Kamis, 22 Nov 2018
radarbromo
icon-featured
Ono-ono Ae

Selalu Nyalakan GPS Ponsel Suami Demi Hilangkan Kecurigaan

Sabtu, 21 Jul 2018 09:15 | editor : Fandi Armanto

ono-ono ae, tole, minthul

Ilustrasi (Achmad Syaifudin/Radar Bromo)

ISTILAH sudi mampir bagi seorang sopir rupanya membuat Minthul (nama samaran), 45, waspada. Betapa tidak, acapkali dia sering mendengar jika seorang sopir, biasanya selalu memiliki lebih dari satu istri.

Tak ingin curiga lantaran suaminya menjadi sopir yang negatif, Minthul berupaya menjaga suaminya dengan ekstra. Bahkan, Minthul rela merogoh kocek pribadinya untuk membelikan Tole (juga nama samaran), 35, sebuah smartphone. Fungsinya, agar dia tahu posisi Tole dimanapun berada.

Minthul dan Tole adalah pasutri asal Pohjentrek. Minthul adalah seorang janda yang ditinggal cerai suami ke duanya. Tole adalah suami ke tiganya. Keduanya berkenalan sekitar dua tahun lalu, di sebuah warung makan.

Saat itu Minthul sudah menjanda sekitar 5 tahun lamanya. Suami ke duanya, juga bekerja sebagai seorang sopir. Minthul awalnya juga skeptis saat berkenalan dengan Tole. Dia khawatir, sifat Tole sama seperti suami sebelumnya.

“Suami saya yang ke dua itu kecantol sama perempuan lain. Itu, terjadi karena mantan suami, sering mampir di perjalanan,” terang Minthul.

Alasan itu pula yang membuat Minthul, berpikir panjang saat dilamar Tole. Bahkan, saat Tole mengajaknya menikah, Minthul menyertai, dia mau jadi istri asalkan Tole menikahinya tidak secara siri alias tercatat oleh negara.

Setelah menikah, Minthul yang seharinya bekerja sebagai buruh perusahaan, merasa keberatan, tiap kali Tole hendak berangkat mengaspal. “Tujuan dia (Tole) seringkali sampai Jawa Barat. Daerah yang sama dengan mantan suami saya dulu, hingga kecantol perempuan Sunda,” kata Minthul.

Minthul pun berupaya melindungi rumah tangganya. Beberapa kali dia pergi ke dukun untuk memesan jampi-jampi. Biasanya, jampi-jampi itu ditaruh di toples gula di rumahnya. Fungsi jampi-jampi itu, agar Tole tertutup matanya, apabila melihat perempuan lain.

“Tiap pulang, saya buatkan kopi dengan memakai gula pemberian dari orang pintar kenalan saya. Tapi, entah mengapa, saya merasa belum cukup,” terang Minthul.

Sampai kemudian, Minthul diberi ilmu tentang memanfaatkan fasilitas di smartphone. Salah satunya, GPS dan video call.

Mulanya, Minthul merasa berat karena dia sendiri tidak pernah memakai smartphone. Ponselnya saja masih jadul, sama seperti punya suaminya. Sementara, jika ingin mengetahui posisi Tole, minimal Minthul harus membeli dua smartphone. “Kan sudah jutaan kalau beli dua,” katanya.

Tapi, tekad Minthul kuat. Dia mulai ikut arisan. “Ndilalah, dapat di putaran awal. Langsung saya belikan. Saat itu juga saya setting dan minta instalkan aplikasi ke keponakan. Malu juga sih awalnya, tapi demi bisa mengontrol suami,” kata Minthul.

Cara Minthul cukup efektif. Sebab, dia bisa memantau keberadaan Tole, sekalipun suaminya mampir untuk buang air kecil. “Tapi ya kesal juga. Tiap berhenti lama, mesti video call. Ya capek juga. Kalau menghubungi, mesti minta suasana di sekitar. Kudu jangkep (harus lengkap) kalau nelpon,” kata Tole.

(br/fun/tom/fun/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia