Kamis, 22 Nov 2018
radarbromo
icon featured
Features

Inilah Seniman Kaligrafi Berbahan Limbah Cangkang Telur

Sabtu, 21 Jul 2018 18:30 | editor : Fandi Armanto

kaligrafi dari kulit telur

MEMAKAN WAKTU: Hari Wahyudi bersama karya kaligrafi dari cangkang telur buatannya. Untuk membuat karya tersebut, Hari memerlukan waktu berhari-hari. (Iwan Andrik/Radar Bromo)

BAGI sebagian orang, cangkang telur ayam biasanya hanya dianggap limbah tak berguna. Namun, di tangan Hari Wahyudi, cangkang telur ayam ini bisa diolah menjadi kerajinan kaligrafi.

-----------------

Tulisan arab itu berbentuk timbul. Background-nya cokelat seperti retak-retak. Sekilas, bentuknya tak jauh berbeda dengan seni kaligrafi umumnya. Namun, bila dicermati lebih dekat, akan terlihat perbedaannya.

Maklum, seni kaligrafi itu dibuat dengan bahan yang tak seperti biasa. Backround retak-retak, merupakan hasil tempelan telor ayam. Sementara tulisan arabnya, dibuat dari pelepah pisang ataupun kulit jagung.

Kaligrafi unik itu, merupakan kreasi Hari Wahyudi. Lelaki 52 tahun tersebut, sudah lima tahun belakangan menekuni kerajinan kaligrafi. Di mana, bahannya berasal dari limbah telor ayam serta pelepah pisang dan kulit jagung.

Hari –sapaannya- bercerita, awal mula berkreasi membuat kaligrafi dengan limbah itu, bermula dari banyaknya tumpukan cangkang telor di kampungnya. Kebetulan, cangkan telor itu dibuang lantaran tidak lagi dipakai setelah telornya digunakan untuk kue.

“Melihat banyaknya cangkang telur, saya berpikir bagaimana untuk memanfaatkannya. Karena kalau dibiarkan, jumlahnya bisa semakin menumpuk,” kenang warga Cangkringmalang, Kecamatan Beji, ini.

Ide itu akhirnya muncul ketika ia melihat seni kaligrafi. Ia pun terpikir, untuk berkreasi seni kaligrafi dengan menggunakan bahan telor sebagai background tulisan. Sementara tulisannya sendiri, semula ia menggunakan pasir.

Tak mudah saat awal-awal mencoba. Ia beberapa kali gagal untuk memasang cangkang telor di papan tripleks. “Sempat beberapa kali gagal. Intinya, harus telaten. Begitu pun dengan saat mencuci cangkang telor itu agar tidak bau. Harus telaten juga,” urainya.

Hingga percobaan itu sesuai dengan yang diharapkan. Ia pun memajang kaligrafi kreasinya. Siapa sangka, banyak saudara dan kerabat yang berminat memesannya.

Dari situlah, ia semakin getol untuk membuat kaligrafi berbahan limbah. Ia pun terus berinovasi. Terutama untuk bahan tulisannya. Jika semula menggunakan pasir, sekarang tidak lagi.

Karena, ia lebih banyak memanfaatkan kulit pisang atau kulit jagung. “Alasannya, karena lebih menyeni,” sambung suami dari Sri Wahyuni ini.

Untuk memudahkan produksi, ia tak bekerja sendiri. Ia dibantu seorang karyawan dalam menjalankan usaha.

Menurut Hari, proses pembuatan kaligrafi dari cangkang telor tersebut, memang membutuhkan waktu agak lama. Paling tidak, dibutuhkan waktu seminggu lamanya. Paling lama, untuk memasang telor pada papan tripleks.

“Pemasangan cangkang telor itu, satu persatu. Jadi cukup lama waktu yang dibutuhkan,” imbuh bapak tiga anak ini.

Usai cangkang terpasang seperti yang diharapkan, tinggal kemudian membuat tulisannya. Tulisan kaligrafi sendiri, sejatinya bisa dibuat terpisah. Karena bila selesai, tinggal menempelkan pada papan tripleks yang telah disiapkan.

Cara pembuatan tulisan sendiri, biasanya dilakukan dengan menempelkan kertas. Selanjutnya, kertas tersebut ditulisi kaligrafi. Setelah model terbuat, tinggal pemasangan kulit pisang atau kulit jagung.

Baru kemudian dipotong-potong sesuai tulisan yang telah dibuat. “Pelepah pisang itu sendiri, sebelumnya harus dikeringkan. Paling tidak tiga hari,” tandasnya.

Usai semuanya dikerjakan, tinggal pemasangan ke tripleks. Langkah terakhir adalah pengecatan.

Hari menguraikan, pesanan produk kreasinya datang dari sejumlah daerah. Tak hanya merambah wilayah Kabupaten Pasuruan. Tetapi juga Malang, Sidoarjo, bahkan Surabaya.

Harga kaligrafi yang dibuatnya, dibandrol bervariasi. Mulai dari Rp 100 ribu hingga Rp 2 juta. Bergantung tingkat kerumitan hingga besar kecilnya ukuran kaligrafi yang dibuat. “Penjualan bergantung pesanan. Seminggu, biasanya baru satu pemesan,” pungkasnya.

(br/one/fun/fun/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia