Cangkir Kopi

Ilustrasi (Achmad Syaifudin/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

Oleh: Siti Nur Jannah


“Sugiarto, pergi ke warung dekat masjid. Minta gula!” Suruh suara serak di balik tirai yang membatasi antara dapur dan ruang tengah.

Sugiarto yang masih melekatkan kepalanya di atas bantal pun tak berniat untuk menggeser posisinya. Apalagi selimut yang seakan menjadi kulitnya itu sudah membungkus tubuhnya dengan rapi.

“Sugiarto!” suara itu mulai meninggi. Diiringi dengan kepala yang memiliki rambut yang mulai memutih. Sedangkan matanya tampak menelisik apakah Sugiarto melakukan tugasnya ataukah tidak.

“Sugiarto! Cepat pergi! Bapakmu sudah mau berangkat.”

Sugiarto menolehkan kepalanya malas. Ekor matanya masih melirik episode kartun yang menjadi favoritnya selama 15 tahun ini. Ia tak tahu kenapa ia sangat menggemari kartun ini. Bahkan ia hafal setiap episode yang baru atau yang sudah diputar ulang. Mungkin stasiun TVnya tengah krisis ide.

“Uangnya Mak?”

“Kan sudah emak bilang minta dulu. Bapakmu belum ada uang. Kemarin buat bayar tagihan bank. Cepet sana. Keburu bapakmu berangkat.”

Sugiarto melirik bapak yang masih memejamkan matanya di kamar sebelah, kemudian beralih pada televisi kecil yang terletak di atas meja kecil dengan setumpuk kertas tagihan utang. Entah itu tagihan untuk bulan depan atau bulan kemarin, Sugiarto tak peduli. Toh, itu urusan emaknya.

Sugiarto beranjak dari ‘surga’ sesaatnya itu setelah kartunnya berganti iklan.

*

“Uang sakuku tambahin Mak. Ada kegiatan di sekolah,” ujar Sugiarto sembari menggigit ikan asinnya diikuti dengan sendok penuh nasi.

“Kegiatan apa lagi?” timpal emak yang tengah mencuci gelas bekas kopi bapak.

“Udahlah. Emak gak bakal ngerti. Percuma dijelasin,” jawab Sugiarto acuh. Sugiarto tahu, emaknya setelah lulus SD langsung dijadikan istri keempat oleh juragan di desanya. Mungkin karena pembagian warisan yang tidak adil, akhirnya emak memilih untuk pergi dan bertemu dengan bapaknya.

“Kamu itu, uang saku minta tambahan terus. Disekolahkan biar pintar, tapi tetap aja tingkahmu kayak anak SD. Mau jadi apa nanti kamu,” oceh emak seraya mengambil beberapa lembaran dua ribuan di balik BH usangnya.

“Aku berangkat mak!” Ucap Sugiarto setelah menyaut lembaran uang dari emaknya.

Deruman motor yang seakan petasan mulai terdengar dari dapur emak. Diringi asap hitam seperti kebakaran. Perlahan suara yang mengganggu itu terdengar samar sebelum kemudian hilang dan diganti dengan suara air yang mendidih. Rupanya bapak minta dibikinin kopi lagi, yang manis.

*

“Iya Buk. Si Lastri itu ngutang gula terus sama saya. Awalnya ya saya kasih Buk. Tapi malah jadi kayak puasa sunnah. Tiap Senin dan Kamis anaknya disuruh ke sini minta gula. Kirain mau bayar utang, eh malah nambah lagi. Ya sudah gak saya kasih. Emangnya saya pabrik gula apa!” cerita si ibu A dengan kilatan mata tajam.

“Lo, gulanya di sini tho? Kalau kopi biasanya di warung deket rumahnya sana Buk.” Si ibu B memicu percakapan panasnya.

“Kayaknya Lastri itu utangnya di mana-mana Buk. Kemarin dia pinjam uang saya buat bayar SPP anaknya. Karena kasihan ya saya kasih. Kalao tahu dia utangnya banyak, ya gak bakal saya kasih Buk.” Ibu C memainkan jarinya. Mengkomat kamitkan mulutnya menyebutkan sejumlah nominal yang ia ingat.

“Tagih besok aja Buk. Kalo gak gitu, gak bakal diganti Bu. Tiap hari aja ditagih. Biar kapok. Orang kok sukanya ngutang. Suaminya ngapain sih?!” sinis ibu A.

Tiba-tiba terdengar suara deruman motor yang mengalahkan suara pesawat lepas landas, membuat gerumbulan ibu-ibu menghentikan pembicaraan panas mereka.

“Itu si Sugiarto Bu. Anaknya si Lastri.” Si ibu B mengekori pengendara motor ‘pengganggu’ itu hingga hilang di balik tikungan.

“Ck ck ck. Liat dandanan anaknya sudah kayak berandal Bu. Mau jadi apa nantinya.”

“Maling kayaknya Buk.” Timpal sebuah suara serak di belakang forum yang langsung membuat kerumuman ibu-ibu bungkam.

“Eh, Bu Lastri mau ngutang, maksud saya mau belanja apa Bu?” Si ibu A memaksakan senyumnya. Berusaha ramah. Begitupun dengan ibu-ibu yang lain.

Lastri hanya menarik satu ujung bibirnya ke atas. Getir.

*

“Tetangga ngomongin kita lagi Pak.” Keluh Lastri seraya menaruh secangkir kopi di samping bapak.

Bapak tetap diam tak menanggapi sedikitpun. Tangannya masih menyulam lembaran kain lusuh yang sudah terpotong-potong untuk mengubahnya menjadi keset.

“Kenapa sih pak hidup kita kayak gini? Mbok ya cari pekerjaan lain yang ngasilin banyak uang. Tiap hari buat keset, tapi yang beli cuma bisa dihitung jari. Buat apa tumpukan keset di gudang pak? Istrimu ini mau kamu kasih makan keset apa?” oceh Lastri sembari merapikan tumpukan keset di samping bapak. Hasil kerjanya siang tadi.

“Kenapa gak emak saja yang kerja?” sahut Sugiarto yang sedari tadi membantu bapak menyulam kesetnya.

“Istri itu ya tanggung jawabnya suami. Kenapa harus emakmu yang kerja? Ngurusin kamu aja udah kayak kerja rodi.” Omel Lastri sambil menyaut cangkir kopi di meja saat bapak menunjuk kopi dengan tangannya.

Sugiarto membuang muka dan napasnya bersamaan. Ia benar-benar malas mendengarkan omelan emaknya yang tiap hari seakan kaset yang diputar berulang-ulang. Tak mau mendapat makan malam ocehan, Sugiarto memilih untuk beranjak dari tempat duduknya.

“Mau ke mana kamu? Orang tua ngomong kok malah ditinggal pergi. Mau jadi apa kamu kalau gak nurut sama emakmu? Maling?”

Sugiarto menghentikan langkahnya dan menolehkan kepalanya pada emak.

“Anak kan tanggungannya orang tua. Ya urusan Emak dong kalau Sugiarto kayak gini.” Tukas Sugiarto dan langsung membanting pintu belakang rumah.

“Sugiarto! Kamu itu..!”

Ting ting ting.

Emak menolehkan kepalanya saat bapak memukul cangkir kopinya dengan sendok. Bagi emak, suara pukulan sendok itu sudah menjadi musik tersendiri. Enam belas tahun kebersamaannya dengan bapak, selama itupula sendok dan kopi menjadi pengiringnya.

“Ada apa pak?”

“Hmphmp…. Khkkhh…” Ringkih bapak berusaha mengatakan sesuatu. Tapi seperti biasa, tak ada satu hurufpun yang keluar dari mulutnya. Bapak menyodorkan sesobek kertas yang tadi diberikan Sugiarto padanya.

Emak menyondongkan kepalanya berusaha membaca jajaran huruf di depannya.

Tagihan gula dan kopi di warung sebelah sudah Sugi lunasi. Emak gak usah ngutang lagi. Bapak gak perlu dikasih kopi tiap hari daripada emak ngomel terus. (*)


*) Mahasiswa Kimia UIN Maulana Malik Ibrahim Malang