Senin, 19 Nov 2018
radarbromo
icon featured
Probolinggo

Duh, Mahalnya Harga Daging Ayam, Picu Inflasi

Jumat, 27 Jul 2018 08:00 | editor : Muhammad Fahmi

MASIH MAHAL: Pedagang daging ayam di Pasar Baru, Kota Probolinggo.

MASIH MAHAL: Pedagang daging ayam di Pasar Baru, Kota Probolinggo. (Zainal Arifin/ Radar Bromo)

PROBOLINGGO-Harga daging ayam yang sempat meroket menyentuh angka Rp 50 ribu per kilogram di Probolinggo akhirnya turun. Namun, penurunannya tidak terlalu signifikan. Yakni, hanya Rp 2 ribu per kilogram. 

Masih tingginya harga daging ayam ini dipastikan memicu laju inflasi. Hal itu diungkapkan Mochammad Maschsus, kasi Statistik Distribusi BPS Kota Probolinggo. 

“Jelas berdampak (pada inflasi), karena share konsumsi daging ayam di Kota Probolinggo cukup tinggi. Pada bulan Juli, share untuk daging ayam 0,6 persen, sedangkan telur mencapai 0,9 persen terhadap nilai konsumsi rumah tangga,” ujarnya.

Artinya, 0,6 persen dari pendapatan seseorang, habis untuk belanja daging ayam. Dalam prognosa kebutuhan pangan jelang hari besar, rata-rata setiap harinya warga kota butuh 2,7 ton daging ayam. 

Lebih lanjut, Machsus mengatakan, kenaikan harga daging ayam dan telur terjadi secara nasional. “Kalau ditanya penyebabnya, bisa melihat dari biaya produksi. Jika dari biaya produksi, misalnya kenaikan harga pakan, bisa jadi itu memang menjadi salah satu faktor naiknya harga daging ayam broiler,” ujarnya.

BPS, menurut Machsus, tidak hanya memantau komoditas pangan di pasar tradisional. Namun, juga di sejumlah pasar modern. “Di pasar modern harga daging ayam lebih tinggi daripada pasar tradisional. Di atas Rp 50 ribu per kilogram,” ujarnya.

Tingginya konsumsi daging ayam dan telur di Kota Probolinggo dibenarkan Kasi Pakan Ternak, Pengolahan, dan Hasil Pemasaran Ternak pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Ari Pugar Lestari.

“Pada hari normal, setiap hari konsumsi daging ayam Kota Probolinggo mencapai 2 ton. Jumlah ini melonjak sampai 4 kali lipat saat lebaran dan Ramadan,” ujarnya. Namun, tingginya jumlah konsumsi ini tidak diimbangi dengan kemampuan produksi daging ayam potong. Maklum, Kota Probolinggo bukan daerah penghasil daging ayam potong.

(br/put/mie/mie/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia