Senin, 19 Nov 2018
radarbromo
icon-featured
Features
Catatan Dahlan Iskan

Piala Dunia untuk Celeng

Minggu, 15 Jul 2018 15:00 | editor : Radfan Faisal

moo pa, disway, catatan dahlan iskan

SURVIVE: Sejumlah pemain Moo Pa, yang belakangan menyita perhatian dunia setelah terjebak selama 9 hari di gua. (Di's Way for Radar Bromo)

CELENG membawa durian runtuh: untuk pemerintah Thailand. Sejak melakukan kudeta militer tiga tahun lalu, baru sekali ini dapat pujian internasional. Berhasil menangani pemain bola remaja yang tergabung dalam klub Babi Hutan. Alias Celeng.

Sudah tiga tahun tidak ada kebebasan pers di sana. Tidak ada kebebasan bicara. Tidak boleh kumpul-kumpul. Semua dikendalikan secara ketat oleh militer. Tidak ada lagi demokrasi. Janji lama tinggal janji: akan segera diadakan pemilu yang demokratis. Lagu Brury Pesolima lebih tepat diputar di sana: semangka berdaun kekuasaan.

Maka soal yang tidak ada hubungannya dengan politik pun jadi politik. Wartawan dijauhkan dari mulut gua Tham Luang. Petugas sangat pelit bicara –off the record sekali pun. Nama-nama pemain bola remaja itu tetap: Celeng 1, Celeng 2, sampai Celeng 12. Disesuaikan dengan urutan penyelamatan. Mirip kode rahasia dalam operasi militer.

Tapi Alhamdulillah. Amitaba. Amitohu: semua anggota Klub Celeng selamat. Hanya berat badan mereka rata-rata turun 2 kilogram. Sangat kurang makan selama sembilan hari pertama. Demikian juga asisten pelatihnya. Si Kepala Celeng.

Kini, tawaran membanjiri mereka. FIFA mengudang untuk menyaksikan final Piala Dunia. Di Moskow. Kyle Walker, bintang timnas Inggris minta alamat: akan kirim jersey tim Inggris. Salah satu remaja tersebut ternyata mengenakan kaus tim nasional Inggris.

Ada juga yang mengenakan kaus tim Real Madrid: tapi belum ada tawaran kiriman jersey-nya. Mungkin masih sedih: CR-7 nya pindah ke Juventus. Dengan kontrak 105 juta euro. Sekitar… ah malas mengkonversikannya ke rupiah. Terlalu banyak nolnya. Yang jelas, 15 juta Euro lebih banyak dari kontraknya di Madrid.

Manchester United juga mengundang mereka: untuk nonton Liga Inggris. Di Stadion Old Trafford. Bahkan, sekalian dengan semua tim penyelamat. MU seperti takut didahului tim Leichester City. Yang pemiliknya orang Thailand.

Messi, Neymar, dan pemain dunia lainnya pada posting simpati. Di tweeter mereka masing-masing. Presiden Donald Trump juga. Yang mungkin mengira sepak bola itu mirip lomba ratu kecantikan. Yang tiap peserta membawa dua bola –di dada mereka. Sampai orang Amerika tidak mau menerjemahkan sepak bola dengan foot ball. Sepak bola diterjemahkan menjadi soccer. Yang asal katanya socc: payudara yang bundar –menurut kamus asal-asalan.

”Mereka tidak mungkin ke Moskow,” ujar penguasa Thailand. ”Mereka masih harus di rumah sakit,” tambahnya. Padahal, kalau 12 remaja itu ditanya, saya yakin yang ingin pergi ke Moskow 24. Menyusul Bonita (Bonek Wanita) Via Vallen yang sudah terbang ke Moskow. ”Mereka biar nonton di layar TV saja,” ujar penguasa.

Sebenarnya ada alasan yang lebih mendasar: mereka tidak akan bisa pergi ke luar negeri. Asisten pelatih itu ternyata diketahui tidak punya KTP. Tidak punya kewarganegaraan. Tidak punya negara. Demikian juga tiga di antara remaja itu: tidak punya kewarganegaraan. Tidak mungkin bisa mengurus paspor.

Mereka adalah penduduk pegunungan. Di pojok perbatasan tiga negara: Thailand, Myanmar, dan Tiongkok. Mereka dari suku minoritas Thai Lue. Yang sudah berada di situ turun-temurun. Bahkan, mungkin sejak sebelum ada negara. Bagi suku ini batas negara itu tidak ada. Semua ini tanah Tuhan. Ribuan orang yang statusnya mirip mereka itu.

Yang jelas, orang tua mereka boleh bepergian di dalam negeri. Termasuk untuk menengok anaknya. Di rumah sakit ibu kota provinsi. Dari jarah jauh. Dibatasi oleh kaca jendela.

Mereka sendiri memang bangga dengan julukan Celeng: larinya cepat, pemberani, nekat, dan berlemak. Celeng berbeda dengan babi piaraan: gendut, malas, dan banyak lemaknya.

Keberanian itu yang membuat mereka berani bertualang ke gua yang berbahaya itu: panjang (12 km), bercabang-cabang, berliku, naik turun, melebar-menyempit dan ini dia: di beberapa bagian turunnya sangat dalam. Saat hujan bagian yang rendah itu penuh air. Air mengisolasi bagian-bagian lain: menjadi ruang-ruang yang terpisah.

Hujan musim monsoon sekarang ini menciptakan gambaran itu. Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab: siapa yang punya inisiatif pertama. Pernahkah mereka memasuki gua di desanya itu. Mengapa tidak memperhitungkan musim monsoon. Mengapa mereka berada di titik sejauh itu: 4 km dari mulut gua. Adakah air masuk yang membuat mereka menjauh. Atau justru mereka sudah mau keluar tapi terhalang air.

Pertanyaan terpenting adalah: bagaimana perasaan mereka. Selama sembilan hari di dataran hanya seluas 10 meter persegi. Yang sekelilingnya air. Yang air itu bisa terus naik. Mempersempit dataran itu. Bagaimana hidup dalam gelap: sembilan hari. Tanpa tahu bahwa itu sembilan hari. Tidak tahu kapan malam tiba. Tanpa tahu kapan akan ada orang tahu.

Mengapa mereka begitu optimistis, bahwa suatu saat nanti akan ada orang menemukan. Bagaimana mereka mengatasi basahnya badan. Dinginnya udara. Lembapnya cuaca dalam gua. Sumuknya musim monsoon. Sabarlah. Penguasa di sana tidak bisa diduga. Musim ‘monsoon politik’ tampaknya masih akan lama.

(br/jpk/rf/rf/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia