Mbok Sumber

MBOK Sumber masih bisa merasakan bagaimana ketika desiran-desiran hangat itu tiba-tiba muncul lalu merambat ke sekujur tubuhnya. Dadanya bahkan berdetak keras ketika telinganya menangkap suara erangan lirih dari kamar sebelah yang timbul tenggelam di tengah heningnya malam. Kamar anak keempatnya, pengantin baru.

* * *

Mulanya suara itu hanya seperti keresek hewan ternak yang tengah merumput di rerimbun pohon pisang. Sebelum kemudian terdengar cekikikan yang berganti-ganti, hingga kemudian tiba-tiba saja mereka bubar melarikan diri, sebelum sebuah amarah sampai di tempat persembunyian yang mudah ditemukan mata tersebut.

“Apa Emak tahu apa yang barusan anak-anak itu lakukan?” terdengar tak suka.

Yang mendapatkan teguran melengos tak suka. Dengan bantuan sebuah kaca rias mini, masih berusaha mencabuti uban yang tertangkap mata. Tubuhnya yang berpinjung handuk tampak begitu sintal dan berisi.

“Memangnya ada apa?” tapi akhirnya terhenti dari aktivitas menyisirnya.

“Apa aku harus melaporkan kepada orangtua mereka?”

“Lha memangnya ada apa?”

“Apa kalau yang mengintip itu tadi Pak Kasmadi, baru dilaporkan, begitu?”

Mbok Sumber menghela napas panjang, menoleh ke arah anaknya sebentar, sebelum mengambil cermin riasnya dan beranjak ke dalam rumah tanpa sepatah kata. Mandi.

* * *

“Gunawan, Mbok. Gunawan yang kemarin mengintipmu. Ada panunya, Mbok, katanya…” yang lalu disusul tawa kawan-kawannya.

Kerumunan itu terdengar riuh sekali. Di tengahnya, Mbok Sumber terlihat sibuk sekali membuatkan nasi pincuk untuk para pelanggan kecilnya.

“Kalau suka mengintip orang, tak doakan timbilen kau nanti.”

Beberapa anak terbahak lagi mendengar perkataan itu, hingga memanggil perhatian anak-anak dalam kerumunan lainnya.

“Hukum, Mbok, hukum, biar kapok. Gugun tonggos memang nakal. Hukum, Mbok,” keriuhan masih berlanjut. Memaksa anak-anak yang terpancing rasa penasaran segera mendekat.

Mbok Sumber melambaikan tangan kanan di sesela kesibukannya. Gunawan yang sempat menolak akhirnya tak berkutik setelah diseret beberapa kawannya untuk mendekat.

“Hukumannya apa, Mbok?” anak-anak yang lain terus saja memanas-manasi.

Mbok Sumber buru-buru mengulurkan satu kantong plastik hitam berisi dua bungkus nasi janganan.

“Antarkan itu ke rumahnya Pak Kasmadi. Kalau orangnya tak ada, letakkan saja di meja ruang tamunya. Itu hukumanmu, mengerti?” perintah Mbok Sumber kemudian.

Bocah itu sempat ragu dan hampir melarikan diri sebelum Mbok Sumber mengacungkan tangan kiri dan kawan-kawannya menahan langkahnya.

“Ayo, Gun, aku temani. Keburu masuk kelas,” bujuk salah seorang kawannya.

“Iya. Kamu kemarin kan ikut mengintip!”

* * *

Dalam tempias lampu pinggir jalan, kecemasan di wajah Mbok Sumber terlihat begitu jelas. Entah sudah berapa ekor nyamuk yang terbunuh oleh tangan Mbok Sumber dalam penantian itu. Gelisah, lantaran sebentar lagi azan Isya akan berkumandang, dan orang-orang akan lewat lagi di pinggir pekarangan Mbah Mus itu.

Mbok Sumber tersentak ketika sebuah tangan tiba-tiba saja menemukan bahunya dari belakang.

“Kasmadi enggak bakalan datang,” suara bariton itu ternyata Pak Darju.

Mbok Sumber terserang kikuk. Kalimat basa-basi pun ia jadikan penutup.

“Tak usah bicara ngalor-ngidul kalau sama aku. Istrinya Kasmadi sekarang sedang ngelarani . Entah sampai kapan. Bisa jadi besok, bisa juga sebulan baru mati. Jadi jangan harap bisa bebas ketemuan lagi dengannya,” Pak Darju mendekat. Hingga hanya jarak satu langkah.

Mbok Sumber masih berusaha mengalihkan pembicaraan ke arah isu-isu desa yang ia dapat dari para pelanggannya. Tapi ia kemudian duduk di sebuah batang waru yang rebah tak jauh dari tempat mereka.

Pak Darju tersenyum ketika mengikuti Mbok Sumber duduk di batang kayu itu. Ia mulai menanyakan kabar beberapa kerabat Mbok sumber, sambil sesekali bercerita mengenai kerabatnya sendiri, dan lalu cerita kesehariannya sebagai pembuat batu bata yang masih punya nama. Jelas jauh jika dibandingkan dhokar Pak Kasmadi yang harus terengah-engah di tengah melimpahnya jasa ojek motor dan bentor.

“Jadi, daripada Kasmadi, masih lebih baik diriku, mengerti?” menatap Mbok Sumber penuh arti. “Jadi, kapan aku boleh datang ke…”

Kalimat itu terpotong oleh sebuah sandal jepit yang tiba-tiba saja mendarat di pangkuan Pak Darju setelah telak menghantam dadanya. Lelaki berumur itu pun terburu-buru berdiri, mencari sosok perusak kebahagiaannya.

“Aris, kamu itu ngapain?” Mbok Sumber juga terlihat syok. Rona merah yang menjalari wajahnya tertutupi oleh bayang pohon kelapa di pekarangan itu.

“Pulang!” kedua mata pemuda itu nyalang memandang emaknya.

“Orang-orang bisa dengar,” mendekat ke arah anak bungsunya setelah mengambil sandal yang melayang tadi.

“Kalau kau tak cepat pulang, aku akan teriak ada maling di sini!”

Tanpa menunggu aba-aba lagi, Mbok Sumber langsung meninggalkan tempatnya.

“Dan kau, awas kalau kau berani datang ke rumah. Apa kau kira aku enggak berani mengusirmu?” matanya berkilat menatap Pak Darju yang masih mematung di tempat.

* * *

Kecap-kecap bibir nan riuh itu seperti tengah menikmati tempat berlabuh. Ada bisik-bisik pula yang seolah ingin sembunyi di sesela heningnya malam. Gesekan-gesekan halus. Ranjang berdecit. Ada yang terengah di kamar sebelah.

Mbok Sumber masih bisa merasakan bagaimana ketika desiran-desiran hangat itu tiba-tiba muncul lalu merambat ke sekujur tubuhnya. Dadanya bahkan berdetak keras ketika telinganya menangkap suara erangan lirih dari kamar sebelah yang timbul tenggelam di tengah heningnya malam.

Tak tahan lagi dengan gelombang yang bergejolak dalam dada, Mbok sumber bangkit ke arah kaca lemari. Ia berdiri di hadapan bayangannya sendiri sekarang.

Tapi ajaibnya bayangan itu tampak lebih muda darinya, tanpa uban, tanpa kerutan-kerutan kulit di sekitar mata dan mulut. Bahkan wajahnya tampak lebih bahagia darinya (ia baru sadar bahwa bahagia tidaknya seseorang bisa dibaca melalui ekspresi wajah).

Mbok Sumber senang sekali ketika tiba-tiba bisa melihat kembali kebahagiaan di masa mudanya. Lihatlah, perempuan muda itu hampir senantiasa tersenyum setelah mendapatkan pinangan dari seorang lelaki bernama Margono. Seorang lelaki berumur yang tak peduli latar belakang kemiskinannya. Tak peduli cibiran, sindiran, dan kesinisan orang-orang dusun.

“Paling, lantaran sawahnya yang luas itu…”

“Padahal anak-anaknya enggak suka, kan?”

“Yang nikah kan emaknya, bukan anaknya…”

“Kalau sudah punya banyak anak, nanti juga akan ngembo sendiri…”

Suara-suara bernada miring dan perasaan-perasaan negatif itu pada akhirnya memang hilang dengan sendirinya tatkala anak pertama hingga anak kelima lahir. Hanya butuh Sembilan tahun, Sumber muda sudah harus mengasuh empat anak perempuan dan satu anak laki-laki di saat teman-teman sebayanya masih asyik berpacar-pacaran di kampus biru atau tenggelam dalam dunia kerja.

Sumber sudah pandai mengolah perasaan di tengah-tengah keluarga besar suaminya. Di saat teman-teman sebayanya bermain-main dalam kata cinta, Sumber sudah harus bisa memanfaatkan peluang-peluang yang tercipta akibat jerat perasaan itu demi untuk bertahan dan menikmati hidup.

Dulu, Sumber begitu lihai dalam mengatasi semua itu. Di atas ranjang inilah, di sesela dengus hasrat lelaki yang sepantasnya menjadi bapaknya, rencana-rencana untuk menghadapi segala siasat anak-anak tirinya terbangun secara runtut dan kuat.

Bahkan hingga detik ini, ketika jasad suaminya itu sudah tak ada, keterampilannya beradaptasi dan berkomunikasi di tengah-tengah keluarga besar yang tak sepenuhnya terima dengan kehadirannya, sudah dan masih ia kuasai dengan cakap.

Tapi, ranjang ini pula yang melemparkan Sumber pada tataran kenyataan lain. Terlebih seperti sekarang, ketika suara-suara dari kamar anak bungsunya mampu membangkitkan apa-apa yang kemarin hampir terkubur bersama kematian suami pertama yang menikahinya pada umur 45 itu.

“Emak sudah tua. Cucu Emak sudah berapa itu, coba hitung,” suara anak lelakinya mengiang. “Coba malulah dengan omongan orang-orang nanti,” begitulah rasa keberatan anaknya—yang harus ia tanggung.

Dan setiap kali malam membentangkan kesenyapan seperti sekarang, Sumber begitu terdera kesepian. Membuat wajahnya cepat menua. Padahal teman-teman sepantarannya belum ada yang menimang cucu sebanyak dirinya (enam belas cucu dari empat anak tiri). Padahal ketika kerut di sekitar mata dan bibir ia tutupi dengan bedak, masih nyata benar kecantikannya…

“Emak mau ke mana itu?”

“Mau nyumbang ke rumahnya Pak RT,” merapikan kerudung renda warna putih gading tanpa menoleh.

“Kok dandannya sampai kayak biduan, begitu?”

Menghela napas pendek, sebelum mendekati anak lanangnya itu. “Aku tahu yang kau permasalahkan sebenarnya bukan dandananku ini,” lalu duduk di kursi dekat anaknya. “Dengar, apa salahnya jika Emak menikah lagi? Toh kalian sudah besar-besar, dan sibuk dengan urusan masing-masing.”

“Malu lah dengan anak-anak tirimu, Mak. Kau lihat itu Bulik Mariati dan Mbak Mariatun yang bahkan tidak menikah lagi setelah suaminya meninggal. Apa Emak tak malu jika dibilang sedia pernikahanmu dengan Bapak, dulu, hanya lantaran harta dan takut tak laku? Ingatlah masa lalu Emak dulu. Ini bisa dijadikan bahan olok-olok anak-anak tercintamu itu, mengerti?”

“Siapa yang bilang begitu?”

“Banyak. Emak kan jualan keliling, masak enggak pernah dengar dan merasa?”

Kedua mata Mbok Sumber tiba-tiba berkaca-kaca. Tapi sebelum kaca-kaca itu meleleh, ia pun buru-buru menghapusnya. Aneh saja rasanya. Bagaimana sebongkah batu bisa memiliki perasaan?*

 

Oleh: Adi Zamzam
Banyuputih, Kalinyamatan – Jepara 2017