Kasus GIC Probolinggo, Kejari Kembali Periksa 5 Saksi

KANIGARAN – Lama tak terdengar kabarnya, Kejaksaan Negeri Kota Probolinggo terus melakukan pendalaman atas kasus korupsi pembanguan Gedung Islamic Centre (GIC) yang kini namanya jadi gedung Hayam Wuruk itu. Pekan lalu, Kejari memeriksa saksi untuk kasus yang sebelumnya telah menyeret tiga terpidana itu.

“Untuk kasus GIC, saat ini masih dalam dikmum (penyidikan umum, Red). Setidaknya, ada lima orang yang dipanggil sebagai saksi. Tiga di antaranya merupakan mantan napi,” terang Herman Hidayat, kasi Intel Kejari setempat saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo, Rabu (1/8).

Herman –sapaan akrabnya – tak menjelaskan siapa dua dari lima saksi yang sudah dipanggil untuk dimintai keterangan. Sementara tiga saksi lain yang dipanggil, adalah Purnomo selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK); Johan Wahyudi selaku konsultan dalam proyek multiyears di Jl Basuki Rahmad tersebut; dan Dini Santi Ekawati selaku Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK).

Diberitakan sebelumnya, proyek GIC dibidik kejaksaan. Kasus GIC yang kini masuk di meja sidang itu adalah proyek GIC 2012. Dalam penyidikan, kejari melibatkan tim ahli dari Universitas Brawijaya Malang untuk memeriksa kualitas bangunan GIC.

Selanjutnya, hasil pemeriksaan tim ahli diserahkan ke Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk menghitung kerugian negara dalam kasus tersebut.

BPKP menyebut, kerugian negara yang ditimbulkan proyek itu sekitar Rp 1,4 miliar untuk tiga tahap pembangunan. Mulai tahap pertama di tahun 2012, serta tahap dua dan tiga yang sama-sama dilakukan di tahun 2013. Hasilnya, ada indikasi korupsi dalam pembangunan proyek tersebut. Sudah ada tiga orang yang divonis bersalah.

Pembangunan GIC dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama dilakukan 2012 lalu dengan nilai Rp 4,6 miliar oleh PT Pandan Landung. Tahap kedua, dilakukan tahun 2013 dengan nilai Rp 825.605.000 oleh CV Keong Mas. Sedangkan tahap ketiga, juga dilakukan di 2013 oleh CV Sari Murni dengan nilai Rp 1.150.690.000. (rpd/rf/mie)