Eksekusi Lahan di Paiton Dikawal 167 Personel Polisi

PASANG PATOK: Petugas eksekusi memasang patok di lahan milik Jamalia, di Desa Karanganyar, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Kamis (13/9). (Hilal Lahan Amrullah/ Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

PAITON-Upaya kelurga Jamalia, warga Desa Karanganyar, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, mendapatkan haknya, akhirnya tuntas. Pengadilan Negeri (PN) Kraksaan, telah mengeksekusi hasil gugatannya terkait dua lahan yang selama ini dikuasai saudaranya, Kamis (13/9).

Dua lahan itu berupa sawah seluas 0,249 hektare dan lahan pekarangan seluas 0,433 hektare. Eksekusi objek sengketa di Desa Karanganyar, Kecamatan Paiton, ini mendapat kawalan ketat anggota Polres Probolinggo. Korps Bhayangkara ini sampai menerjunkan 167 personel. Ada juga anggota Koramil Paiton.

Putra Jamalia, Adiman, 60, mengatakan, tanah sengketa itu sebelumnya didapat Jamalia dari membeli kepada orang tuanya. Namun, lahan itu disebutkan dirampas oleh keponakan Jamalia sendiri.

Bahkan, tanahnya sempat dikavlingkan. Karenanya, Jamalia mengajukan gugatan ke PN Kraksaan. “Sudah dibeli ke Mbah, namun masih atas nama Mbah. Tapi, tetap diambil oleh Pak Armo (Asmadi), maka saya selesaikan secara perdata,” ujar Adiman.

Selain Asmadi, ada sejumlah pihak yang juga digugat oleh Jamalia. Hasilnya, Jamalia memenangkan perkara ini. “Jika diuangkan lahan pekarangan itu senilai Rp 600 juta, lahan sawah Rp 500 juta, dan lahan yang dibangun rumah diganti rugi Rp 125 juta,” ujar Adiman.

Selain aparat keamanan, keluarga Jamalia juga terlihat di lokasi. Sedangkan, keluarga tergugat tidak ada yang datang dalam proses eksekusi ini. Karenanya, proses eksekusi berjalan lancar.

Panitera Muda Perdata PN Kraksaan Agus Sugianto mengatakan, perkara ini terjadi sejak 2013. Hasilnya, Jamalia memenangkan gugatannya dan kemarin dieksekusi. “Kami melakukan eksekusi sesuai penetapan Ketua Pengadilan Negeri Kraksaan,” ujarnya.

Agus mengatakan, lahan yang dieksekusi ada dua tempat. Satu lahan berupa sawah seluas 0,249 hektare dan pekarangan seluas 0,433 hektare. Di atas pekarangan ini berdiri sebuah rumah. Namun, rumah ini tak sampai dieksekusi karena telah diselesaikan secara kekeluargaan. Pemilik rumah ini bersedia membayar Rp 125 juta. (hil/rud)