Senin, 19 Nov 2018
radarbromo
icon-featured
Cerpen

-- Celah --

Minggu, 04 Mar 2018 09:30 | editor : Radfan Faisal

cerpen, radar bromo, ruang publik, celah

ILUSTRASI (Abdul Wahid/Jawa Pos Radar Bromo)

DI malam yang bisu, pak Domo, sesepuh desa, ditemani salah satu pemuda desa, mengendap-endap menuju tembok tinggi di belakang kantor kecamatan.

"Cukup. Ini sudah bisa jadi tanda kalau kita tidak setuju dengan apa yang beliau lakukan," kata pak Domo, sebelum mereka pergi dari hadapanku.

Esok harinya, banyak warga desa berkumpul di dekatku. Dari obrolan mereka, aku tahu apa yang terjadi. Intinya dapat kuterangkan dengan cerita berikut.

Petugas kecamatan mendatangi pak Domo untuk selanjutnya digiring menuju ke kantor kecamatan. Ketika sampai di kantor itu, pak Domo disuruh masuk ke sebuah ruangan yang biasanya untuk proses pembuatan foto KTP, yang ternyata di sana sudah ada pak Camat. Di dalam ruangan itu, pak Camat menginterogasi pak Domo.

Dalam interogasi itu, katanya dengan penuh gagah berani pak Domo mengakui perbuatannya. Mengakui bahwa dirinyalah yang tadi malam menjebol kembali tembok baru yang sedianya untuk menutup sebuah celah yang ada di tembok itu.

Pak Camat yang baru menjabat ini memang sedang melakukan program pembangunan fisik, termasuk memperbaiki tembok serta menutup celah tersebut. Dan celah itulah diriku. Ya, aku adalah celah yang berada di tembok tinggi yang ada di belakang kantor kecamatan ini. Aku sudah ada sejak awal-awal tembok ini dibuat. Kabarnya keberadaanku adalah hasil usaha penjebolan paksa oleh orang-orang yang dulu terancam keselamatannya dan sedang mencari jalan keluar. Dari masa ke masa, keberadaanku selalu dipertahankan. Meski pejabat yang baru tidak paham sejarahku pun biasanya tidak berani menutup. Jika mereka sudah tahu sejarahku, justru semakin membuat mereka tidak ingin melakukannya.

Sesungguhnya dulu sudah pernah sekali, seorang pejabat yang berani menutupku. Kabarnya pada saat itu sudah ada izin sebagian warga desa, tapi rupanya sebelumnya sudah disuap dengan uang. Pada akhirnya penutupan itu justru memakan korban jiwa. Entah bermula dari peristiwa apa, di sebuah siang yang ganas, tiba-tiba api menyala di kantor itu. Api cepat merambat hingga menghanguskan hampir seluruh bangunan kantor. Satu-satunya jalan keluar hanya pintu gerbang depan kantor yang waktu itu masih terkunci. Dalam keadaan kacau dan panik tidak semua orang yang berada di dalam kantor itu bisa melarikan diri dari amukan api. Mereka meregang jiwa karena hangus terbakar. Setelah peristiwa itu, tembok itu dijebol lagi sehingga aku kembali ada.

Akan kukisahkan, nukilan sejarah singkat perjalananku dari zaman ke zaman hingga sampai ada sebuah peraturan tidak tertulis bahwa aku harus tetap ada. Pada zaman pra kolonialisme, di sebuah malam yang pekat, ada segerombolan perompak mendatangi tumenggung yang waktu itu bertempat di  kantor ini. Perampok itu membawa semua harta milik tumenggungan dan membunuh semua orang yang kebetulan ditemuinya, tetapi Tumenggung yang waktu itu mempunyai ajian berpindah kilat dapat membopong istri beserta kedua anaknya keluar dari situasi itu. Atas bantuanku dan penampungan warga desa akhirnya mereka bisa selamat.

Pada zaman kolonial, tempat ini pernah dijadikan markas pejuang, tiba-tiba suatu malam yang miris, tempat ini dibumihanguskan oleh Belanda. Banyak korban jiwa, tapi dari sebagian pejuang itu ada yang dapat terselamatkan olehku dan pertolongan warga desa ini.

Lalu di zaman reformasi, pak Camat yang bertugas di sini mendapat tamu tak terduga. Segerombolan anak muda yang berperilaku beringas. Mereka memporakporandakan seisi kantor. Gerombolan itu diduga adalah orang-orang frustasi yang telah ditunggangi kepentingan yang tidak bertanggung-jawab. Waktu itu pak Camat dan keluarganya selamat olehku dan warga desa yang dengan ikhlas menampung mereka untuk sementara waktu. Begitulah garis besar perjalanan dari arti keberadaanku.

Dan sekarang ini, dari hari ke hari masih saja banyak warga yang berkumpul di dekatku untuk membicarakan bagaimana nasibku selanjutnya. Dari situlah aku selalu bisa mengikuti kisah mereka. Lalu bagaimana dengan nasib pak Domo? Menurut obrolan warga, pada akhirnya pak Domo diancam akan diadukan kepada pihak kepolisian dengan tuduhan telah mengganggu jalannya pembangunan desa. Tapi pada saat detik-detik pelaporan dilakukan, kabarnya diam-diam pak Camat memberinya sebuah tawaran terlebih dulu kepada pak Domo. Jika dalam rapat desa yang akan segera digelar pak Domo dapat menyetir warga desa agar setuju dengan keputusan penutupanku, dia akan lepas dari jerat hukum yang mengintainya.

Karena warga desa mengetahui risiko apa yang akan diterima pak Domo jika rapat desa memutuskan keberadaanku tetap ada, maka dalam rapat itu, tanpa pak Domo meminta pun, warga langsung menyetujui rencana penutupanku. Sebagian besar warga desa tidak ingin ada yang mendapat celaka. Meski sebenarnya aku tahu apa yang mereka mau - berharap aku tetap ada, tapi kini keputusan sudah dibuat dan keberadaanku akhirnya dilenyapkan.

***

Kini tak ada lagi celah di tembok tinggi yang ada di belakang kantor kecamatan itu, sehingga warga desa tidak leluasa tahu segala yang terjadi di dalam tembok itu, seperti halnya ketidaktahuan mereka ketika di sebuah pagi yang muram, sebuah angin yang maha besar tiba-tiba muncul dan berhembus memutar hanya di area lahan di dalam tembok. ***



Oleh: Yuditeha, Kumcer terbarunya Cara Jitu Menjadi Munafik (Stiletto, 2018)
Aktif di Sastra Alit Surakarta dan Kamar Kata Karanganyar.

(br/jpk/rf/rf/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia