Kamis, 22 Nov 2018
radarbromo
icon-featured
Liputan Khusus
Geliat Prostitusi di Kabupaten Probolinggo (4)

Tak Kapok Meski Sering Dirazia, Alasannya Bikin Geleng-geleng Kepala

Sabtu, 31 Mar 2018 12:30 | editor : Radfan Faisal

prostitusi, psk, pekerja seks komersial, pelacur, kupu-kupu malam, wanita, tuna susila, perempuan malam, free sex, seks bebas, hiv, aids

DEMI SESUAP NASI: Pp, salah seorang PSK yang saban hari mangkal di salah satu lokalisasi di Kecamatan Leces. Ia terpaksa menjadi PSK setelah ditinggal mati suaminya. (Jawa Pos Radar Bromo)

SELAIN terjangkit HIV/AIDS, razia menjadi momok paling menakutkan bagi pekerja seks komersial (PSK). Terjaring razia membuat mereka sengsara. Meski begitu, para PSK tersebut mengaku sulit untuk insyaf. Selain ekonomi, kepuasan batin menjadi faktor mereka jatuh dalam lingkaran prostitusi.

-----------------------

Sebuah warung kopi dengan cat warna putih, Kamis (29/3) lalu tetap buka seperti biasa. Warung yang terkenal sebagai lokasi prostitusi itu tak ada tanda-tanda bakal tutup. Padahal, beberapa hari sebelumnya, aparat kepolisian melakukan razia di lokasi tersebut.

Aktivitas di lokalisasi tersebut juga tak banyak berubah. Ada 3 PSK yang saat itu tengah mangkal. Mereka duduk dengan melipat kaki sambil memandangi setiap pria yang hilir mudik keluar masuk warung tersebut. Seorang di antaranya tampak asyik menghisap rokok yang ada di tangan kirinya.

Dari ketiga perempuan yang saat itu mangkal, satu di antaranya terlihat paling muda. Wartawan ini lantas berkenalan dengan perempuan yang mengenakan baju tanpa lengan. Kerlingan matanya cukup menggoda. Tak kalah dengan hotpants berbahan jins yang ia kenakan saat itu.

Perempuan berinisial Pp itu berumur 24 tahun. Ia terjun ke dunia pelacuran karena impitan ekonomi. Perempuan asal Lumajang itu mengaku kesulitan uang kala ditinggal mati suaminya, 2016 lalu. Apalagi, perempuan asal Pasirian, Kabupaten Lumajang, itu harus menghidupi anak semata wayangnya yang berusia 6 tahun.

Pp mengaku memutuskan menikah di usia 18 tahun. Hanya mengantongi ijazah SD, membuatnya sulit bersaing di dunia kerja. Karena itu, begitu ada tawaran menikah dari seorang pria, ia langsung mengiyakan. Padahal, usia suaminya saat itu 40 tahun atau selisih 22 tahun dengan usianya.

“Yang penting dia perhatian dan mencukupi saya,” katanya dengan bahasa Jawa. Pp mengaku selama menikah hidup bahagia. Apalagi, setelah kemudian ia melahirkan bayi laki-laki. Kebahagiaannya terenggut kala sang suami menghembuskan napas terakhirnya akibat tifus. Sejak saat itu, Pp kelimpungan. Terutama soal biaya hidup yang selama ini meggantungkan dari sang suami.

Tiga bulan setelah suaminya meninggal, Pp kemudian bekerja sebagai pelayan di warung kopi. Saat itu, penghasilannya per hari hanya Rp 20 ribu. Merasa tak cukup, Pp mengambil langkah esktrem. Menjadi pelacur. Ia kemudian menempati satu kamar di lokalisasi yang ada di Puger, Jember.

Setiap hari, ia melayani sekitar 10 orang dengan masa kerja dari jam 09.00 sampai jam 22.00. “Di sana capek karena kerjanya pagi sampai malam,” katanya. Meski lelah, ia mengaku tak bisa berbuat apa-apa. Sejauh ini, hanya dengan melacurlah ia bisa mendapat uang untuk dibawa pulang.

Selama sepekan, ia bisa membawa uang Rp 1 juta khusus untuk keperluan anaknya. Lain-lain, ia simpan untuk rencana buka usaha. “Entah kapan mau buka usaha,” katanya sambil tertawa. Lama kelamaan, Pp mengaku lelah karena harus kerja siang-malam. Hingga akhirnya ia mendapat informasi, ada lokalisasi yang hanya beroperasi sampai pukul 16.00.

Akhirnya, Pp memutuskan pindah ke Tigasan Kulon sejak Oktober 2017 silam. Di lokalisasi yang saat ini ia tempati, Pp mengaku lebih tenang. Karena jam mangkalnya sampai pukul 16.00, sore ia bisa kembali ke Pasirian dengan menumpang bus. “Apalagi, bayarannya di sini juga sama seperti di Jember,” katanya.

Namun, ia sempat waswas saat beberapa waktu lalu lokalisasi tersebut dirazia petugas. “Untung saat itu saya tidak ke sini. Kalau ada di sini, kan kena razia juga,” katanya. “Bukan apa, kalau kena razia itu pasti ribet. Jadi, tidak tenang kerja,” katanya kemudian.

Menariknya, Pp mengaku tak hanya faktor ekonomi yang membuatnya nyaman menjadi PSK. Selain uang, ia bisa mendapat kepuasan batin. “Kalau sudah menikah kan ada rasa pengen. Saya sekarang tidak punya suami. Ya puasnya kalau sama pelanggan,” jelasnya.

Terkait razia yang dilakukan petugas, juga membuat kawannya cemas. Hr, 35, misalnya, ia sempat enggan mangkal karena takut kena razia. “Siapapun tidak mau kena razia. Coba sampean sekarang kena razia, enak tidak?” katanya sambil mengaduk kopi pesanan pelanggan.

Hr mengaku baru akan berhenti kalau sudah punya usaha. “Apalagi kalau ada yang mau menikahi saya. Kan tidak perlu repot lagi cari uang, ada suami yang kerja,” katanya. “Sampean mau jadi suami saya, kalau mau, saya janji berhenti,” katanya sambil ngeloyor menuju kamar bersama pelanggannya.

(br/rf/rf/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia