Petani Keluhkan Rendahnya Harga Gula, Minta Pemerintah Stop Raw Sugar

PASURUAN- Rendahnya harga gula di pasaran dikeluhkan petani tebu di Jawa Timur. Sebab, banyaknya gula yang beredar di pasaran saat ini merupakan gula rafinasi yang digunakan oleh sejumlah pabrik gula swasta.

Karenanya, para petani yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) mendesak pemerintah menghentikan impor gula rafinasi. Kemarin (9/8), hal itu diungkapkan Koordinator APTRI Jawa Timur A Mawardi.

“Kami mengapresiasi pemerintah melalui Bulog yang telah menetapkan harga pembelian gula Rp 9.700 per kilogram. Namun, persoalannya harga gula di pasaran saat ini tidak naik. Justru di bawah Rp 9.700 per kilogram,” ujarnya dalam rapat bersama pengurus APTRI dari 16 daerah di Pabrik Gula Kedawoeng, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan, Kamis.

Menurut Mawardi, kondisi ini disebabkan penggunaan bahan baku raw sugar atau gula rafinasi yang diimpor pabrik gula swasta. Sehingga, biaya produksi yang dikeluarkan pabrik gula swasta lebih murah. Sedangkan, pemerintah menetapkan harga pokok produksi Rp 9.100 per kilogram dan harga pembelian Rp 9.700 per kilogram. Sedangkan, harga eceran tertinggi Rp 12.500 per kilogram.

“Kami berharap pemerintah bisa membuat regulasi yang mengatur penjualan gula, baik dari PG swasta maupun BUMN sesuai harga yang telah ditetapkan. Sehingga, stabilitas harga di pasaran normal,” ujarnya.

Selain itu, Mawardi juga berharap pemerintah dapat mengambil langkah tegas terhadap peredaran gula rafinasi. Menurutnya, rendahnya harga gula rafinasi di pasaran tidak hanya mengacaukan stabilitas harga. Tapi, juga berdampak pada para petani tebu karena tidak berdayanya pabrik gula milik pemerintah.

Ia mengatakan, kondisi ini dapat menjadi ancaman kebangkrutan masal yang akan dialami petani tebu. “Setidaknya, pemerintah bisa membatasi atau melarang peredaran gula berbahan baku raw sugar sampai selesainya masa giling dari pabrik gula BUMN. Sehingga, gula milik petani bisa terserap di pasaran,” ujarnya. (tom/fun)