Rabu, 14 Nov 2018
radarbromo
icon-featured
Cerpen

Sihir Burung Kirmin

Minggu, 22 Jul 2018 12:20 | editor : Radfan Faisal

cerpen, radar bromo, ruang publik, sihir burung kirmin

Ilustrasi (Abdul Wahid/Radar Bromo)

SEHARI-hari istriku kerjaannya main ke rumah tetangga. Itupun aku yang menyuruhnya, agar dia tidak kesepian saat aku berangkat bekerja.

“Banyaklah bergaul dengan tetangga,” pintaku suatu ketika, “biar kau tidak kesepian dan tidak dianggap sombong.”

Istriku mengangguk. Dia sangat patuh padaku. Kalau aku bilang merah padanya, dia pasti merah. Kalau aku menyuruhnya ke kanan, dia pasti ke kanan.

“Tapi satu hal yang perlu diperhatikan,” kataku. Dia mulai memandang ke arahku. Sorot matanya tajam. Dahinya berlipat. “Kau tak boleh membicarakan masalah keluarga, kepada siapa saja, sekecil apa pun masalah itu.”

Dia kembali mengangguk.

“Kalau bergaul sama tetangga, tak usah banyak bicara. Kau cukup tersenyum, mengangguk, atau bila memang perlu kau mengatakan kata iya atau tidak,” tambahku, “kau tahu sendiri orang kampung, kan. Bila mereka tidak membicarakan aib orang sehari saja, mereka seperti akan sakit kepala.”

Dan hal itu memang benar. Sudah beberapa kali aku memergoki Mak Diyah ketika sedang bersama Mak Li. Mereka akan membicarakan Yu Nar, yang pemarah, yang suka keluar malam lah, yang menelantarkan anaknya dan pelit sama tetangga. Sungguh ada saja yang digosipkan.

Kalau kebetulan Mak Diyah bareng Yu Nar, ganti Mak Li yang dibicarakan, yang sudah berumur tapi kelakuannya masih seperti anak-anak, makanya dia ditinggal suaminya. Kabarnya dia juga punya simpanan. Huh, dasar sundal, bisanya bikin malu orang kampung saja.

Sebaliknya, bila Yu Nar dan Mak Li bersatu, tidak lain mereka akan membicarakan Mak Diyah, yang nyinyir, yang suka bikin rumah tangga orang berantakan, ngutang tak pernah dibalikin.

Dan istriku yang tak pernah menjadi cs mereka dalam hal ngerumpi, juga terkena sembur. Kasihan si Romlah, ya. Sudah lama menikah belum punya anak. Apa mungkin suaminya, Junaidi, mandul. Atau sebaliknya ya...

“Aku tak mungkin seperti mereka, Mas,” simpul istriku lembut saat aku menceritakan perihal kebiasaan tetangga. Dan aku memeluknya.

Sungguh, istriku tak pernah membantahku. Seperti halnya dulu waktu dia minta izin mencari kerja. Aku melarangnya. Biar aku saja yang mencari nafkah. Kau di rumah saja, kataku. Dan dia mengangguk.

Ya. Bukan perkara aku sebagai lelaki yang kodratnya mencari nafkah. Aku tidak membatasi ruang gerak istriku sebagai perempuan untuk mandiri. Tidak. Aku tak ingin melihatnya lelah. Sebab, bila dia kelelahan sedikit saja, amandelnya kambuh. Lehernya bengkak dan badannya demam. Minum air rasanya sakit, apalagi makan nasi, katanya. Dan aku tak ingin hal itu terjadi.

***

Waktu aku baru pulang kerja, belum sempat aku melepas sepatu, istriku datang menghampiri. Dia bilang kalau sedang menyukai burung tetangga.

“Burung siapa?” tanyaku.

“Kirmin, Mas.”

“Kamu ke rumahnya?”

Istriku mengangguk.

Rumah Kirmin tidak begitu jauh dari tempatku. Tetanggaku yang satu itu memang memiliki banyak burung. Setiap pagi dia mengganti pakan dan minum burungnya. Setelah itu dia memandikan, lalu menaruh burungnya di tempat yang bisa dicapai sinar matahari, biar bulu-bulunya yang basah cepat kering. Dia pandai merawat burung. Sehingga tidak jarang orang yang main ke rumahnya banyak yang suka burungnya.

Kirmin sangat menyayangi burung-burungnya. Dia seperti tak bisa hidup tanpa burungnya. Burung bak belahan jiwanya. Ada burung cendet, cucak kutilang, kenari, murai, dan perkutut. Tapi kicau cendet yang paling disukai Kirmin. Dia bisa berjam-jam di pekarangan rumahnya hanya mendengar kicau cendet.

Malahan, selentingan kabar yang kudengar, Kirmin pernah meninggalkan istrinya di pasar dan lupa tidak menjemputnya karena dia sedang asik bersiul-siul, sembari menjentik-jentikkan jari di depan burung-burungnya. Baru dia sadar saat melihat istrinya turun dari ojek sambil membawa belanjaan banyak.

“Loh,” desah Kirmin kaget.

“Loh kenapa?” sergah istrinya.

“Burungku lupa tidak diberi makan, makanya aku pulang duluan.” Kirmin seperti merasa bersalah.

“Lalu, kau lupa menjemputku karena asik dengan burung sialan itu?”

“Bukan begitu.”

“Nanti malam kamu tidur dengan burungmu,” kata istrinya ketus sembari memasuki rumahnya.

***

Aku sedang istirahat makan siang. Di kantin teman-teman menertawakanku. Seandainya mereka tidak sedang bercanda, mungkin sudah kujotos mulut mereka.

“Benarkah?” sergah Sriju.

Aku mengangguk pelan.

“Istrimu menyukai burung tetangga?” tanya Lak Ji.

Aku mengangguk kembali.

“Memangnya burungmu kenapa?” lanjut Lak Ji menyeringai.

“Burungmu cepat teler kah?” tanya yang lain.

Kemudian tawa kembali membahana. Kantin seakan tenggelam dalam canda gurau teman-teman kerjaku.

Sungguh keparat teman-temanku. Aku dibuat tak tenang oleh omongan mereka. Tapi, mungkinkah Romlah tega mengkhianatiku? Mungkinkah dia mengingkari janjinya di pelaminan dulu?

Pikiran-pikiran buruk menumpuk di kepalaku. Sesak. Sampai kepalaku terasa berat. Akhirnya aku izin pulang.

“Kenapa?” tanya atasanku.

“Kepala saya pusing,” jawabku pelan.

Kemudian atasan memberiku izin pulang. Aku disuruhnya istirahat. Dan segera kutancap gas. Pulang.

Sesampai di rumah istriku tidak ada. Kepalaku semakin pusing. Dia pasti di rumah Kirmin, pikirku. Aku semakin khawatir.

Pikiranku semakin tak karuan. Aku menyusulnya. Sesampai di halaman rumah Kirmin aku kalap. Rumahnya sepi sekali. Pintu depannya tertutup. Kulihat sandal istriku tergeletak di beranda rumahnya.

Kupanggil istriku dari pintu depan. Begitu pula si Kirmin. Tak ada yang membukakan pintu. Kemudian kuambil sebuah kayu di dekat pagar. Kuhantam kaca jendelanya satu per satu. Dan kutendang pintunya berkali-kali. Tetap tak ada seorang pun yang keluar.

Sampai akhirnya Kirmin dan istrinya yang entah dari mana datang membawa Pak RT dan beberapa warga untuk menghentikanku. Baru pikiranku sedikit tenang setelah istri Kirmin memberiku minum air putih. Lalu kutanya kenapa ada sandal istiku. Dan istri Kirmin menjawab kalau sandal itu adalah miliknya. Seketika itu aku sangat malu. Semua mata memandangku. Aku juga harus mengganti kaca jendela dan pintu rumah Kirmin yang rusak.

Sejak kejadian itu istriku menghilang. Entah ke mana perginya aku tidak tahu. Aku sudah mencarinya ke mana-mana. Dan tidak berselang lama, kudengar kabar bahwa Kirmin bercerai dengan istrinya, lalu pergi entah ke mana. Tak ada seorang pun yang tahu.


Oleh: Faruqi Umar, tinggal di Sidoarjo, Jawa Timur. Sehari-hari ia bekerja sebagai buruh pabrik.

(br/jpk/rf/rf/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia