Kemiskinan yang Tergadaikan

Ilustrasi (Abdul Wahid/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

Oleh: Ardani HK


PLASTIK hitam berisi beras dan minyak goreng itu tetap teronggok di belakang pintu. Di sampingnya, ada sekilo telur ayam. Mamak terus menatap kedua bungkusan tersebut, dan menggenggam erat sebuah amplop. Aku tak berani melihat matanya yang mengkilat marah. Lebih baik aku ke belakang, hendak ke ladang.

Ah, sebenarnya tanah ini tak pantas disebut ladang. Luasnya tak seperti petakan tanah milik Wak Dar atau yang lain. Ladang ini hanya terisi sekitar dua puluh pohon ketela saja. Meski begitu, ketela-ketela ini salah satu urat nadi tungku dapur. Ketela ini bakal dijual, lalu dirupiahkan dalam bentuk beras dan bumbu dapur.

Belum sempat memanen umbi-umbian ini, aku lihat ladang peninggalan Uwa’ berantakan. Ketela-ketela terserabut keluar. Sepertinya, sekawan kera menyerbu ladang semalam. Aku hanya tertegun melihat dedaunan ini. Sedang Mamak yang baru menyusul, tak kalah miris saat mendekati ladang dan yang tersisa hanya berupa dedaun saja.

“Duhai nasib kita, Mak. Sudah miskin masih dirundung takdir buruk pula,” ucapku tak kuat menahan amuk marah.

“Kau hendak marah kepada siapa, Har? Pada Lah Ta’ala? Dia telah memberi kita banyak nikmat. Tak usah kau marah apalagi menggugat. Pergilah ke rumah Wak Talwi! Tembakau baru saja datang.”

Tatapanku tak pindah dari daun-daun ketela. Bisa-bisanya para kera itu menyerbu tanaman yang kurawat seakan merawat anak sendiri.

“Pergilah! Tak usah risau begitu.”

Mamak menatapku lekat. Aku memandangnya sesaat. Aku tahu, beras, lauk, bahkan sekadar bawang putih saja, Mamak tak punya. Kebutuhan di dapur sudah habis semalam. Tersisa dua bungkus bahan pokok di belakang pintu itu saja.

Aku yang setengah berlari menuju rumah Wak Talwi, tersenyum getir mendapati tumpukan tembakau dengan puluhan pekerja. Aku kalah cepat dan aku kalah tua dibandingkan mereka.

“Anak kecil sepertimu, mana bisa memilih dan memilah tembakau?” ujar Wak Talwi berdecak pinggang.

“Tolonglah, Wak. Ketela di ladang habis dimakan kera. Kami tak punya uang buat beli beras.”

Wak Talwi memandang sebentar, sebelum akhirnya memberiku tugas mengangkut tumpukan tembakau dan menyalurkan kepada mereka yang bertugas memilah tembakau. Tetapi dasar aku yang berusia belasan tahun, tentu pekerjaanku tak memuskan Wak Talwi.

Katanya, mengangkut tembakau tak boleh sembarangan. Bisa-bisa, urat-urat tembakau putus kalau aku salah memanggul. Lelaki beristri dua itu akhirnya memanggil, dan menyuruh pulang usai menyerahkan uang beberapa ribu. Kendati begitu, aku mengucap terima kasih dan bergegas menuju warung Miryah.

Namun, bibirku bergetar saat melihat upah ini. Uang yang kuterima, nyatanya tak cukup untuk sekadar seliter beras. Tuhan sepertinya benar-benar ingin menguji. Meski Mamak selalu bilang, orang kecil macamku ini dilarang menangis, kali ini aku ingin menangis. Rasa-rasanya, tak kuat aku menjalani hidup berjurang kemelaratan begini.

“Mamakmu itu sudah punya utang berjibun, dan kau malah beli beras lima ribu? Kau buta huruf apa mau nipu?” urat-urat leher Miryah terlihat jelas. Aku memaklumi, bagaimana pemilik warung ini mengomel seperti ini.

“Kali ini saja. Sedikit pun tak apa.”

“Tak bisa. Utang mamakmu jauh lebih banyak.”

Aku pasrah. Upah dari mengangkut tembakau itu, tak bisa ditukar dengan beras. Miryah hanya mengambil uangnya, tanpa memberikan beras. Aku yang kepalang tanggung ingin mencak-mencak, masih mengingat nasehat Mamak yang menyuruhku bersabar. Segera aku pulang, dan kutumpahkan semuanya pada perempuan tua itu.

“Kenapa kita tak bisa kaya, Mak? Apa kita tak bisa senang sebentar saja?”

“Sabar, Har. Lah Ta’ala sedang menguji kita.”

“Dari dulu Mamak selalu bilang begitu. Lantas, mengapa kita tak pakai beras itu saja?”

“Jangan kau sebut beras dan yang lain itu. Pergilah ke sungai! Mandi dan lekaslah ke masjid. Lelaki tak pantas berdiam diri di rumah saat Jumat.”

Sebetulnya aku tak benar-benar ingin salat Jumat. Aku merasa sudah muak menjalani hidup. Namun, demi menghargai perempuan yang melahirkanku ke bumi itu, aku tetap pergi ke masjid. Mendengarkan ceramah yang isinya jauh dari khutbah keagamaan. Malah berisi perintah agar memilih salah satu pasangan calon bupati yang kulihat wajahnya di baliho-baliho kampung.

Usai menunaikan salat Jumat, setiap lelaki diberi sebungkus beras, telur dan mi instan. Ditambah sebuah amplop putih berisi uang. Aku yang gemetar menerima semuanya, berjalan pelan ke rumah. Aku tak tahu, apa yang bakal diucapkan Mamak sebentar lagi, tetapi aku sudah tahu, mimik muka apa yang bakal dipasang Mamak saat mendapatiku menenteng bungkusan ini.

Betul saja. Sesampai di rumah dan belum kutaruh bungkusan beserta sejadah, Mamak berdiri di depan pintu.

“Tadi ada yang bagi-bagi rezeki di masjid, Mak. Semua lelaki dapat ini,” sengaja aku menjelaskan dulu, berjaga-jaga agar Mamak tak langsung marah.

“Kembalikan!”

“Semua dapat, Mak. Lagipula ini rezeki kita.”

“Kembalikan atau aku larang kau pulang ke rumah!”

“Mamak ini bagaimana? Tidakkah Mamak lihat ini semua adalah kebutuhan kita? Mau makan apa kita, Mak, sedangkan ketela ludes dimakan kera? Miryah pun tak mau beri kita beras.”

Mamak bertolak ke belakang pintu. Mengambil dan menenteng kedua bungkusan, lalu menyuruhku berjalan ke masjid. Mamak berjalan cepat dan sesekali menengokku yang ada di belakang. Baru sampai di gerbang masjid, para lelaki berpakaian serba putih ditemani Wak Talwi dan yang lain, menatap Mamak keheranan.

“Aku kemari untuk mengembalikan ini semua. Kami tak butuh beras, telur, mi dan uang.”

“Hey, Misni. Lancang sekali kau mengembalikan semua ini. Bukankah kau butuh beras?” Wak Talwi mendekat ke arah Mamak yang sama sekali tak kulihat wajahnya bergetar. Bahkan dengan tenang ia membalas ucapan Wak Talwi.

“Aku seorang Ibu. Aku yang melahirkan Ehar ke muka bumi. Aku tak mau memberinya makan dari barang haram. Aku tak mau dalam tubuhnya mengalir darah setan.”

“Haram dari mana? Hati-hatilah dengan mulutmu itu.”

“Kau kira, dengan memberi bungkusan ini, diri Ehar dan aku tak tergadaikan? Bukankah, aku harus memilih pasangan yang kalian usung? Harus mencoblos orang demi suaraku ini? Dengar, Wi. Aku memang miskin harta, tapi aku tak miskin Lah Ta’ala. Bisa-bisanya kalian membagikan uang dan bungkusan, seakan-akan suaraku hanya dihargai sebungkus beras ini. Kau tahu, Wi. Aku tak lagi percaya kepada siapapun yang bakal jadi bupati. Mereka hanya berani janji dan lupa saat terpilih. Munafik!”

Wak Talwi terdiam. Begitupula dengan yang lain, hanya memandang Mamak dengan diam. Mamak pun menyuruhku menyerahkan amplop yang ada di saku. Kini, aku mengerti mengapa Mamak begitu marah mendapati bungkusan itu. Aku juga tak lagi ragu menyerahkan amplop pada seorang lelaki yang mengenakan baju berlambang salah satu partai.

Lantas Mamak cepat-cepat mengapit lenganku, mengajak pulang. “Tenanglah, Har. Kita masih punya sebiji ketela dan Lah Ta’ala.” (*)


Penulis tinggal di Jember, Jawa Timur