Ini Kunci Rindi Sufriyanto Raih Emas Asian Games 2018

PEKERJA KERAS: Rindi Sufriyanto (tengah) dan Iwan Rosyidi (kanan) berpose bareng pemred Radar Bromo, Radfan Faisal (dua dari kiri) dan penanggung jawab radarbromo.co.id Muhammad Fahmi (dua dari kanan) di depan kantor Radar Bromo. (Muhammad Hasan/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

Latihan keras selama 1,5 tahun terbayar maksimal. Medali emas yang diraih Rindi Sufriyanto cs dalam nomor Asian Games menjadi bukti, bahwa proses tidak akan mengkhianati hasil. Kini, ia tak bisa berlarut-larut dalam euforia kemenangan. Karena alumni SMK Negeri 2 itu harus menatap Olimpiade Tokyo 2020.

RIDHOWATI SAPUTRI, Probolinggo

SENYUM EMAS: Selebrasi Rindi Sufriyanto usai meraih emas Asian Games 2018. (INASGOC)

Banyak perbedaan dari Rindi Sufriyanto dibanding masih menjalani latihan di Kota Probolinggo beberapa tahun silam. Selain badannya yang makin kekar, kini pria kelahiran 15 Mei 1991 itu lebih komunikatif. Berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Dimana ia masih malu-malu jika diajak bicara.

Hal itu terlihat saat Rindi yang didampingi Ketua Harian FPTI Kota Probolinggo Iwan Rosyidi berkunjung ke kantor Jawa Pos Radar Bromo, Jumat (31/8). “Baru hari ini pulang, langsung saya ajak keliling,” kata Iwan Rosyidi.

Rindi yang mengenakan kaus timnas berwarna merah, kemudian ikut berbicara. Ia juga menunjukkan medali emas yang diraihnya di kelas men’s speed of relay bersama ketiga rekannya. “Ini jawaban atas kerja keras kami selama latihan,” katanya bangga.

Perjuangan Rindi memang tidak mudah. Ia mulai menjalani pemusatan latihan sejak 2017 lalu. Total butuh waktu 1,5 tahun baginya untuk menjalani training camp. Tidak hanya di dalam negeri, ia juga menjalani pemusatan latihan di Moskow, Rusia dan China.

“Tahun 2017 saya menjalani pemusatan latihan di Rusia,” katanya. Suhu minus 24 derajat menjadi kendala tersendiri bagi dia dan teman-temannya. Padahal, pemusatan latihan dilakukan di dalam ruangan, namun suhu dingin tetap menusuk tulangnya. “Harus pakai sarung tangan dan baju dobel,” imbuhnya.

Meski latihan dilaluinya dengan tidak mudah, Rindi mengaku hal itu menjadi bagian dari sebuah perjuangan. Setelah menjalani latihan di Rusia, Rindi sempat pulang ke Indonesia untuk melaksanakan ibadah umrah bersama orang tuanya. Setelah umrah, dia kembali lagi ke Moskow.

“Karena umrah, di Rusia saya tidak ikut world cup series. Saya baru ikut world cup series ketika di China,” katanya. Ya, setelah selesai menjalani pemusatan latihan di Rusia, ia melanjutkan rangkaian latihan di China. Meski gagal meraih nomor, namun Rindi tidak patah semangat.

Latihan keras di dua negara itu, menurut Rindi, menambah kekuatan di mental dan fisiknya. “Terutama dari sisi mental maupun psikologi. Dengan jam terbang yang tinggi, bisa menghindari nervous. Beda halnya kalau latihan saja tanpa bertanding,” ujarnya.

Rindi mengungkapkan, meski telah mengikuti pemusatan latihan, belum berarti namanya aman. Ia baru mengetahui jika namanya terpilih dalam tim hanya 15 menit sebelum karantina, yang dilakukan di kompleks Jakabaring Sport City, Palembang, Sumatera Selatan.

“Ada dua tim dari Indonesia. Saya masuk tim Indonesia 2,” katanya. Ketika namanya masuk dalam tim Indonesia 2, Rindi sangat bersyukur. Dalam benaknya, ini saat yang tepat baginya untuk memberikan bukti. “Saatnya membuktikan hasil dari kerja keras selama latihan. Babak belur, air mata, semuanya jadi taruhan,” jelasnya.

Saat memastikan lolos ke babak final melawan tim Indonesia 1, Rindi berusaha tetap tenang. Sampai akhirnya, ia menjadi kunci kemenangan Indonesia 2. Saat itu, pelatih meminta semua pemain untuk fokus memenangkan pertandingan. “Jangan peduli tim 1 atau 2, semuanya berhak jadi juara,” katanya. (rf/mie)