Duka Keluarga Korban Tewas Dibegal di Lumajang, Selama Ini Jadi Tulang Punggung Keluarga

BERDUKA: Suasana rumah duka keluarga korban. Insert korban semasa hidup. Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo-Ist

Orang tua mana yang tak hancur hatinya, mengetahui anaknya meninggal dengan cara mengenaskan. Dibegal kawanan rampok, hingga tewas. Inilah yang dirasakan pasutri Juli – Sri Nur Fatimah. Berikut kisahnya.

RIZKY PUTRA DINASTI, Probolinggo

Langit pucat sore itu. Matahari yang mulai terbenam seolah menggambarkan duka. Di Jalan Patimura, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, bendera putih tertancap di depan sebuah gang kecil. Puluhan warga terlihat keluar masuk ke gang itu.

Mereka berkerumun di rumah pasangan suami istri (pasutri) Juli – Sri Nur Fatimah. Wajah-wajah muram terlihat di sana. Hampir tidak ada senyum atau perbincangan antara mereka. Hanya bisik-bisik singkat yang terdengar.

Ya, pasutri Juli – Sri Nur Fatimah, baru kehilangan anak pertamanya, Deny Nugrah Pratama, 22. Yang menyayat hati, Denny meninggal akibat bacokan dari segerombolan begal di Jalan Raya Ranuyoso, Lumajang, Jumat (27/7) sekira jam 19.30.

Saat wartawan koran ini memasuki kediaman keluarga Juli – Sri Nur Fatimah, bulu kuduk terasa merinding. Tak kuasa melihat pasutri ini lemas dan lunglai. Sementara air mata keduanya tak lagi mengalir. Hanya pasrah dalam suasana duka yang begitu kuat.

Dengan nada pelan dan tubuh lemas Juli bergumam, anak pertamanya kini telah tiada. Nyawanya hilang direnggut kawanan begal sadis di Jalan Raya Ranuyoso.

Ia sadar, semua merupakan kehendak Yang Maha Kuasa. Namun jika caranya demikian, dari hati yang paling dalam, Juli berharap karma bagi kawanan begal itu.

“Jika memang ini sudah takdirnya, saya iklas. Tapi, menghilangkan nyawa seseorang tidaklah mudah. Semoga mereka (pelaku begal) mendapatkan karma yang pantas dari-Nya,” terangnya.

Deny sendiri anak pertama dari dua bersaudara. Adiknya, Erwin kini masih duduk di kelas 3 sebuah SMK di Kota Probolinggo.

Kehilangan Deny bagi Juli – Sri Nur Fatimah, tidak hanya menyayat hati. Namun, juga berat. Sebab, Deny selama ini adalah tulang punggung keluarga. Dia merupakan penyokong utama ekonimi keluarga selama ini.

Sementara kedua kedua orang tuanya hanya bekerja serabutan. Terlebih lagi, usia mereka tak muda lagi. Juli kini 60 tahun. Dan istrinya Sri Nur Fatimah, sudah 51 tahun.

“Deny yang bantu keuangan keluarga ini. Termasuk biaya adiknya sekolah. Meski saya tidak pernah minta, tapi ia mengerti,” terang Juli.

Gaji dari tempatnya bekerja di Pabrik Kayu Semeru di Lumajang, selalu disisihkan Deny untuk keluarganya. Terutama untuk membantu biaya adiknya sekolah.

Deny sendiri selama ini tinggal bersama neneknya di Klalah, Lumajang. Sebab, rumah neneknya memang lebih dekat dengan tempatnya bekerja.

Jumat (27/7) sebelum meninggal, Deny pulang ke Mangunharjo. Dia datang bersama kekasihnya, Nur Haslina, 20, asal Selokgondang, Kabupaten Lumajang.

Deny yang masuk sif malam, saat itu baru pulang kerja. Menjelang Jumat, dia lantas ke masjid Agung untuk salat Jumat.

“Awalnya mau balik pagi. Tapi karena ibunya tidak ada di rumah, dia menunggu ibunya. Ibunya sedang bantu di rumah saudara yang lahiran,” imbuhnya.

Usal salat Jumat, Deny berencana kembali ke Lumajang. Namun, karena udara masih panas, rencana itu urung dilakukan. Baru pukul 16.00, dia kembali ke Klakah.

“Berangkat dari sini pukul empat sore, hendak pulang ke rumah neneknya. Nah saat pulang itulah ia dibegal,” tambahnya.

Juli mendapat kabar bahwa anaknya dibegal dan meninggal, pada pukul 21.00. Juli diberitahu oleh anak keduanya Erwin. Sementara Erwin mendapat kabar dari Nur Haslina, kekasih Deny.

Mendengar kabar itu, bumi tempat keduanya berpijak seolah bergundang. Kaki kedua pasutri itupun lemas, seolah tak tertulang. Tubuh keduanya pun langsung lunglai.

Bahkan lantaran syok, Juli tak bisa ikut ke rumah sakit untuk menjemput jenazah Deny. Istrinya dan kakak Juli yang menjemput jenazah Deny.

Usai disucikan di rumah sakit, Deny langsung dibawa pulang. Sabtu (28/7) pukul 08.00, Denny disemayamkan di pemakaman umum Kelurahan Mangunharjo.

Di akhir perbincangan, Juli kembali bergumam, bukan perkara mudah menghilangkan nyawa seseorang. Selain akan dibalas di dunia, pelakunya juga akan mendapat balasan di akhirat.

“Maka saya berdoa, bagi mereka yang telah menghilangkan nyawa anak saya dengan sengaja. Semoga diberikan selamat, dan bisa melewati karma yang nantinya akan diturunkan,” kutuk pria berkumis itu. (hn)