Lewati Taman Hidup di Bremi, Rombongan Trail Polres Jadi Sorotan

KRUCIL – Adanya sejumlah pengendara motor trail yang masuk kawasan hutan lindung di daerah danau Taman Hidup, Desa Bremi, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo, menjadi perhatian banyak pihak. Terutama dari para pecinta alam. Sebab, kawasan ini merupakan kawasan lindung.

Salah seorang pecinta lingkungan Ariyanto mengatakan, adanya motor trail masuk kawasan hutan bisa mengganggu ketenteraman satwa. Serta, bisa menyebabkan satwa depresi.

DISOROT: Anggota Polres Probolinggo saat ngetrail hingga Taman Hidup, Kawasan Suaka Marga Satwa Dataran Tinggi Hyang. (facebook)

“Kebisingan yang ditimbulkan dari knalpot motor dari aspek psikologi bisa menyebabkan hewan liar di sana stres. Itu, bisa mengganggu keberlangsungan masa kawin dan berpengaruh terhadap keturunan mereka (hewan liar),” ujar pria yang akrab dipanggil Remon itu.

Remon mengatakan, sebenarnya mengendarai motor tidak masalah. Dengan catatan, tidak masuk kawasan suaka alam. “Jika masuk jelas dilarang. Memang ada aturan dan ada Simaksinya (surat izin memasuki kawasan konservasi),” ujarnya.

Meski sudah mengantongi Simaksi, tetap dilarang menggunakan kendaraan. Sebab, dengan naik motor, secara tidak langsung mengganggu ketenangan hewan di taman hidup. “Wong kita teriak tidak boleh kok. Ini malah suara motor,” ujarnya.

Beberapa waktu lalu, sempat ramai yang masuk kawasan ini menggunakan trail rombongan dari Polres Probolinggo. Rombongan bersama Perhutani, ini juga tak luput dari sorotan warga. Hal itu terlihat dari komentar netizen di akun facebook dan Instagram kapolres.

Kapolres Probolinggo AKBP Fadly Samad ketika dikonfirmasi media ini menjawab diplomatis. Ia mengatakan, hidup itu pasti ada pro dan kontra. “Yang penting niat kami baik. Lakukan yang terbaik, nanti Allah SWT yang menilai,” ujarnya.

Menurutnya, daerah kawasan lindung ini masih sangat natural dan terjaga keasriannya. Namun, jalannya belum ada dan bila dikelola dengan baik, akan menjadi daya tarik tersendiri. Khususnya bagi pecinta alam.

“Saran saya kalau pun dikembangkan, jadikan sebagai ekowisata yang tetap menjaga keasrian alamnya. Saya pernah ke Bali, ada hutan lindung yang dijadikan taman ekowisata Bukit Sangeh di Bali. Tempatnya ramai, tapi alamnya tetap terjaga. Di Bali ada jalur motor, juga ada jalur pendakian,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi 6 Probolinggo Sudartono mengaku, tidak bisa memberikan keterangan terkait masalah ini. Ia malah melemparkan kepada atasannya. Namun, tidak jelas atasan yang dimaksud. “Tanya ke pimpinan,” ujarnya singkat. (sid/fun)