Ini yang Dilakukan Nelayan Probolinggo Ketika Musim Angin Kencang

BEBERAPA pekan ini cuaca di Probolinggo sedikit ekstrem. Angin kencang berhembus terkadang semriwing menusuk ke tulang. Situasi ini juga dihadapi oleh para nelayan di Probolinggo.

—————-

Desir ombak di laut Probolinggo, sore itu cukup kencang. Ini ditandai dengan gelombang yang cukup tinggi. Bahkan saat menuju Pelabuhan Tanjung Tembaga, di Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, banyak perahu maupun kapal yang memilih bersandar.

Sejumlah nelayan maupun pemilik perahu mengaku, mereka memilih tidak melaut lantaran takut. Cuaca ekstrem yang lebih sering terjadi saat Agustus ini, menjadi alasannya. Apalagi, mereka juga sudah mendapat informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Surabaya memprediksi masih akan berlangsung 3 sampai 7 hari kedepan.

Siang itu, puluhan kapal bersandar. Namun begitu, paranelayan tetap beraktifitas. Beberapa awak kapal yang masih berada di atas kapal. Mereka bukan sedang bersiap melaut. Namun hanya untuk memperbaiki peralatan kapal yang sudah agak rusak.

Ada yang membenahi jaring, ada juga yang mengecek kapal mulai dari mesin sampai dengan atap kapal. Itu dilakukan, sembari menunggu keadaan cuaca kembali normal.

Di musim seperti sekarang ini, menurut para nelayan bukanlah musim yang baik untuk mencari ikan. Jika nekat untuk melaut, maka siap siap untuk menelan kerugian. Sebab, pada musim seperti ini, bukan hanya cuaca yang tidak bersahabat. Tapi bisa juga sepi tangkapan.

Nusibat, 52, salah seorang asal Kelurahan/Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo mengatakan, untuk musim sekarang tidak ada yang bisa dilakukan selain melakukan perbaikan alat tangkap. Dia tidak ingin mengambil risiko pergi melaut.

“Begini ini sehari harinya. Kami memang tidak melaut. Selain musim sepi tangkapan juga musim angin. Jika kami paksakan ya takut celaka. Jadi hanya sebatas perbaikan alat tangkap saja yang kami lakukan,” ujarnya saat ditemui di Pelabuhan Probolinggo.

Ia menambahkan, setiap harinya ia hanya nongkrong dirumahnya. Hal itu, dilakukan sembari menunggu cuaca kembali normal. ia memilih untuk membantu istrinya yang ada di rumah.“Mmencari sampingan atau yang lain. Hitung-hitung menjadi tambahan pendapatkan keluarga selama tidak bekerja,” terangnya.

Sama seperti Nusibat. Ali Udin, nelayan yang tinggal di Mayangan mengaku, saat ini dia menarik becak. Anak buah kapal (ABK) yang biasa ikut kapal milik juragan di kampungnya itu mengaku, sudah hampir 3 hari ini dia libur melaut.

“Kondisi seperti ini kerap terjadi di bulan-bulan Agustus. Saat dimana biasanya angin gending muncul. Kalau sudah begini, saya lebih milih narik becak,” kata Ali.

Memang saat alih pekerjaan jadi tukang becak, pendapatannya masih kalah jauh dengan nelayan. Apalagi, saat ini becak sudah banyak ditinggalkan. Bahkan dalam sehari, Ali mengaku, pernah hanya mendapat tak lebih dari Rp 50 ribu. Tak cukup untuk membeli kebutuhan dapur, apalagi jika memenuhi 4 sehat 5 sempurna.

“Yang penting ada pemasukan dan halal. Daripada melaut dan kena bencana. Anak-anak bisa kehilangan ayah kalau sudah apesnya,” katanya sembari tertawa.

Berbeda dengan nelayan di Kota Probolinggo. Saat media ini bergeser ke wilayah Kabupaten Pasuruan, masih ada nelayan yang nekat melaut di musim angin seperti sekarang. Salah satunya adalah Husnan, 51, nelayan asal Mayangan. Ia masih nekat melaut untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Sehingga saat juragan kapal mengajaknya, dia tetap berangkat.

Menurutnya, cuaca seperti itu hanya terjadi disekitar Kota Probolinggo dan sekitarnya. Namun, untuk diperairan Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo tidak demikian.

“Memang ada yang takut untuk melaut. Tetapi bagi saya tidak soalnya untuk mencari nafkah keluarga. Kalau ndak melaut mau makan apa wong kerjanya Cuma bisa ini,” kata Husnan yang sedang memperbaiki jala untuk digunakan melaut.

Menurutnya, jika cuaca seperti ini hasil melautnya pasti menurun. Jika sebelumnya sekitar 5 sampai 10 ton, saat musim angin, Husnan mengaku hasilnya tidak sampai 2 ton. Itupun dilakukan dengan mencari ikan berpindah pindah tempat.

“Kalau musim ikan satu tempat sudah mendapatkan tangkapan banyak. Kalau seperti ini ya mungkin pindah sampai 10 kali nanti,” terangnya.

Masih menurut Husnan, perjalanan melaut dengan kondisi cuaca ekstrem memang harus siap merugi. Kerugian ditaksir sekali perjalanan Rp 5 juta. Sekali perjalan bisa dua hingga tiga hari.

”Kalau cuaca normal dan musim ikan untungnya bisa Rp 50 juta. Tetapi kalau sekarang kayaknya banyak buntungnya,” terangnya.

Ucapan Husnan terbukti. Jika sekarang ini memang tidak banyak ikan. Hal itu disampaikan oleh Saiful, 45, salah seorang nelayan asal Lekok, Pasuruan. Saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo setelah bersandar sedari tiga hari melaut mengatakan, tangkapannya menurut pesat. Bahkan pernah, dia bersama rekan-rekannya hanya mendapatkan sekitar dibawah 1 ton.

“Sedikit sekali tangkapan kami. Tidak sampai satu ton. Padahal kalau cuaca normal dengan kapal kecil yang kami pakai ini sampai 1,5 ton sekali berangkat. Tetapi karena kondisi tidak memungkinkan maka kecil tangkapan kami,” terangnya.

Itupun harus berkeliling untuk mencari ikan. Bukan satu, dua, sampai lima tempat saja yang dijadikan sasaran mencari ikan. Namun, belasan tempat dilaluinya. Hal itu tak lain untuk mendapatkan tangkapan ikan yang lebih banyak.

“Karena memang sudah seperti ini ya itu sudah mendapat sedikit. Tetapi kami sukuri saja,” jelasnya.

Saat kondisi seperti ini, hanya satu persamaan yang dirasakan nelayan. Mereka harus mengencangkan ikat pinggang, dan mengurangi kebutuhan hidup, sampai cuaca kembali normal. (sid/fun)