Gugat Cerai Gara-gara Motor

Biduk rumah tangga Tole (nama samaran), 34 dan Minthul (juga nama samaran), 30, benar-benar tak bisa diselamatkan lagi. Pernikahan pasangan suami istri (pasutri) asal Kecamatan Beji, Kebupaten Pasuruan, ini bubar. Penyebabnya? Persoalan motor. Bagi sebagian orang mungkin sepele, tapi tidak bagi Minthul.

Pernikahan Tole dan Minthul mulanya bak Romeo dan Juliet. Cinta keduanya lengket. Selama tujuh tahun menikah, keduanya dikaruniai seorang anak. Meski sudah menikah, Minthul masih tetap bekerja seperti sebelumnya. Tole sendiri tak melarang sang istri untuk tetap bekerja.

Nah, saat sebelum menikah, Tole sempat menjanjikan akan membeli motor buat dirinya. Motor itu nanti digunakan Minthul sebagai alat transportasi ke pabrik. Sejatinya, Minthul memiliki motor sendiri meskipun bekas.

“Meskipun motor jelek, tapi hasil usaha sendiri dari kerja pabrik. Sampai kenal dengan Tole dan niat menikah. Tole berjanji membelikan saya motor yang bagus,” jelasnya. Karena itu, sebelum menikah, motor Minthul dijual untuk modal pesta pernikahan. Tentu saja, iming-iming Tole membelikan motor itu bak angin surga.

Setelah menikah, tak lama kemudian Minthul hamil dan melahirkan. Kebutuhan hidup saat itu memang bertambah. Apalagi setelah melahirkan, Minthul memilih resign agar bisa fokus mengurus anak. Nah, keluarga kecil tersebut hanya menggantungkan pendapatan keluarga hanya dari Tole seorang. Makin beratlah keuangan mereka.

Karena alasan itu pula, Tole yang menjadi buruh pabrik mengaku tak mampu untuk nyicil motor baru. Setelah anaknya berusia 4 tahun, Minthul memilih kembali bekerja. Tujuannya, agar mereka bisa segera mandiri. Untungnya, Minthul bisa kembali diterima di pabrik lamanya dulu.

“Tapi, karena kebutuhan banyak, ya gaji tetap saja digunakan untuk kebutuhan sehari-hari orang rumah dan anak,” jelasnya. Saat itu, Minthul mengaku tak lagi menggebu-gebu untuk membeli motor. Sayangnya, saat Minthul berusaha mengerti kondisi keuangan keluarga, ternyata Tole malah bersikap sebaliknya.

Tole diketahui membeli motor baru dengan cara mencicil. Tapi, motor itu dipakai Tole sendiri lantaran motor yang lama untuk dipakai mertuanya. Melihat hal itu, Minthul hanya bisa mengelus dada. Saat bekerja, ia selalu kesulitan untuk berangkat dan pulang.

Minthul akhirnya naik angkutan umum. Tole juga dikatakan ogah-ogahan untuk antar-jemput istrinya. Harapan untuk membeli motor sendiri, tak mungkin terealisasi. Pasalnya, gaji Minthul dikatakan selalu habis tak bersisa. Ini, lantaran selain untuk kebutuhan sehari-hari, Tole selalu minta jatah ke Minthul.

Keinginan Minthul untuk dibelikan motor, sampai bertahun-tahun tak kunjung kesampaian. Sampai motor cicilan hampir lunas, Tole ternyata enggan membelikan motor baru untuk Minthul. Kali ini Tole beralasan, lantaran dinilai pemborosan. Sang suami pun berdalih kalau uangnya lebih baik ditabung untuk kebutuhan lain yang lebih penting.

Kecewa dan sedih dengan keputusan suaminya, keduanya pun terlibat pertengkaran. Minthul merasa jika Tole tak serius dengan janjinya dulu. Minthul yang sakit hati di-PHP (Pemberi Harapan Palsu), memilih cerai di Pengadilan Agama Bangil. “Kesel lah, selama ini dia selalu perhitungan kalau menyangkut kebutuhan saya,” gerutunya. Minthul mengatakan keputusan bercerai bukan karena dia matre.

(br/eka/rf/rf/JPR)