Rabu, 14 Nov 2018
radarbromo
icon featured
Sportainment

Nih Dia Dara Pemanjat Tebing Probolinggo yang Juarai Kejurprov Jatim

Sabtu, 28 Jul 2018 15:00 | editor : Muhammad Fahmi

panjat tebing

GIGIH: Agniz Ruri Ambarwati saat berlaga di Kejurprov. (Istimewa)

TAK ada kesuksesan yang instan. Itulah pedoman Agniz Ruri Ambarwati. Bermodal pengalaman dan kerja keras, ia kini mulai mereguk hasilnya.

--------------------

Bagi Agniz Ruri Ambarwati, ajang kejuaraan antarprovinsi (Kejurprov) bukanlah hal baru baginya. Pada 2016 lalu, siswi kelas XI Jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ) 1 SMKN 2 Kota Probolinggo itu kali pertama merasakan ajang regional itu.

Hasilnya, ia langsung pulang membawa medali. Namun, saat itu ia hanya mampu meraih medali perunggu. Pada 2017, putri pertama dari dua bersaudara pasangan Agus Salim dan Chairun Niza itu juga meraih juara ketiga pada Nikapala Wall Climbing Competition di Surabaya.

Nah, rupanya sejumlah pengalaman itu jadi modal berarti baginya. Pada Kejurprov tahun ini, ia berhasil menjadi yang terbaik dalam ajang yang digelar di wall climbing KONI Jatim Surabaya pada 11 – 15 Juli lalu itu.

Lalu apa kunci suksesnya? Dara kelahiran Probolinggo, 25 Mei 2001 ini mengaku, disiplin latihan merupakan yang paling penting. Baginya, tiada hari tanpa berlatih.

Lantaran rutin berlatih itu pula, ia harus merelakan tangannya tak mulus lagi. “Tangan sekarang kapalan (menebal). Juga tak jarang alami kram. Kalau sudah begitu, untuk mengangkat gayung buat mandi saja, tidak bisa selama dua hari. Kapalannya baru sembuh setelah satu mingguan,” cerita Agniz –sapaan akrabnya-.

Gadis yang bercita-cita jadi polwan ini sendiri, awalnya tak ditarget muluk-muluk dalam ajang Kejurprov. Ia awalnya hanya ditarget medali perunggu.

“Saya juga tidak berpikir untuk menang. Yang ada di pikiran saya, bisa lancar mejalani pertandingan. Kemenangan hanya bonus dari latihan dan kerja keras,” imbuhnya.

Agniz berhasil meraih emas di nomor speed world record kategori youth A putri. Setelah dinyatakan menjadi pemenang, Agniz lantas turun dari wall climbing-nya. “Saya langsung diajak latihan bersama di Gresik usai Kejurprov,” terangnya.

Agniz sendiri menggeluti dunia panjat tebing sejak kelas 5 SD. Sebelumnya, ia merupakan atlet lari sejak duduk di bangku kelas 3 SD. “Saya pilih panjat tebing karena kebanyakan perempuan ogah menggeluti olahraga ekstrem. Nah, saya ingin coba hal baru,” katanya.

Selama menggeluti panjat tebing, alami cedera bukan hal baru bagi Agniz. Ia pernah alami cedera kaki lumayan parah pada persiapan Kejurprov 2016. Selama dua minggu, ia tidak mengikuti latihan. Namun, karena kesabaran dan kegigihannya, ia sembuh dan fit saat ikuti kejuaraan.

“Usaha tidak pernah menghianati hasil. Ada tiga hal yang menentukan. Otot, otak, dan nasib. No pain no gain, tidak ada rasa sakit, tidak ada keberhasilan,” urainya. Agniz sendiri mengaku bersyukur. Sebab, keluarga selalu mendukungnya.

Waka Kesiswaan SMKN 2 Kota Probolinggo Misjoni berharap keberhasilan Agniz di Kejurprov bisa terus berlanjut. Yakni, berhasil di ajang yang jauh lebih besar lagi.

Waka Kesiswaan SMKN 2 Kota Probolinggo Misjoni berharap keberhasilan Agniz di Kejurprov bisa terus berlanjut. Yakni, berhasil di ajang yang jauh lebih besar lagi. “Saya berharap ia (Agniz) bisa mengikuti kakak kelasnya (Rindi Sufrianto yang akan berlaga di Asian Games),” terang Waka Kesiswaan SMKN 2 Kota Probolinggo Misjoni.

Sementara pembina pecinta alam SMK N 2 (Pasemkada), Catur Sugianto mengaku Agniz selain bagus di bidang panjat tebing, di bidang akademis juga bagus. “Dia punya semangat tinggi untuk maju dan mencoba hal baru,” terangnya.

(br/hil/mie/mie/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia