Rabu, 23 Jan 2019
radarbromo
icon-featured
Hukum & Kriminal

Dua Eks Direksi BPRS Al Hidayah Ini Kuras Dana Nasabah Miliaran

09 Mei 2018, 11: 00: 59 WIB | editor : Fandi Armanto

sidang, kuras, dana nasabah, eks direksi, bprs, al hidayah

MILIARAN: Terdakwa Nuzulul (paling kanan) dan Abdul Azis, usai mengikuti sidang di PN Bangil, Selasa (8/5). (Iwan Andrik/Radar Bromo)

BANGIL - Dua mantan direksi BPRS Al Hidayah harus duduk di kursi pesakitan, Selasa (8/5). Keduanya ditengarai telah menguras dana perbankan, sehingga membuat nasabah dirugikan dan perusahaan tempat mereka bekerja kolaps.

Dua mantan direksi itu diketahui bernama Abdul Aziz, warga Gayungsari Barat, Surabaya dan Nuzulul Maulidah, warga Jalan Pahlawan Sunaryo, Pandaan, Kabupaten Pasuruan. Abdul Aziz merupakan mantan direktur utama bank yang berlokasi di Taman Dayu Pandaan. Sementara Nuzulul merupakan wanita yang menjabat Direktur di bank yang sama.

Keduanya menguras dana BPRS Al Hidayah, yang sumbernya tak lain dari nasabah. Sedikitnya, Rp 5,7 miliar dana tersebut diembat untuk kepentingan pribadi. Masing-masing Rp 1,4 miliar yang digarong Abdul Aziz. Sementara Nuzulul, mengembat sekitar Rp 4,3 miliar.

Kasus yang mengemuka sejak 2016 tersebut, kini sudah masuk ranah persidangan. Selasa (8/5), empat orang saksi dihadirkan untuk memberikan keterangan. Mereka adalah Urip Tri Utami, Eri Maulida, dan Ana Farida yang menjabat sebagai teller waktu BPRS setempat masih beroperasi. Sementara, satu saksi lainnya adalah Puri Purdiana, yang menjabat accounting.

Dalam sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim PN Bangil Afif Januarsyah itu terungkap, kedua terdakwa memang kerap mengambil dana bank melalui cashbon. Karena menjabat direksi, mereka berdua bisa mudah untuk mendapatkan pencairan dana. Mereka tak perlu melalui prosedur yang ribet untuk pencairan dana.

“Penggunaannya untuk apa kami tidak tahu,” terang Ana Farida saat memberikan keterangan di pengadilan.

Pengambilan dana itu, dilakukan berulang kali. Besarnya antara Rp 50 juta sampai Rp 100 juta. Dana tersebut, diperoleh tak lain dari nasabah yang menitipkan uangnya ke BPRS setempat. Baik berupa tabungan ataupun deposito.

“Jumlah nasabahnya banyak. Ada ratusan nasabah. Pengambilan yang dilakukan, antara Rp 50 juta sampai Rp 100 juta. Ada yang dikembalikan, tapi banyak yang tidak,” terang Eri Maulida saksi lainnya.

Pengambilan dana nasabah itu, diperkirakan telah berlangsung sejak 2011 lalu. Setiap bulannya, terdapat selisih keuangan dalam neraca. Menurut Puri Purdiana, accounting BPRS Al Hidaya, laporan terkait keuangan BPRS Al Hidayah dibuat setiap bulannya. Setiap bulan itu pula, terdapat selisih keuangan yang ada di neraca. Laporan itu, dilakukan ke Bank Indonesia. Namun, tidak dilaporkan apa adanya.

Untuk menutupi selisih itu, dilakukan pengurangan dana nasabah. Misalnya, deposito yang seharusnya Rp 100 juta, dimasukkan sebagian. Sisanya, untuk menutupi pengambilan atau penarikan dana.

“Laporan keuangan memang terkendala. Ada pembiayaan fiktif yang dibuat. Setiap bulan, terdapat selisih hingga miliaran rupiah dalam neraca pembukuan. Untuk menutupinya, kami lakukan semacam gali lobang tutup lobang dana nasabah,” terang Puri.

Meski upaya penutupan dilakukan, namun hal tersebut bukan tanpa persoalan. Menurut Puri, pernah ada nasabah yang kesulitan untuk mendapatkan dananya. Karena keuangan perbankan yang cenderung tak sehat.

“Untuk pencairan, dananya diperoleh dari dana nasabah yang baru masuk serta penarikan pinjaman,” sampainya.

Mereka tak mampu melawan. Karena khawatir kehilangan pekerjaan. Meski tidak ada ancaman, namun kekhawatiran itu beralasan. Sebab, direksi mewanti-wanti kalau tidak menurut, lebih baik keluar dari perusahaan.

(br/one/fun/fun/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia