Hebat, Warga Kedunggaleng Bangun Jembatan Swadaya Senilai Rp 150 Juta

WONOASIH – Sempat mangkrak beberapa tahun, pembangunan jembatan penghubung antara Desa Jorongan, Leces, Kabupaten Probolinggo dengan Kelurahan Kedunggaleng, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo, hampir rampung. Dibangun dalam waktu hampir sebulan, kini progresnya mencapai 95 persen.

Yang menarik, anggaran pembangunan jembatan itu murni swadaya masyarakat setempat. Dana yang dihabiskan pun lumayan besar. Yaitu, sekitar Rp 150 juta.

Mistar Angen, 63, salah satu pelopor pembangunan jembatan mengatakan, anggaran pembangunan jembatan itu murni swadaya warga. Pemerintah menurutnya, baik dari Desa Jorongan maupun dari Kelurahan Gedunggaleng, tak menyumbang dana sama sekali.

“Anak saya jadi Pak kampung di sini. Dan, kami pernah mengajukan proposal ke kelurahan. Warga Jorongan juga sudah mengajukan proposal. Namun, tak kunjung disetujui,” terang warga RT 3/RW 5, Kelurahan Gedunggaleng itu.

Alasan Pemerintah Kedunggaleng tidak menyetujui, menurut Agen, tidak mungkin menganggarkan jembatan hanya separo. Sementara separonya masuk Desa Jorongan. Padahal, jembatan penghubung itu sangat dibutuhkan warga di dua wilayah itu.

Ada warga Jorongan punya sawah di utara sungai yang masuk Kedunggaleng dan sebaliknya. Selain itu, banyak anak sekolah yang melintasi jalan tersebut.

Dan, jembatan ini menurut Angen, adalah jalan alternatif yang paling cepat untuk mengubungkan dua daerah. Jika tidak ada jembatan ini, warga di dua wilayah harus berputar lewat Jalan Raya Jorongan yang jaraknya sekitar 5 kilometer.

“Selama menunggu jawaban proposal, warga sepakat membuat jembatan dari bambu. Meskipun, nyatanya proposal tidak pernah turun,” tuturnya.

Di sisi lain, jembatan bambu itu sangat rawan rusak. Tak jarang jembatan hanyut dan rusak saat banjir datang. Karena kondisi itu, warga kedua wilayah akhirnya sepakat membangun jembatan secara permanen.

Agar pembangunan cepat, mereka juga sepakat untuk tidak mengandalkan anggaran pemerintah. Warga pun menggalang dana secara swadaya.

“Kami dari dua wilayah sama-sama menggalang dana. Salah satunya, lewat kotak amal di jalan dan sebagainya. Dan, Alhamdulillah, sekitar dua tahun lebih dananya terkumpul cukup besar. Akhirnya kami buat jembatan gantung,” ujarnya.

Saat ini, menurutnya, pembangunan jembatan sudah 95 persen. Namun, kini pembangunan dihentikan. Sebab, dana yang terkumpul sudah habis.

“Kami masih cari dana lagi dan meminta amal. Jadi, diberhentikan sementara. Kekuranganya sekitar Rp 10 juta. Itu, untuk pembangunan tepi dan bagian bawahnya,” tambahnya.

Meski demikian, jembatan gantung itu sudah bisa difungsikan. Warga dari kedua wilayah, sudah melewati jalan itu. Seperti Prayitno, 65, asal Jorongan. Dia mengaku, lewat jembatan alternatif ini jadi lebih cepat.

Terpisah, Lurah Kedunggaleng Sunamo membenarkan bahwa pembangunan jembatan alternatif itu swadaya masyarakat. Pemerintah tak cawe-cawe. Sebab, dari kelurahan tak ada dana untuk pembangunan jembatan.

“Pembangunan jembatan itu murni swadaya warga. Kami tidak cawe-cawe. Apalagi kami tak ada anggaran untuk pembangunan. Kalau di Jorongan mungkin ada ADD atau DD. Tapi di Gedunggaleng, tak ada anggaran,” terangnya. (rpd/hn/mie)