Kamis, 22 Nov 2018
radarbromo
icon featured
Liputan Khusus

2 Tahun Kepemimpinan Setiyono-Teno, Meneguhkan Kota Santri-Kota Pusaka

Rabu, 28 Mar 2018 21:32 | editor : Fandi Armanto

Periode tahun kedua Setiyono-Raharto Teno

Meneguhkan Kota Santri dan Kota Pusaka (Achmad Syaifuddin/Jawa Pos Radar Bromo)

IDENTITAS menjadi modal bagi pemerintahan daerah di era otonomi. Dengan identitas itu, daerah menunjukkan keunggulannya sebagai nilai tawar untuk bersaing dengan kota dan kabupaten lainnya.

Hal itulah yang ditangkap Pemkot Pasuruan. Tak hanya satu identitas yang ditawarkan pemkot sebagai kekuatan lokal. Tapi, dua sekaligus. Yakni, Kota Pusaka dan Kota Santri.

Berbeda dengan Kota Pusaka, label sebagai Kota Santri sudah mengakar sejak lama. Keberadaan almarhum KH. Abdul Hamid sebagai ulama terpandang di Pasuruan, menjadi salah satu dasar disebutnya Kota Pasuruan sebagai Kota Santri. Religiusitas itulah yang oleh pemkot ingin terus ditanamkan pada generasi muda.

Periode tahun kedua Setiyono-Raharto Teno

Meneguhkan Kota Santri dan Kota Pusaka (Achmad Syaifuddin/Jawa Pos Radar Bromo)

Bagaimana dengan Kota Pusaka? Sejak era kepemimpinan Drs. H. Setiyono, M.Si. dan Raharto Teno Prasetyo, pemkot mencanangkan diri sebagai Kota Pusaka. Keberadaan sejumlah tempat bersejarah, menjadi landasan bagi pemkot untuk melabeli diri sebagai kota yang memiliki warisan sejarah.

Karena itulah, tidak berlebihan jika Kota Pasuruan kini terus menggelorakan semangat untuk meneguhkan jati diri sebagai Kota Pusaka dan Kota Santri. Karena dengan identitas itulah, maka potensi lokal akan dikenal secara luas. Jati diri sebagai Kota Pusaka dan Kota Santri, juga diharapkan menjadi kebanggaan warga setempat dan menjadi modal untuk bersaing dengan daerah lain.

Ingin tahu pembangunan selama dua tahun di masa kepemimpinan Setiyono-Raharto Teno Prasetyo, baca Jawa Pos Radar Bromo edisi Kamis (29/3) (*)

(br/fun/fun/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia