Rabu, 14 Nov 2018
radarbromo
icon featured
Features

Begini Serunya Nobar Film 22 Menit bersama Forkopimda Probolinggo

Rabu, 25 Jul 2018 13:00 | editor : Fandi Armanto

nonton bareng film 22 menit

RAMAI: Suasana nonton bareng film 22 Menit di Cineplex Pasuruan, Selasa (24/7). (Mokhamad Zubaidillah/Radar Bromo)

AKSI teror yang terjadi di Indonesia tak membuat semua orang merasa takut. Terbukti, saat kejadian teror berlangsung, justru menjadi pusat perhatian masyarakat. Begitu pun dengan petugas, mereka punya nyali untuk memberantas aksi-aksi teror tersebut. Heroiknya pasukan antiteror itu tergambar jelas dalam film 22 Menit yang baru-baru ini menghiasai layar lebar senusantara.

-------------

Beberapa hari ini, suasana di Cineplex Pasuruan memang tampak lebih ramai. Antrean kendaraan tampak berjajar di pelataran parkir bioskop tersebut. Yang berbeda Selasa sore itu (24/7), tak hanya mobil masyarakat umum, bus bertuliskan Polres Probolinggo dan mobil dinas kepolisian juga tampak memenuhi halaman parkir.

Di area antre tiket justru lebih ramai lagi. Tampak ada 2 banner besar poster film 22 Menit. Di banner yang menjadi photobooth itu jadi pilihan penonton untuk ber-selfie bersama. Yang menarik ada dua polisi lengkap dengan seragam polisi, rompi anti peluru, helm baja, buff (masker wajah), dan juga dengan senapan serbu satu versi 2.

Kedua polisi ibarat cosplayer, yang sejatinya polisi tersebut memang polisi beneran. Namun, kedua polisi tersebut memang berniat untuk melengkapi keseruan menonton 22 Menit. Sehingga, hampir semua penonton meminta foto bareng dengan kedua polisi berseragam lengkap tersebut.

Pukul 16.25, panggilan untuk studio 1 sudah dibuka. Wartawan Jawa Pos Radar Bromo berkesempatan nonton bareng film tersebut. Sebelumnya sudah banyak pejabat dan anak sekolah dari Probolinggo yang menonton di jam tayang sebelumnya. Film 22 Menit memang sudah ramai diputar di Pasuruan sejak Kamis (19/7) lalu.

Film 22 Menit sendiri menceritakan tentang kisah nyata saat 14 Januari 2016 lalu. Dimana bom meledak di persimpangan Jalan Thamrin, tepatnya di depan Mall Sarinah. Dan, 22 Menit adalah waktu yang dibutuhkan kepolisian untuk membekuk teroris dan membuat Jakarta tenang kembali.

Film sendiri diawali dengan Jakarta pagi yang biasa, ada ayah yang menyiapkan sarapan, orang-orang bergegas bekerja ke kantor, sampai ada orang yang ditilang.

Penonton sempat tertawa saat Kapolri Tito Karnavian juga ikut menjadi cameo. Ia menjadi warga biasa yang ditilang lantaran tidak memakai helm. Bahkan, perempuan yang diboncengnya sempat nyelutuk. “Gak usah ditilang deh, saya kenal lho dengan Kapolri,” kata perempuan tersebut.

Secara keseluruhan, film berdurasi 71 menit ini selain menggambarkan aksi heroik polisi yang cepat tanggap dalam meredam ketakutan dan menangkap teroris. Juga menceritakan sudut lain, dimana korban yang ditinggalkan, ibu yang kehilangan anaknya, juga polisi yang kehilangan rekannya.

Kapolres Probolinggo AKBP Fadly Samad seusai menonton film tersebut mengatakan, film 22 Menit memiliki pesan yang mendalam. Dimana masyarakat bersama TNI dan Polri mampu memerangi teroris dalam waktu singkat. “Teroris bisa muncul kapan saja dan dimana saja. Maka masyarakat perlu waspada dan jika terjadi, kita perlu bersama-sama untuk membasmi,” ujarnya.

Iimbauan terkait terorisme sendiri kepada warga Probolinggo lantaran terorisme bisa terjadi kapan saja dan dimana saja, maka berharap masyarakat ikut berupaya untuk pencegahan. “Jika masyarakat mengetahui ada sekelompok tertentu yang eksklusif, tidak mau bergaul dengan masyarakat yang lain. Dimohon berserta komponen masyarakat, tokoh, dan ulama segera menghubungi TNI dan Polri bersama kita mendatangi sebagai bentuk pencegahan,” jelasnya.

Sebelumnya, Forkopimda Probolinggo juga ikut nobar bareng bersama guru dan murid. Tutug Edi Utomo, kepala Diskominfo Kabupaten Probolinggo mengatakan, pihaknya perlu mengajak masyarakat termasuk siswa untuk mengetahui bahaya radikalisme.

“Dalam film ini, radikalisme dan terorisme luar biasa jahat, banyak korban akibat bom dan terorisme. Baik yang meninggal, luka, juga derita keluarga yang ditinggalkan,” jelasnya. Karena itu, dengan mengajak guru dan murid untuk menonton bersama, memberikan ide untuk ikut mengampanyekan bahaya terorisme.

Rendi, 9, siswa SMPN 2 Wonomerto, Kabupaten Probolinggo, mengaku senang bisa diajak nonton bareng oleh gurunya. Selain baru pertama kali nonton film di bioskop, Rendi mengaku bangga dengan kepolisian yang mampu dengan cepat membekuk teroris. “Senang, filmnya bagus, ceritanya juga dari kisah nyata. dimana akhirnya bisa menumpas teroris dengan cepat,” katanya.

(br/eka/fun/fun/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia