Capek Kerja, Hanya Layani Urusan Ranjang Suami saat Liburan

REMBANG – Karena sama-sama sibuk bekerja, hubungan pasangan suami-istri (pasutri) Tole, 35 dan Minthul, 35, (nama samaran) menjadi terbatas. Apalagi Minthul yang sering mengeluh kecapekan kerja, sehingga menolak ajakan main di ranjang. Belakangan, kondisi itu membuat rumah tangga mereka tidak harmonis.

Tole bukannya tak mau mengerti kondisi istrinya. Namun, sudah 2 tahun ini hubungan pasutri yang tinggal di Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, ini tidak hangat. “Padahal, bagi saya laki-laki, itu sudah menjadi kebutuhan juga. Kalau sering ditolak istri kan lama-lama bikin pusing juga,” jelasnya.

Pernikahan mereka yang sudah berjalan hampir 10 tahun itu, sudah menghasilkan 2 anak. Sebelumnya, memang hanya Tole yang bekerja sebagai buruh pabrik. Sedangkan Minthul menjadi ibu rumah tangga. Keuntungannya, Minthul fokus merawat anak dan rumah.

Sebelum menikah, Minthul juga sempat bekerja sebagai buruh pabrik. “Tapi setelah menikah, dia langsung hamil. Ya sudah saya suruh berhenti kerja saja. Biar urusan duit saya yang cari,” ujarnya.

Ternyata, rentang waktu kehamilan anak pertama dan kedua berdekatan. Hal itu berdampak pada kebutuhan hidup yang semakin tinggi. Hasil kerja Tole sangat pas-pasan jika untuk menghidupi keluarga kecil tersebut. Karenanya, pasutri ini seringkali cekcok soal masalah ekonomi.

Bahkan, persoalan ini sempat meruncing. Beruntung, niat bercerai berhasil mereka redam. Namun, persoalan biaya hidup belum selesai. Mereka banyak menanggung utang ketika gaji yang didapat Tole tak mencukupi kebutuhan hidup. Karena itulah, keduanya sepakat tak mau menambah anak lagi.

“Katanya gak mau hamil lagi. Karena bakal susah membesarkan anak dengan kondisi ekonomi yang sekarang. Terus dia bilang mau kerja lagi. Biar ada tabungan buat hidup mandiri dan gak tergantung sama mertua,” jelasnya.

Keinginan Minthul untuk kembali bekerja sempat membuat Tole bimbang. Bagaimana pun ia butuh Minthul untuk ngurus anak dan rumah. Tapi, karena kebutuhan ekonomi tak bisa ditawar-tawar lagi, akhirnya Tole merelakan Minthul untuk kembali bekerja. Untungnya, sang istri tak kesulitan mendapat kerja karena punya jaringan yang luas.

Selama Tole dan Minthul bekerja, kedua buah hati mereka diasuh ibu Tole. Minthul memang kerja dari pagi hingga hampir petang. Ia hanya membantu sedikit saja urusan rumah. Tapi, yang dipersoalkan Tole justru bukan itu. Semenjak bekerja, Minthul sering menolak ajakan untuk berhubungan. “Alasannya selalu capek. Apalagi kalau lembur. Baru kalau libur mau mesra-mesraan, itu pun terpaksa,” jelasnya.

“Jadi, dia jadi cuek sama saya. Mungkin karena sudah punya duit sendiri. Dia juga sering membentak saya. Susah dikasih tahu,” jelasnya. Tentu saja hal itu membuat Tole meradang. Persoalan ekonomi memang bisa teratasi, namun justru muncul persoalan lain yang tak kalah pelik. Bayang-bayang perceraian pun kembali muncul di benak keduanya. Terlebih Minthul tak lagi menaruh hormat padanya. (eka/rf/mie)