Rabu, 23 Jan 2019
radarbromo
icon-featured
Probolinggo

Kencing Tikus Mengancam, Simak Gejala dan Pencegahannya

12 April 2018, 11: 00: 59 WIB | editor : Muhammad Fahmi

penularan, tikus, penyakit, kencing tikus, leptospirosis, bakteri, mematikan, mengancam

Ilustrasi (Achmad Syaifudin/Radar Bromo)

MAYANGAN - Temuan kasus Leptospira atau yang dikenal penyakit kencing tikus 2 tahun terakhir di Kota Probolinggo harus diwaspadai warga. Apalagi, sudah ada penderita meninggal imbas bakteri itu.

Untuk mengantisipasinya, warga perlu mengetahui dan melakukan upaya pencegahannya.

Yusminingsih, kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) pada Dinkes setempat mengatakan, penyakit kencing tikus ini disebabkan oleh bakteri leptospira yang terdapat pada kencing dan kotoran tikus.

“Sebenarnya tidak hanya tikus saja, namun pada hewan lain seperti anjing, kambing, sapi, juga bisa menularkan. Tapi, untuk hewan-hewan itu kan ada perawatan, karena ada pemiliknya. Berbeda dengan tikus, tidak ada yang merawat maupun mengobati. Di Indonesia yang banyak ditemukan leptospira itu pada tikus,” terangnya.

Leptospira sendiri sebuah organisme yang hidup di perairan air tawar, tanah basah, lumpur, dan tumbuh-tumbuhan. Bakteri ini terdapat dalam kencing dan kotoran tikus. Bakteri ini masuk ke air atau tanah dan bisa bertahan hingga berbulan-bulan.

Bakteri leptospira dapat masuk melalui mata, hidung, mulut, atau luka terbuka pada kulit. Misalnya, air yang bercampur bakteri, dipakai mandi atau minum. Atau makanan yang terkontaminasi kencing dan kotoran tikus.

“Air yang mengandung kencing tikus bercampur bakteri leptospira, bisa masuk melalui kutikula yang ada di bawah kuku. Bisa juga makanan tercemar dengan kencing tikus karena penempatannya yang tidak aman,” ujarnya. Contoh, seperti bungkus mi instan yang berlubang karena digigit tikus. Mi instan tersebut wajib dibuang.

Gejala sakit kencing tikus ini diawali dengan gejala yang hampir sama dengan penyakit tifus. “Seperti demam tinggi, mual, pusing, trombosit turun, dan leukosit tinggi. Trombosit turun dan leukosit tinggi itu menandakan sedang terjadi infeksi di dalam tubuh,” jelasnya.

Baru pada hari ke 4 dan ke 5 sudah menunjukkan gejala khas penyakit kencing tikus. Seperti mata merah, nyeri pada bagian betis, kulit menguning, air kencing berwarna kuning kecokelatan. “Penyakit ini bisa disembuhkan jika penderita segera mendapat pertolongan. Segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan. Penderita juga harus bed rest,” ujarnya.

Pengobatan ini dilakukan dengan menyuntikkan antibiotik, asupan gizi yang baik, serta pengobatan teratur. Selain itu, daya tahan tubuh juga mempengaruhi seseorang. Bisa saja ada orang terkena kencing tikus tidak sakit karena daya tahan tubuhnya kuat.

Yusminingsih meminta kepada warga agar menjaga lingkungan. “Kondisi lingkungan yang sehat mencegah munculnya tikus di lingkungan rumah,” ujarnya.

Penyakit ini rentan menyerang mereka yang kerap beraktivitas di tempat lembab. Seperti petani, nelayan, atau petugas kebersihan.

Langkah yang bisa dilakukan warga terutama untuk menjaga kebersihan rumah dan dapur. Sampah dapur hendaknya dibuang dalam waktu 1 x 24 jam.

Lubang-lubang saluran air dibuat seperti kasa untuk mencegah tikus. Masyarakat juga harus menjaga kondisi lingkungan agar tetap bersih. Hal ini bisa mencegah munculnya tikus-tikus.

(br/mie/put/mie/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia