Angel Heaven, Komunitas Pelajar Antinarkoba di Kota Pasuruan

TERBENTUK sejak 2012, komunitas Angel Heaven punya tujuan mencegah peredaran narkoba di kalangan pelajar. Bahkan, sejumlah pelajar berhasil diselamatkan oleh komunitas ini dari ketergantungan obat-obatan.

—————-

Sejumlah pria dan wanita tampak memadati pelataran GOR Untung Suropati (Unsur) Kota Pasuruan. Mereka duduk bersila mendengarkan arahan dari wanita berhijab merah itu. Dengan seksama, mereka memperhatikan kata demi kata yang meluncur dari bibirnya.

Sejurus kemudian, mereka mulai melakukan pemanasan. Pemanasan ini berlangsung sekitar 10 menit. Usai pemanasan, mereka pun mulai melakukan latihan. Ada yang memanah, melaksanakan latihan teater, dan sebagainya. Pemandangan ini rutin terlihat di GOR Unsur setiap pekannya.

Ternyata kegiatan ini merupakan acara rutin Angle Heaven. Sebuah komunitas yang terdiri atas para pelajar.

Pembina Angel Heaven, Indah Yulianti mengungkapkan, Komunitas Angel Heaven dibentuk pada September 2012. Pembentukannya berawal dari keprihatinan atas maraknya pelajar Kota Pasuruan yang mengonsumsi pil dan obat-obatan.

Saat itu, alumni anak didiknya di SMPN 9 mendatangi kediamannya untuk meminta pembentukan wadah ini. Akhirnya, ia bersama 13 pelajar dari SMAN 4 dan 4 pelajar dari MAN Kota Pasuruan membentuk komunitas ini.

ANTINARKOBA: Kegiatan komunitas Angel Heaven selalu mengajak orang untuk menjauhi narkoba. Foto atas, kegiatan olahraga bersama yang digelar Komunitas Angel Heaven di GOR Untung Suropati saat akhir pekan. (Angel Heaven for Jawa Pos Radar Bromo)

“Alhamdulillah, pembentukan komunitas ini direspons positif oleh pelajar dan lembaga sekolah. Saat ini, kami sudah memiliki 883 anggota dan 190 tercatat sebagai anggota aktif,” katanya.

Indah menjelaskan, anggota komunitas ini terdiri atas pelajar mulai SD, SMP, SMA, dan mahasiswa. Mereka tidak dipungut biaya sepeser pun untuk mengikuti Angel Heaven. Namun, mereka harus mengikuti orientasi selama sehari.

Orientasi ini berupa cinta tanah air, kedisiplinan, bimbingan mental, maupun rohani. Misalnya, siraman rohani dengan ceramah agama, peraturan baris berbaris (PBB), sampai disumpah dengan mencium bendera merah putih.

Jika lulus, maka mereka akan diikutkan dengan kegiatan positif. Kegiatan ini bebas mereka pilih. Ada teater drama kolosal yang mengangkat sejarah cagar budaya, panahan, public speaking tentang bahaya narkoba, dan yel yel.

Drama kolosal ini biasanya ditampilkan saat peringatan hari Kemerdekaan RI di hadapan pejabat. Sementara public speaking ini rutin dengan menyosialisasikan pidato ke setiap sekolah di Kota Pasuruan. Pihaknya pun juga rutin mengikuti perlombaan.

Latihan biasanya dilakukan setiap hari Minggu mulai pukul 13.00 sampai pukul 17.00. Latihan diberikan oleh Indah dan anaknya, Nugrah Jaya Pangestu. Namun, menjelang agenda perlombaan, latihan dilakukan setiap hari.

“Alhamdulillah, kami sudah memperoleh banyak prestasi selama 6 tahun ini. Di antaranya, kami pernah Juara I lomba Yel Yel Kostrad atau meraih tiga emas dalam lomba panahan Bupati Cup,” jelas Indah.

Komunitas ini juga rutin melakukan bakti sosial maupun bakti alam. Kegiatan bakti alam ini biasanya dilakukan saat peringatan hari tertentu seperti Hari AIDS atau Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Sementara, bakti sosial ini dengan memberikan santunan pada warga yang tidak mampu.

Di luar kegiatan ini, anggota komunitas bertugas untuk mencari dan membawa pelajar yang terlibat obat-obatan. Pelajar yang tersandung narkoba, lantas bakal direhabilitasi sampai sembuh. Seperti dimandikan, diajak untuk salat berjamaah, dan dinasehati secara baik.

Menurutnya, sejauh ini, komunitas ini sudah berhasil menyembuhkan 13 pelajar positif mengonsumsi obat-obatan. Bahkan, di antaranya ada 3 pelajar yang sakau akut dan 1 pelajar hampir mau bunuh diri. Rata-rata disebabkan oleh masalah keluarga.

“Mayoritas itu karena broken home, tidak diperbolehkan pacaran, atau tidak diperhatikan oleh orang tua mereka. Makanya, mereka pun terjerumus ke dalam obat-obatan,” ungkapnya.

Aditya Rahman menerangkan, komunitasnya terkendala dengan tidak ada dokter dan psikiater untuk mengobati pelajar yang kecanduan dan ruangan yang digunakan sangat tidak layak. Namun, mereka mendapatkan bantuan dari Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Pasuruan berupa tenaga dokter.

“Kami harus mengeluarkan uang sendiri saat perlombaan. Untungnya, BNK bersedia merehab ruangan rehabilitasi kami berukuran 3×4 meter. Ini kan positif, jadi harusnya Pemkot mendukung,” ungkap Aditya yang di komunitas bertindak sebagai humas. (riz/fun)