Calon Serigala

MUDAKIR menyuruhku berbaring di meja dapur. Ia lipat bagian bawah kausku untuk melihat permukaan perutku. Basah dan gatal. Tetapi Mudakir bilang, tidak ada masalah. Bangkai anjing yang kusimpan dalam perut malam ini kelak akan keluar dalam wujud serigala.

“Boleh jadi dia langsung lapar. Tetapi, bisa juga tidak seketika lapar dan mencari induknya. Jika itu yang terjadi, buat dia mengira kamu induknya,” kata Mudakir.

“Kalau lapar?”

“Beri makan!”

Mudakir menjelaskan beberapa peraturan. Pertama, ia tidak mau orang lain tahu dalam perutku bersemayam anjing mati, yang kelak jika keluar menjadi seekor serigala. Termasuk anak istriku. Biar dunia tak tahu. Rahasia segala-galanya. Kedua, ia tidak mau aku protes kalau serigala itu nanti memangsa seluruh keluargaku.

“Pengorbanan nomor satu. Lain-lain di belakang,” tutupnya.

Mudakir pamit. Ia meminta uang sepuluh ribu yang tergeletak di meja dapur untuk dibawanya pulang. Kukatakan ia boleh mengambil uang itu, meski bukan punyaku. Aku tahu istriku pasti meninggalkannya entah karena lupa atau apa. Itu bukan masalah.

Begitulah. Mudakir pergi dan sejak itu kami tidak bertemu lagi.

Esoknya aku sakit dan ingin berak, tetapi tidak bisa. Istriku mencoba memberiku jamu agar kotoran dalam usus besar keluar semua, tapi tetap tidak manjur. Aku menolak ketika ia akan membawaku ke dokter. Aku tahu ini semua pasti pengaruh bangkai anjing dalam perutku, yang kelak suatu hari nanti akan berubah jadi serigala.

Aku sendiri tidak terlalu bodoh mengikuti saran Mudakir. Serigala itu, katanya, tak meleset jika patuh padamu. Ia selalu mengikuti aroma yang ingin kau bunuh. Jika suatu kali kau benci seorang kepala desa, serigala itu memakannya. Jika di hari lain kau benci mantan pacar istrimu, tentu orang sial itulah yang serigalamu mangsa.

Calon serigala dalam tubuhku, kata Mudakir, dapat kuberi nama. Tapi ia hanya ikut kehendakku setelah cukup umur, yakni sekitar empat puluh hari. Kurang dari itu, tidak ada yang bisa menjamin apakah orang tidak bersalah tidak luput dari sasaran.

Mudakir sendiri mendapat ilmu ini dari ayahnya, yang mendapat dari sang kakek. Ilmu turun temurun yang tak bisa Mudakir turunkan karena ia menderita lemah syahwat. Ia tidak bisa mempunyai keturunan setelah dibuat terkapar oleh jagoan desa dalam suatu turnamen silat gaya bebas. Maka, ia harus memilih: antara mati membawa ilmu itu atau mewariskannya ke orang yang tepat.

Aku ingat hari itu ketika kuambil keputusan aku harus membunuh seseorang, di waktu sama Mudakir memilih jalan. Ia ingin hidup demi membuat perhitungan dengan tangan manusianya, kepada jagoan yang dulu membuatnya tidak bisa memacari wanita.

“Sekarang ilmuku kau bawa. Gunakan sebaik mungkin untuk masalah-masalahmu. Dan jangan kau wariskan ke sembarangan orang jika kelak kau tak punya anak lelaki.” Begitulah Mudakir berpesan.

Aku tahu aku tidak mungkin sembarangan mewariskan. Jika kelak anakku mati dan aku tak memiliki keturunan, barangkali mati lebih baik. Aku sendiri tahu apa yang akan terjadi, tetapi memutuskan diam. Istri dan anakku tak tahu, sesuai pesan Mudakir sejak awal. Ia mewanti-wantiku.

Dalam pertemuan-pertemuan kami di warung kopi, di sudut paling gelap dan tidak diperhatikan orang, Mudakir membisikiku mantra yang harus kulafal di malam-malam tertentu untuk mengundang seekor anjing bernasib malang.

“Kau harus membunuh anjing itu dengan usahamu sendiri. Setelah anjing itu mati, kau boleh memakannya dengan cara yang paling tak masuk akal.” Mudakir pun tak lupa menjelaskan bagaimana nanti kumasukkan bangkai anjing ke dalam perutku.

Aku tidak percaya mendengar itu, tetapi Mudakir tidak bercanda.

“Kau tinggal memilih, Wan. Harga diri atau rasa jijik?”

Pada akhirnya, aku memilih rasa jijik. Aku merasa seharusnya ini tidak terlalu jijik. Apa yang mendasari niatku justru lebih menjijikkan dan itu hanya membuatku tampak seperti pecundang.

Jika aku memilih merelakan ilmu antik itu dibawa Mudakir ke orang lain, aku menelan dua kali kesialan: harga diriku diinjak-injak dan aku berasa menelan bangkaiku sendiri.

Maka, di malam yang ditentukan, di malam terakhir setelah beberapa malam kami mencari tempat sepi untuk meditasi, sementara aku melafal mantra yang Mudakir beri, aku merasa jiwaku sudah setengah matang. Badanku panas dan lidahku terasa kering. Mudakir mengajakku ke tepi sungai dan bersembunyi. Seekor anjing muncul dan ia tak mencium keberadaan kami berkat mantra itu. Dengan batako, kutumbangkan anjing itu sekali serangan. Ia kejang-kejang sebelum diam tak bergerak. Mudakir tertawa, tetapi aku merasa sedih melihat kepala anjing itu pecah akibat batako yang kujatuhkan tepat di atasnya.

Tanpa membuang waktu, kami memotong-motong daging anjing itu dan Mudakir menyantapnya tanpa merasa jijik, sekalipun daging itu mentah. Di potongan keduapuluh, aku tidak boleh menelan satu pun daging, kecuali membedah sedikit kulit perutku untuk menyimpan potongan keduapuluh itu di sana.

“Kau yakin, Wan?”

“Apa yang membuatku harus yakin?”

Mudakir menghela napas panjang. Ia bertutur soal istriku yang berkali-kali bilang sakit, tapi sebenarnya ia baru saja bersenang-senang di kamarku dengan lelaki gila yang tak lain adalah tetanggaku sendiri. Aku tak pernah mendapat apa yang kumau dan tentu Mudakir tahu itu. Ia sudah menjaga serigala dewasa yang patuh padanya selama empat puluh dua tahun, dan dari binatang gaib itu, ia memahami urusan rumah tanggaku.

Aku sakit hati mengingat betapa lugunya wajah istriku ketika mengucap ia sedang sakit, seperti ada sesuatu yang tidak beres. Seperti dibuat-buat. Dan aku justru merasa rendah ketika yang menyadarkanku justru Mudakir, dukun kampung yang tidak pernah dianggap, karena tempat ini penuh dengan orang-orang religius.

Aku mengangguk.

Aku bergetar saat Mudakir mengusap-usap perutku dan dengan lincah membelah daging di bagian itu sepanjang sepuluh senti. Darah mengucur deras dan aku tak merasa sakit. Mudakir dengan cepat pula menyimpan daging anjing malang tadi dan menjahit lukaku sampai rapi.

Kembali ke rumahku, di dapur, lewat tengah malam, Mudakir menyuruhku untuk berbaring di meja dan memastikan apakah jahitannya sudah benar. Ia memberiku perban dan membebat luka itu dengan lebih baik.

“Ingat, Wan,” katanya setelah meraih uang sepuluh ribu di meja dapur. “Semua ini demi harga diri. Jangan sampai suatu hari serigalamu menuruti hawa nafsu.”

Aku mengangguk dan temanku pergi ditelan malam. (*)

 

Gempol, 20 April-22 Juli 2018
KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di berbagai media.