Kasus Kekerasan Anak Masih Marak, 2 Daerah Ini Tetap Raih Predikat KLA

PASURUAN – Adanya sejumlah kasus kekerasan pada anak di kota dan kabupaten Pasuruan tak jadi kendala untuk dua daerah (Kabupaten dan Kota) di wilayah setempat mendapat predikat kota layak anak (KLA). Kedua daerah itu kini sama-sama menyandang predikat KLA.

Kota Pasuruan meraih predikat KLA kedua kalinya sejak 2015 lalu. Kabid Pemberdayaan Anak Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kota Pasuruan Ani Harini mengatakan, ada 5 klaster dan 24 indikator penilaian untuk KLA.

Klaster di antaranya kepemilikan akta kelahiran, pengasuhan keluarga dan alternatif, masalah kesehatan, pendidikan, dan perlindungan anak. Ia menjelaskan, sejak tiga tahun terakhir pemkot melakukan percepatan pembuatan akta. Sehingga, hampir semua anak di Kota Pasuruan sudah memiliki akta, yakni sekitar 99 persen.

Pemkot juga terus berupaya untuk memenuhi hak anak terkait pendidikan dan kesehatan. Seperti, puskesmas ramah anak di Kelurahan Gadingrejo, Kandangsapi, dan Karangketug. Serta, sekolah ramah anak di Kelurahan Petamanan, Kebonagung, dan Pekuncen.

“Puskesmas dan sekolah ramah anak merupakan salah satu upaya mewujudkan KLA di Kota Pasuruan. Pembentukannya sudah dilakukan sejak deklarasi pada 2015 lalu,” katanya. Setelah mendapat KLA tingkat pratama, pemkot menargetkan untuk memperoleh KLA tingkat madya.

Upaya yang dilakukan untuk mendapatkan predikat itu yakni dengan rutin mengaktifkan kegiatan forum anak di setiap kelurahan dan kecamatan. Forum ini sebagai wadah bagi anak untuk menyampaikan aspirasi pembangunan. Anak yang dilibatkan mulai usia 0-18 tahun.

Mereka dilibatkan dalam musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang) di tingkat kelurahan dan kecamatan. Seperti, memberikan ide untuk menambah taman bermain atau perpustakaan.

“Tentunya, yang paling utama adalah sinergitas seluruh instasi terkait mulai kelurahan, kecamatan, masyarakat, dan organisasi perangkat daerah (OPD) yang terlibat,” tutur Ani.

Sementara itu, predikat KLA di Kabupaten Pasuruan yang juga tingkat pratama, juga didapat setelah pemkab melakukan sejumlah upaya. Salah satunya membentuk forum anak. “Dari proses tersebut, memang tak mudah mendapat predikat KLA. Karena banyak sekali indikator yang harus kita penuhi,” terang Pelaksana Harian (Plh) Bupati Agus Sutiadji.

Agus –sapaan akrabnya– mengakui masih banyak kasus anak yang ditemui. Namun, pihaknya terus berusaha maksimal untuk menekan angka tindak kriminal pada anak. Baik sebagai pelaku maupun korban. Salah satunya dengan sosialisasi, hingga memaksimalkan pendidikan karakter dengan memberikan peran besar pada madrasah diniyah.

Yetty Purwaningsih, kepala Dinas Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan (DKBPP) Kabupaten Pasuruan mengatakan bahwa banyak indikator terkait penilaian Kota/Kabupaten Layak Anak. Selain lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif, pemenuhan hak sipil dan kebebasan anak, kesehatan dasar dan kesejahteraan anak berkebutuhan khusus, dan sebagainya.

Dalam tiap kategori ada penilaian sesuai tingkatan. “Sementara ini, masih KLA pratama. Tapi, ini usaha maksimal yang sudah kami lakukan untuk masyarakat Kabupaten Pasuruan,” jelasnya. (riz/eka/rf/mie)