Senin, 19 Nov 2018
radarbromo
icon-featured
Kraksaan

Bruakk.... Batu Nisan Raksasa Bintaos di Maron Akhirnya Dirobohkan

Kamis, 26 Jul 2018 19:07 | editor : Muhammad Fahmi

DIROBOHKAN: Bakorpakem saat merobohkan batu nisan raksasa milik Bintaos di Maron, Kamis (26/7).Insert, Bintaos melihat langsung proses perobohan batu nisan raksasa itu.

DIROBOHKAN: Bakorpakem saat merobohkan batu nisan raksasa milik Bintaos di Maron, Kamis (26/7).Insert, Bintaos melihat langsung proses perobohan batu nisan raksasa itu. (Zainal Arifin/ Radar Bromo)

MARON-Polemik batu nisan raksasa yang didirikan Nur Slamet alias Bintaos di perbatasan Desa Ganting Wetan dan Ganting Kulon, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo akhirnya berakhir. Kamis siang (26/7), batu nisan raksasa itu akhirnya dirobohkan. 

Tim Bakorpakem (Badan Koordinasi Pengawasan Aliran dan Kepercayaan) akhirnya membongkarnya. Sebelum pembongkaran, tim Bakorpakem mengadakan pertemuan yang disaksikan semua masyarakat di balai Desa Ganting Wetan. 

Batu nisan raksasa itu dirobohkan atas izin Nur Slamet yang telah membangunnya. Batu nisan itu dirobohkan karena  dinilai sudah menyimpang dari syariat agama Islam. 

Masyarakat pun diminta untuk ikut menjaga kondusifitas dengan tidak melakukan hal yang menyimpang dari ajaran agama.

Selanjutnya, tim Bakorpakem disaksikan banyak masyarakat menuju ke lokasi batu nisan raksasa. 

Dengan simbolis, tim Bakorpakem pun menghancurkan batu nisan itu dengan palu besar. Selanjutnya, alat berat bergerak merobohkan batu nisan tersebut. 

Proses merobohkan batu nisan raksasa itu pun sangat mudah. Alat berat menggali tepi fondasi batu nisan itu. Setelah kedalaman dirasa cukup, langsung didorong menggunakan alat berat. Sekitar 25 menit kemudian, kedua batu nisan itupun roboh satu persatu. 

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kabuapten Probolinggo, Nadda Lubis mengatakan, sesuai hasil kesapakatan yang telah ditanda tangani oleh Nur Slamet, pihaknya membongkar batu nisan raksasa tersebut. ”Sesuai kesepakatan, batu nisan itu dibongkar atas ijin Nur Slamet. Tidak ada ganti rugi atas pembongkaran batu nisan itu. Karena batu nisan itu dibangun dengan melanggar dan menyimpat dari syariat agama sIslam. Bahkan, mengarah pada kemusyrikan,” katanya. (mas)

Perempuan yang menjadi ketua tim Bakorpakem Kabupaten itu menegaskan, apa yang dilakukan oleh Nur Slamet ini harus menjadi yang terakhir. Karena, dalam pertemuan sebelumnya, Nur Slamet telah membuat surat pernyataan, untuk tidak membuat sensasi yang aneh dan melanggar syariat agama Islam. Bahkan, jika itu dilanggar, bisa diproses hokum. ”Harus menjadi yang terakhir ini. Sesuai surat pernyataan, tidak akan mengulangi lagi dan siap mengikuti ajaran agama Islam, karena memang beragama Islam,” tegasnya.

Sementara itu, Nur Slamet alias Bintaos mengatakan, batu nisan raksasa itu dibuat karena dirinya memiliki jiwa seni. Tidak ada niatan untuk meresahkan masyarakat. Karena, bangunan ini dianggap sebagian orang menyimpang dari syariat Islam dan mengarah pada kemusyrikan. Akhirnya, batu nisan ini diijinkan dibongkar dan dibersihkan. Karena, dirinya cinta damai demi Kabuapten Probolinggo. ”Saya mengijinkan dan pasrah batu nisan ini dibongkar. Saya suka seni, tapi suka cinta damai, apalagi demi keamanan Kabuapten Probolinggo,” terangnya. 

(br/mas/mie/mie/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia