Korban Penganiayaan di Jalan Imam Bonjol Enggan Laporan ke Polisi

BUGULKIDUL – Hingga saat ini, Suparman, 57, enggan melaporkan aksi pengeroyokan yang dialaminya. Lantaran itu, polisi pun tak dapat berbuat banyak dalam proses penyelidikan terkait dengan insiden tersebut. Akan tetapi, insiden pengeroyokan itu tetap menjadi atensi tersendiri bagi korps Bhayangkara.

Hal itu disampaikan oleh Kapolsek Bugul Kidul Kompol Maryono. “Kami sudah menyarankan agar korban mau membuat laporan, tapi hingga hari ini tetap tidak mau. Akan tetapi, insiden ini tetap menjadi catatan kami,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Maryono mengatakan, pihaknya memang tak bisa berbuat banyak ketika korban enggan melaporkan. Sebab, penyelidikan pelaku dilakukan juga berdasarkan keterangan dari korban, termasuk alat bukti seperti visum luka yang dialaminya.

“Lidik tetap bisa dilakukan, tapi kesulitannya kalau tidak ada laporan kami juga tidak bisa menangkap sembarangan tanpa dasar. Artinya, proses hukumnya nanti yang sulit. Paling tidak dengan adanya laporan kan pasti diperkuat dengan visum sebagai bukti,” jelasnya.

Sejatinya, petugas juga telah menyelidiki keberadaan terduga pelaku. Maryono menyebut, pihaknya sempat menghimpun keterangan dari warga sekitar Kelurahan Bugul Lor. Hasilnya, memang ada seorang yang dicurigai sebagai terduga pelaku.

“Namun, kami belum bisa bertindak, sebab alat bukti maupun dasar laporannya tidak ada. Kami tetap memantau kawasan itu dengan lebih ketat untuk menekan tindak kriminalitas,” tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, Suparman, 57, menjadi korban pengeroyokan Rabu (3/8) malam lalu. Warga Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan, itu dikeroyok oleh dua orang tak dikenal. Ia dicegat di tengah jalan di Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Bugul Lor. Beberapa kali pukulan yang diterima mengakibatkan luka memar pada bagian kepala korban. (tom/fun)