Kamis, 22 Nov 2018
radarbromo
icon featured
Features

Mengenal Petanque, Cabor Baru yang Sudah Terbentuk di Kota Pasuruan

Selasa, 17 Jul 2018 16:00 | editor : Fandi Armanto

petanque, perancis

BARU: Sejumlah atlet petanque saat berlatih di halaman SMPN 6 Kota Pasuruan. (Muhamad Busthomi/Radar Bromo)

BARU-baru ini, di Kota Pasuruan terdapat cabang olahraga (cabor) yang unik. Namanya, petanque. Olahraga tersebut kini dinaungi FOPI (Federasi Olahraga Petanque Indonesia) Kota Pasuruan. Usianya baru seumur jagung, namun sejumlah atletnya telah menorehkan prestasi di level provinsi.

--------------

Petanque masih asing bagi sebagian orang. Olahraga tersebut berasal dari Prancis. Biasanya, dilafalkan dengan ucapan Petank. Di Kota Pasuruan, olahraga tersebut baru resmi didirikan Maret lalu. Dimana rapat kerja FOPI Kota Pasuruan pertama kali digelar. Secara otomatis, cabang olahraga tersebut telah diakui KONI Kota Pasuruan.

Aturan mainnya, seorang atlet berdiri di dalam circle yang letaknya di ujung arena berukuran 14x4 meter. Kedua kaki atlet harus tetap berada di dalam lingkaran tersebut. Permainan dimulai dengan melemparkan bola kayu yang disebut cochonet.

Selepas itu, giliran bola besi seberat 600 gram yang dilemparkan. Sasarannya, tak lain ialah cochonet itu sendiri. Semakin dekat jarak antara bola besi dengan bola kayu tersebut, akan mempengaruhi poin yang didapat seorang atlet.

Setidaknya, demikian gambaran saat sejumlah atlet petanque tengah berlatih di halaman SMPN 6 Kota Pasuruan, beberapa waktu lalu. Selama latihan itu, mereka juga sempat mempraktikkan beberapa jenis permainan. Ada single team, double team, trippel team, dan mix team.

Terlihat pula tiga atlet laki-laki yang baru saja menoreh prestasi. Mereka di antaranya Bahruddin, pelajar SMK Muhammadiyah Kota Pasuruan; Jimlly, pelajar SMP Bayt Al Hikmah; dan Faiz Subhi, pelajar SMPN 6 Kota Pasuruan.

Ya, meski terbilang cabor yang baru berkembang, para atletnya telah mencatat nama mereka di Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Jatim yang digelar di Probolinggo awal Juli lalu. Tiga atlet tersebut menyabet Juara III Tripple Man dan mendapatkan medali perunggu.

Tentu, capaian prestasi tersebut bukan hal yang mudah. Sebab, sejumlah kontingen dari daerah lain memiliki atlet andalan. Sementara di Kota Pasuruan, semuanya masih ‘hijau’. Selain itu, sarana latihan masih menggunakan halaman sekolah. Wajar saja, mengingat usia cabang olahraga yang belum genap setengah tahun.

Para atlet petanque itu dilatih oleh Budi Utomo yang juga salah satu penggagas petanque di Kota Pasuruan. Mulanya Budi –sapaan akrabnya – tak mengenal apa itu petanque. Ceritanya, ia tengah mengikuti pelatihan wasit bola tangan di Semarang pada Mei 2017 silam. Selama di sana, ia sering kali mengunjungi beberapa homebase cabor.

“Dan saya melihat beberapa atlet membawa bola besi. Awalnya saya pikir mereka atlet tolak peluru. Ternyata bukan. Ketika saya datang ke homebase-nya, cara mainnya pun berbeda,” akunya.

Budi sempat bertanya-tanya jenis olahraga macam apa yang dilihatnya kala itu. “Begitu saya diskusi dengan seorang teman sesama wasit bola tangan, kemudian dikenalkan dengan seorang arbit (wasit petanque). Baru setelah itu kami intens bertemu dan mendiskusikan segala hal tentang petanque,” jelasnya.

Beberapa kali perbincangan yang terjadi antara dirinya dengan arbit tersebut, membuat Budi semakin penasaran. Ia menganggap, petanque bukan hanya olahraga permainan. Akan tetapi juga melatih konsentrasi.

“Saat melemparkan bola besi tentu kan memerlukan fokus terhadap sasaran. Teknik melemparnya juga harus disertai feeling dengan akurasi yang tinggi,” jelasnya.

Dengan alasan itu, Budi pun berkeinginan mengenalkan petanque di Kota Pasuruan.

Niat tersebut terus dimatangkan hingga beberapa bulan kemudian. Ia pun mulai belanja beberapa set bola besi dan bola kayu. Kebutuhan lainnya seperti garis arena dan circle, dimodifikasi sendiri oleh Budi. Bahan garis arena hanya menggunakan tali seadanya. Sedangkan untuk circle disambungkan sebuah selang berbentuk lingkaran.

“Sebelum menjadi cabang olahraga, saya juga sempat mengenalkannya kepada siswa saya. Petanque saya masukkan dalam materi pelajaran dan respons anak-anak cukup bagus,” terang pria yang menjadi guru olahraga di SMPN 6 Kota Pasuruan itu.

Selama itu pula, Budi secara tak langsung mulai membidik beberapa pelajar untuk menjadi atlet petanque. Sejak awal, sudah ada empat atlet yang rutin mengikuti latihan. Begitu seterusnya. Hingga tiba waktunya, terbentuklah FOPI Kota Pasuruan. Ia ditunjuk sebagai Ketua Harian.

“Sekarang sudah ada 32 atlet. Dan, rata-rata masih pelajar. Dari tingkat SD hingga SMA. Kami memang membidik atlet dari usia sedini mungkin. Sebab, mereka akan dipersiapkan sebagai atlet yang mumpuni,” tegasnya.

petanque, perancis

ADA DI OLIMPIADE: Olahraga ini sudah lebih populer di Perancis, negara yang menjadi penggagas olahraga petanque. (Muhamad Busthomi/Radar Bromo)

(br/tom/fun/fun/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia