ia sudah bisa menyiapkan seragam dan buku-bukunya sebelum berangkat sekolah, ketika Ayeza sudah bisa mengerjakan salat dengan baik, aku bisa menyayat nadiku di sebuah losmen. Jauh di luar kota sana. (*)

Bakalan, 14 September 2018