Rabu, 23 Jan 2019
radarbromo
icon featured
Features

Berkunjung ke Ponpes Assuniyah Nurul Hidayah yang Bina Anak Bermasalah

20 Maret 2018, 10: 45: 59 WIB | editor : Fandi Armanto

ponpes, pondok, pesantren, assuniyah

ADA RATUSAN: Sebagian santri di Ponpes Assuniyah Nurul Hidayah saat belajar. (Ridhowati Saputri/Radar Bromo)

PONDOK pesantren tak melulu untuk mencari pendidikan agama. Ponpes juga bisa menjadi tempat pembinaan. Seperti yang ada di Ponpes Assuniyah Nurul Hidayah, yang beberapa tahun ini sering melakukan pembinaan terhadap anak jalanan.

---------------------

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 11.30. Suara azan Duhur menggema di lingkungan Jalan Salak, Kelurahan Jrebeng Kidul, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo. Tanpa dikomando, sejumlah perempuan yang mengenakan mukenah putih sembari membawa Alquran, keluar dari dalam kelas.

Mereka adalah sebagian santri di Ponpes Assuniyah Nurul Hidayah. Mereka kompak menuju musala yang ada di seberang pondok untuk ikut salat Duhur berjamaah. Agenda mereka tidak hanya salat Duhur berjamaah saja, namun juga dilanjut dengan mengaji di musala tersebut.

Begitulah pemandangan yang tersaji setiap hari di ponpes. Kebetulan, siang itu ada beberapa santri putra yang sedang mengecat aula. Bangunan aula terdapat beberapa ruang kelas untuk kegiatan belajar.

Banyak orang yang tidak mengetahui jika ada pondok pesantren di tengah perkampungan penduduk di Kelurahan Jrebeng Kidul. Lokasinya pun cukup jauh dari jalan Raya Wonoasih sekitar 1 km masuk ke arah timur.

Pengasuh pondok tersebut bernama KH Hasifuddin. Dia ramah menyambut Jawa Pos Radar Bromo, saat ada di pondoknya.

“Pondok Pesantren ini didirikan 14 tahun yang lalu. Awalnya dimulai dari langgar punya mertua. Tapi kemudian saya beli tanah sendiri di lokasi sekarang ini,” ujarnya.

Hasifuddin menjelaskan, ketika memulai dari langgar milik mertuanya, itu juga tidak mudah. “Banyak orang yang main judi di langgar. Saya datang cuma melihat saja. Maklum orang baru, ndak berani kalau mau ngusir mereka,” ujarnya.

Namun, Hasifuddin kemudian menggunakan pendekatan yang berbeda terhadap pemain judi tersebut. “Saya ajak mereka salat berjamaah di musala. Setiap hari begitu. Sampai akhirnya 31 hari setelahnya sudah ndak ada lagi yang main judi di langgar,” ujarnya.

Saat ini total ada 300 santri yang ada di pondok pesantren ini. Dari 300 santri tersebut, sekitar 200 santri tinggal di pondok pesantren. “Ada beragam santri yang ada di pondok ini. Termasuk ada pula yang sebelumnya anak jalanan. Mereka belajar sembari ikut pembinaan di sini,” ujarnya.

Anak jalanan yang dimaksud Hasifuddin ini adalah anak-anak yang kerap beraktivitas di jalanan. “Pergi dari rumahnya, terus kembali ke jalanan lagi. Mereka seperti itu juga ada yang masuk di sini,” ujarnya.

Seingat Hasifuddin, ada beberapa anjal yang pernah dibinanya. Salah satunya kini sudah mentas membangun keluarga. Namun sayang Hasifuddin enggan menceritakan dengan jelas anjal yang pernah dibinanya.

“Yang satu itu warga Kabupaten Probolinggo. Dia kerap pergi dari rumah, tersangkut kasus pencurian sapi. Sampai suatu ketika karena ada kesadaran dirinya dia ingin mondok. Dia ada kesadaran untuk perbaiki dirinya,” ujarnya.

Pondok tidak lantas serta merta menerima karena ada kasus hukum. “Kami  berkonsultasi dengan pihak kepolisian. Akhirnya setelah proses hukum selesai, laki-laki tersebut bisa ikut mondok,” ujarnya.

Sedangkan yang satu lagi anjal dari Madura. Santri itu mondok di ponpes tersebut setelah diantarkan orang tuanya. “Tapi, tidak berjalan dengan baik karena itu selalu berupaya untuk berkomunikasi dengan orang tuanya. Mencoba pinjam ponsel dari tamu untuk menghubungi orang tuanya. Padahal, seharusnya ketika sudah mondok, maka fokus dengan kegiatan di pondok,” ujarnya.

Hasifuddin mengakui jika hal inilah yang menjadi kendala untuk membantu mengembalikan anak-anak bermasalah. Tujuannya, hanya agar bisa diterima kembali ke masyarakat.

“Ada yang bilangnya izin pulang ke daerah asal 2 hari, tapi ternyata baru kembali 3 hari kemudian. Seharusnya ketika orang tua mempercayakan anak-anaknya ke pondok, orang tua juga harus percaya juga,” jelasnya.

Hasifuddin menjelaskan bahwa tidak bisa dengan cara memaksa. “Semua dilakukan dari hati, kesadaran diri masing-masing santri untuk berbenah dan memperbaiki dirinya. Itu langkah awalnya,” ujarnya.

Kemudian dari pondok membina santri lantaran memakai pendekatan keagamaan. “Mulai dari mengaji, salat berjamaah, sampai tahajud dilakukan bersama. Kami dekatkan dengan Allah. Setiap hari santri di sini jam 3 dibangunkan untuk tahajud dan dilanjutkan Subuh bersama,” ujarnya.

Anak-anak bermasalah, termasuk anjal itu karena pengaruh lingkungan. Mereka hidup di jalanan, tidak ada perhatian dari orang tua. “Maka di sini mereka dibina dalam lingkungan yang baru, lingkungan yang agamis,” ujarnya.

Perubahan pun dirasakan betul oleh wali santri. Beberapa wali santri bahkan menyampaikan pada Hasifuddin jika putra-putrinya banyak berubah.

“Ada yang dari sebelum masuk pondok mereka sering pakai rok mini, sekarang kalau pulang selalu pakai kerudung,” ujarnya.

Salah satu saran yang disampaikan Hasifuddin untuk membina anak-anak terutama anak bermasalah adalah memposisikan santri atau murid sebagai anak. “Sehingga, kami benar-benar membimbingnya layaknya sebagai orang tua,” ujarnya.

ponpes, pondok, pesantren, assuniyah

PENDIDIKAN AGAMA: Sejumlah santriwati ponpes Assuniyah Nurul Hidayah sebelum belajar di musala. (Ridhowati Saputri/Radar Bromo)

(br/fun/put/fun/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia