DAR

Ilustrasi: Achmad Syaifudin/Jawa Pos Radar Bromo

Related Post

Oleh: Niken Bayu Argaheni


DAR pada mulanya merasa nyaman sebagai seorang istri dari lelaki yang bernama Pur. Pur yang kekar, yang sehari-harinya mengurusi sawah di Desa Terban, melengkapi kesempurnaan Dar yang merupakan penayub tercantik Desa Terban. Dar yang kemayu, berparas kuning langsat dan menyimpan lesung di pipi ini selalu membuat banyak lelaki Desa Terban menjadi gugup ketika bertemu dengan Dar.

Dar tidak bisa membaca dan menulis. Dar tak membutuhkan keahlian tersebut dalam hidupnya. Yang terpenting pinggulnya bisa bergoyang dan bibirnya bisa tersenyum. Itu sudah cukup membuatnya mendapatkan upah.

Sedangkan Pur, bisa membaca dan menulis. Pur adalah anak seorang Lurah Terban, sehingga pendidikannya tercukupi hingga jenjang sekolah dasar. Sebagai seorang anak Lurah Terban, menikahi Dar adalah suatu penghinaan bagi keluarga Pur.

Sebab yang diharapkan oleh keluarga Pur adalah menantu yang berpendidikan tinggi dan tidak bekerja sebagai seorang penari tayub. Penari tayub adalah pekerjaan yang hina bagi keluarga Pur.

Penari tayub identik dengan pekerjaan kotor dan hina. Sebab, para penari tayub harus hidup dengan cara menggoyangkan pinggul. Kemudian pulang malam karena pertunjukan tayub digelar sampai tengah malam.

Hal tersebut yang membuat keluarga Pur menolak kehadiran Dar di rumahnya. Hingga sekarang, Pur diusir oleh keluarganya. Dia pun akhirnya bekerja sebagai orang yang menggarap sepetak sawah milik tetangganya.

Kehidupannya yang sederhana dan serba kekurangan bagi Pur bukan hambatan. Sebab, ia bekerja dengan setulus hati membiayai Dar yang sudah tidak menjadi penari tayub.

Dulu ketika tayub berjaya dimana Dar sebagai penari idola, setiap orang yang datang ke pertunjukan tayub selalu memberi Dar uang tambahan. Sebab, para lelaki ingin berjoget bersama Dar. Uang yang didapat Dar melebihi penghasilan Pur sebagai penggarap sawah milik tetangganya. Kejayaan masa lalu telah berubah, ketika Dar dan Pur menjadi semakin tua dan sakit-sakitan.

“Bagaimana nanti kita bisa makan kalau kita sudah tidak kuat bekerja keras seperti ini?”

Pur diam mendengarkan keluhan Dar di suatu sore ketika ia pulang dari sawah.

“Aku sudah tidak menari tayub, dan kau pun kepayahan bekerja di sawah.”

“Kita masih punya persediaan beras selama setahun, tak perlu kau khawatir.” Pur menyahut obrolan sambil meletakkan cangkul yang ia bawa di dekat sapu lidi.

“Itu hanya setahun, lalu setahun berikutnya? Kita sudah semakin tua. Siapa yang akan merawat kita nanti kalau bukan kita sendiri yang menabung. Kita juga tak punya anak.”

“Aku masih bekerja sebagai penggarap sawah.”

“Aku lihat tetangga kita semakin laris berjualan di rumahnya. Aku ingin berjualan saja karena aku yakin masih mampu berjualan.” Dar mulai merengek kepada Pur.

“Kau tidak bisa baca tulis. Bagaimana bisa menghitung keuntungan? Bisa bisa rugi semua.” Pur mengalihkan pandangannya.

“Kau yang membacakannya untukku. Aku hanya membantu berjualan ketika kau pulang dari sawah.”

“Aku terlalu capek jika harus berjualan di sore hari dan menggarap sawah di pagi hari. Belajarlah membaca dan menulis mulai sekarang jika ingin buka toko.”

“Aku sudah tua, mana aku bisa belajar membaca dan menulis. Tidakkah kau lihat tanganku sudah keriput dan rambutku beruban. Bagaimana bisa aku belajar jika pikiran saja banyak lupa. “ Dar mengomel.

“Lalu bagaimana toko ini nanti bisa berjalan dengan baik jika kau sendiri tak bisa membaca dan menulis. Itu artinya kau tak bisa menghitung juga. Toko  akan cepat bangkrut jika kau tidak pintar mengenal huruf. Kau akan dibodohi para pembeli nantinya.“

Dar hening beberapa saat. Ia pun beranjak menuju kamarnya tak menanggapi Pur yang berapi-api. Ia merasa tidak mampu mempelajari huruf-huruf itu karena usianya sudah tua dan pikirannya banyak yang lupa. Dari dalam kamar, Dar menyahut Pur, “Berasnya kita jual setengah untuk membuka toko. Bagaimana?”

“Toko mudah saja dibuka asal kau mau belajar membaca dan menulis.” Pur menyahut. Pur yang kesal pun meninggalkan rumah dan mencari angin di luar.

Dar menangis sesenggukan di dalam kamar mendapati dirinya menjadi tua dan tak bisa berguna lagi. Ia lalu membuka-buka lemari mencari kesibukan agar kesedihannya hilang. Ia menata-nata baju di dalam lemari.

Di dalam laci milik Pur, ia mendapati sepucuk amplop yang harum berwarna merah muda. Ia membuka amplop tersebut yang berisi sebuah surat. Sayangnya, Dar tak bisa membaca isi dari amplop tersebut. Kesedihan semakin meliputi perasaan Dar yang rapuh. “Apa aku tak cantik lagi? Apa ia punya selingkuhan di luar rumah ini? Apa karena aku sudah tidak berguna hingga ia berkhusyuk masyuk dengan wanita lain?”

Dar penasaran dengan isi surat tersebut. Ia ingin sekali tahu apa isinya. Tapi ia malu kalau harus meminta bantuan tetangganya yang bisa membaca dan menulis. Ia malu kalau aib rumah tangganya terbongkar di hadapan para tetangganya yang suka menggosip.

Lagipula, ia sudah tua dan Pur juga sudah tua, jadi ia semakin malu karena harga dirinya sebagai wanita terusik jika memang itu surat cinta. Ia tak punya ide apapun untuk menutupi rasa penasarannya. Ia yakin itu surat cinta. Tapi dari siapa? Darimana surat itu datang? Perasaan-perasaan itu semakin membuat pikirannya pusing.

Dar mulai tidak doyan makan memikirkan surat tersebut. Surat itu ia sembunyikan di bawah kolong tempat tidur agar tidak ketahuan Pur. Ia berencana untuk membaca isi surat tersebut, entah bagaimana caranya.

Satu-satunya jalan, ia harus belajar membaca dan menulis agar ia mengetahui isi surat tersebut. Ia malu bukan kepalang jika disuruh belajar membaca. Namun ia memutuskan untuk melaksanakan niatnya tersebut karena ia ingin tahu isi surat tersebut. Lagipula, mereka berdua berencana membuka toko, jadi tak ada salahnya Dar mempelajari baca tulis.

Tiap Pur kembali dari sawah, Dar menyambutnya dengan senyuman manis dan tenang lebih dari hari-hari biasanya. Ia membuatkan Pur teh manis dan camilan sederhana yang membuat Pur bertanya-tanya mengapa Dar berubah perilakunya. Dar tersenyum simpul, “Ini karena aku belajar baca tulis.”

“Kau mau belajar akhirnya?” Pur terheran-heran.

“Iya, aku mau. Dulu aku bodoh dan tak menuruti nasehatmu. Aku rasa, tak ada salahnya aku belajar baca tulis agar nanti kita bisa membuka toko.”

“Ya, aku senang mendengarnya. Mulai besok tiap aku pulang dari sawah, aku ajari kau baca tulis.”

Dar tersenyum bahagia mendengar Pur yang mau mengajarinya. Ia membayangkan nanti setelah bisa baca tulis, maka ia bisa mengetahui isi surat itu. Ia menunggu waktu itu tiba.

Dengan tekun, tiap hari ia menunggu Pur sehabis pulang dari sawah untuk mengajarinya. Dar yang rajin mempelajari baca tulis, akhirnya bisa membaca kata per kata sehingga bisa menjadi kalimat yang utuh. Pur bahagia melihat perkembangan ini. Ketika Pur pergi ke sawah, Dar pun membuka surat beramplop merah muda itu. Ia membacanya dengan lantang,

Purwokerto, 3 September 1981
Kepada Darwati,
Wajahmu seperti bulan yang menghiasi malamku.
Aku mencintaimu.
Dari Purwanto

Selesai membaca surat tersebut, Dar menangis sesenggukan. Air matanya membasahi surat yang ia baca. Surat itu sudah lama ditulis oleh Pur untuk Dar, namun karena ia tak bisa membaca, akhirnya Pur hanya menyimpannya sendiri. Ia menyesal karena telah menuduh Pur berselingkuh. (*)


*) Menyelesaikan pendidikan sarjana di Universitas Sebelas Maret dan pascasarjana dari Universitas Padjadjaran Bandung