Senin, 19 Nov 2018
radarbromo
icon-featured
Probolinggo

Sedekade Jazz Gunung Hangatkan Pecinta Jazz di Lereng Bromo

Sabtu, 28 Jul 2018 06:00 | editor : Muhammad Fahmi

jazz, gunung, bromo, 2018, hari pertama

GAK KEDINGINAN NIH?: Aksi penari latar yang bertelanjang dada di tengah pertunjukan Jazz Gunung yang digelar dalam suhu 5 derajat celcius. (Zainal Arifin/Radar Bromo)

SUKAPURA - Suhu udara di kawasan Bromo, Jumat malam (27/7) mencapai 5 derajat. Meski begitu, hal itu tak menyurutkan ribuan jamaah Al-Jazziyah -sebutan untuk penggemar Jazz- untuk memenuhi amfiteater Jiwa Jawa Desa Wonotoro, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.

Alunan musik Tohpati Bertiga serta merdunya suara Andre Hehanusa, benar-benar menghangatkan suasana.

Gelaran Jazz Gunung 2018 dimulai, Jumat (27/7). Meski sudah memasuki edisi ke-10, namun event tahunan ini tak membuat penikmatnya bosan.

Bahkan, ribuan penonton sudah memenuhi amfiteater sejak sebelum acara dimulai. Semakin malam, suguhan jazz di tempat terbuka itu semakin membuat penonton terkesima.

Sedikitnya, ada 6 kelompok musik yang ditampilkan pada hari pertama. Di antaranya, musik tradisi Kramat Percussion. Kemudian, Tropical Transit, Jungle by Night dari Belanda, Tohpati Bertiga, Barry Likumahua Project, dan terakhir Andre Hehanusa.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang datang bersama istrinya, benar-benar menikmati gelaran tersebut. Bersama Pj Bupati Probolinggo Tjahjo Widodo yang juga didampingi istri, Anas menjadi tamu kehormatan tadi malam.

Selain para musisi jazz, kocaknya duet kakak beradik Djaduk Ferianto dan Butet Kertaradjasa yang menjadi MC, membuat suasana semakin hidup. Joke-joke segar mereka berhasil membuat penonton tertawa.

Sigit Pramono, penggagas Jazz Gunung dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada jamaah Al Jazziah yang setia dalam satu dekade. “Kami menyampaikam terima kasih banyak. Jazz Gunung bisa bertahan hingga saat ini karena dukungan dari para jamaah Al Jazziah,” tuturnya.

Karena itu, pada edisi ke 10 ini, panitia menyuguhkan sesuatu yang berbeda. Ya, jika selama ini hanya digelar malam hari, tahun ini juga digelar pagi hari. Total penonton bisa menikmati Jazz Gunung selama tiga hari berturut-turut.

“Untuk kali ini kami menggelar sedikit lebih lama dan dengan konsep yang berbeda. Jika sebelumnya digelar dua hari dan hanya malam, untuk kali ini tiga hari dengan satu hari di pagi hari. Jadi, pencinta jazz akan semakin banyak waktu untuk menikmati,” jelasnya.

(br/sid/mie/mie/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia