Petani Apel di Tutur Keluhkan Harga Anjlok saat Panen

TUTUR – Musim panen apel di pertengahan tahun ini dikeluhkan oleh petani apel di Kecamatan Tutur. Ini lantaran, harga buah apel anjlok hingga Rp 5-7 ribu perkilogramnya.

Turunnya harga apel ini diperkirakan maraknya panen buah lain dan buah impor. Selain itu tingginya kebutuhan lain membuat pembelian buah lokal juga turun.

Achmad Nur Huda, petani asal Nongkojajar, Tutur mengatakan turunnya harga apel sudah terasa sejak pertengahan bulan Agustus lalu. “Turun hingga Rp 5-7 ribu perkilonya, padahal harga normalnya Rp 10-11 ribu perkilo,” jelasnya.

Turunnya harga apel ini jelas membuat petani apel di Tutur menjadi merugi. Meskipun hasil panen bagus, murahnya harga apel jelas merugikan petani. Ini lantaran karena murah dan petani tidak bisa untung.

Hanya saja apel lokal tetap laris dijual meski harganya murah. Apel Nongkojajar sendiri dijual ke Batu sampai Jakarta dan Semarang.

“Harapannya ya ada pembatasan buah impor, sehingga buah dipasaran tidak melimpah dan saat pasokan apel lokal tinggi malah harganya anjlok,” jelasnya.

Heri Subhan, Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Tutur membenarkan bahwa harga Apel memang sudah terus bahkan sejak 3 bulan terakhir ini. “Awalnya karena anak sekolah, sehingga kebutuhan lebih diutamakan untuk anak masuk sekolah. Ditambah banyaknya bahan makanan yang naik sehingga kebutuhan untuk membeli buah dikesampingkan dahulu,” jelasnya.

Dijelaskan saat ini harga buah apel turun seharga Rp 8 ribu perkilonya, padahal biasanya seharga Rp 10-20 ribu perkilonya tergantung kualitas apel. Harapannya pemerintah bisa membatasi buah impor agar pasokan buah di pasar tidak terlalu banyak. Juga menstabilkan harga bahan makanan lainnya, sehingga masyarakat masih ada anggaran untuk membeli buah utamanya buah lokal. (eka/fun)