Ini Catatan Hasan Aminuddin untuk Penyelenggaraan Haji Tahun Ini

GENDING-Jamaah haji asal Kabupaten Probolinggo datang ke tanah kelahiran tak bersamaan. Jamaah haji yang tergabung di kloter 27 tiba Rabu (5/9) sekira pukul 22.00. Sedangkan kloter 28 tiba Kamis pagi pukul 04.30.

Jamaah haji asal Kabupaten Probolinggo dijemput keluarga di miniatur Kakbah, Desa Curahsawo, Kecamatan Gending. Jamaah haji Kabupaten Probolinggo berjumlah 819 orang. Dengan rincian kloter 27 sebanyak 445 orang dan kloter 28 sebanyak 374 orang.

Awalnya calon jamaah haji yang diberangkatkan berjumlah 821 orang, namun satu orang jamaah haji dari kloter 28 dan satu orang dari koter 27 meninggal dunia di tanah suci. Yaitu, Yuli Muarrifah, warga Desa Sumberbulu, Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo, yang meninggal dunia pada 26 Agustus 2018 di Mina karena sakit ginjal.

Satu lagi adalah Supatri Sukri Akib, 56, warga Desa Sumberan, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo. Ia meninggal dunia Rabu (5/9) lalu di Makkah.

“Alhamdulillah, meninggalnya setelah melaksanakan rukun dan wajib haji,” terang anggota Komisi VIII DPR RI Hasan Aminuddin.

Supatri Sukri Akib, meninggal dunia di usia 56 tahun saat dirawat di rumah sakit Rabu (5/9) sekira pukul 12.20 waktu Arab Saudi. Saat itu Supatri Sukri Akib mau naik bus, tiba-tiba mengalami lemas dan sesak napas. Padahal, sebelumnya dalam keadaan sehat.

“Sempat ditunggu tiga jam oleh rombongan kloter 28. Karena kurang sehat ditinggal, sekitar tiga harian sakit,” terang Said Munir Ghozali, menantu Supatri. Berita meninggalnya sang mertua didapat dari KBIH IPHI Paiton pada Rabu lalu sekira pukul 23.00.

 

Pelayanan Lebih Baik

Hasan Aminuddin yang merupakan tim pengawas mengatakan, pelaksanaan pemberangkatan dan pemulangan haji tahun ini banyak kemajuan dan peningkatan kualitas. Di antaranya hotel atau maktab yang lebih nyaman.

Sarana lain berupa air minum dan makan tersedia dan cukup banyak. Begitupula sprei, handuk, sabun, dan sampo.

Politisi Partai Nasdem ini mengatakan, makanan tahun lalu bukan selera masyarakat Indonesia. Tahun ini makanannya selera Asia, lebih familiar di lidah jamaah Indonesia. Transportasi bus juga dilayani 24 jam tanpa melihat banyaknya yang akan ke Masjidilharam.

Sementara kekurangannya, yakni MCK di Arofah dan di Mina yang tidak imbang dengan jumlah jamaah. “Hal ini nanti menjadi masukan bagi Menteri Agama agar tahun depan MCK yang tersedia bisa lebih banyak,” terangnya.

Siti Kholifah, 42, jamaah asal Desa Tempuran, Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo mengaku bersyukur pelayanan pada jamaah terbilang baik. Mulai pelayanan kesehatan, makanan, dan sebagainya. “Puas dengan pelayanannya,” katanya. Pihaknya menyarankan pada tahun berikutnya jatah air Zam-zam bisa ditambah. (hil/rf/mie)