Bersiap Sambut Penilaian Kota Sehat

PROBOLINGGO – Kota Probolinggo kembali mengikuti penilaian Kota Sehat. Tahun ini, penilaian Kota Sehat dilakukan Dinas Kesehatan Jawa Timur. Tujuannya, yaitu untuk pembinaan. Lihat videonya disini.

NH Hidayati, Kabid Kesehatan Masyarakat di Dinas Kesehatan Kota Probolinggo menjelaskan, ada dua jenis penilaian kota sehat. Yaitu, penilaian di tahun genap dan tahun ganjil.

“Di tahun genap seperti tahun 2018, penilaian dilakukan Dinas Kesehatan Jawa Timur. Tujuannya, untuk pembinaan sebelum penilaian di tingkat Nasional,” jelasnya.

Sedangkan penilaian pada tahun ganjil merupakan penilaian Kota Sehat tingkat Nasional. Hasil akhir penilaian ini adalah juara. Seperti pada 2017, Kota Probolinggo meraih predikat Kota Sehat Nasional untuk kategori Swastisaba Wistara.

Menurut Hidayati, ada tujuh tatanan yang masuk dalam penilaian Kota Sehat. Yaitu, tatanan permukiman dan sarana prasarana sehat; kehidupan masyarakat sehat yang mandiri; kawasan tertib lalu lintas dan pelayanan transportasi; kawasan industri dan perkantoran sehat; kawasan dan ketahanan pangan dan gizi; kawasan kehidupan sosial sehat dan tatanan kawasan pariwisata sehat.

Dinas Kesehatan Jawa Timur sendiri berkunjung ke sejumlah titik pantau, Senin (10/9). Sedangkan penilaian Kota Sehat akan dilakukan hari ini (13/9) oleh tim Verifikator dari Dinas Kesehatan Jawa Timur.

“Kunjungan ke titik pantau ini untuk melihat kesiapan warga atau pihak-pihak titik yang dipantau. Seperti tatanan permukiman dan sarana prasarana sehat ke Perumahan Kademangan Asri,” ujarnya.

Pada titik pantau ini, yang dilihat adalah kegiatan pemberdayaan masyarakat. Seperti di KRPL (kawasan rumah pangan lestari) itu terkait Posyandu yang ada di depan KRPL Perumahan Kademangan Asri.

“Hasil dari KRPL selain untuk masyarakat, kan ada lele juga bisa dimanfaatkan untuk balita di Posyandu,” jelasnya.

Selain tujuh tatanan ini, ada beberapa indikator yang dilihat dalam penilaian Kota Sehat. Seperti indikator pokok contohnya Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), dan angka penyakit DBD.

“Kalau indikator tambahan tidak ada. Indikator pokok ini AKI, AKB, dan angka penyakit DBD,” jelasnya. (put/hn)