Senin, 10 Dec 2018
radarbromo
icon featured
Features

Pria Ini Sudah 30 Tahun Melukis Sketsa Wajah dari Hotel ke Hotel

25 Februari 2018, 18: 00: 59 WIB | editor : Muhammad Fahmi

pelukis, sketsa, abdul halim, melukis, wajah

PELUKIS SKETSA: Abdul Halim saat melukis sketsa di Lobby Hotel Dalwa, Sabtu (17/02). (Erri Kartika/Radar Bromo)

KECANGGIHAN teknologi, tidak bisa begitu saja bisa menggeser seni lukis. Terutama, skesta wajah. Ini sudah dibuktikan oleh Abdul Halim selama sekitar 30 tahun jadi pelukis sketsa wajah.

---------------

Di meja kecil ukuran 2 meter x 1 meter itu, seorang pria setengah baya sibuk menari-narikan jarinya di atas kertas. Ada tumpukan kertas ukuran A3 di meja sebelah kanannya. Sedangkan deretan pensil berbagai ukuran, kuas, penghapus karet, gunting, sampai cat pastel, juga berjajar rapi di dua kotak kecil sebelah kirinya.

Di sekitarnya ada tiga lukisan yang sudah jadi dan dipigura. Tampak gambar KH Hasyim Asy'ari yang sudah diwarna pastel. Sedangkan dua lukisan lainnya adalah gambar wajah anak kecil dan laki-laki dewasa.

Dengan kopyah putih yang dikenakannya, laki-laki tersebut serius menyelesaikan sketsa di kertas putih ukuran 80 cm x 60 cm. Lalu lalang banyak tamu di lobby depan Hotel Dalwa, Bangil, tak membuatnya hilang konsentrasi.

Itulah Abdul Halim, 53, pelukis sketsa wajah asal Kelurahan Kebonagung, Kota Pasuruan. Dia dikenal biasa melukis sketsa wajah dalam waktu cepat.

Beberapa tamu pun tertarik dengan kegiatan yang dilakukannya. Ada yang melihat dari balik kaca depan. Beberapa lainnya mendekat dan menanyakan aktivitas itu. Termasuk Jawa Pos Radar Bromo.

“Banyak tamu hotel yang tertarik untuk dilukis sketsa wajah. Terutama kalau ada event besar, ada tamu yang minta dilukis wajah, bahkan meminta dilukis di kamar hotelnya kalau sudah terlalu larut,” tuturnya.

Abdul Halim sendiri, sudah lama menggeluti profesi melukis sketsa kilat itu. Bahkan, sedari kecil dirinya sudah terbiasa dengan kegiatan lukis melukis. Dari ayahnya, almarhum Fahollah, dia mengenal dunia lukis.

“Ayah saya itu guru ngaji. Untuk mencari tambahan penghasilan, beliau melukis. Sehingga, dari kecil saya sudah terbiasa melihat dan akhirnya meniru dan belajar,” terangnya.

Abdul Halim sendiri, bisa dibilang otodidak belajar melukis. Pendidikan formal khusus melukis, tidak diikutinya. Setelah lulus pondok pesantren saat SMA, dia kemudian melanjutkan belajar di PGSD atau sekolah guru di Situbondo.

Sempat akan menjadi guru dan sudah diterima di Mojokerto, namun kemudian itu tidak dilakukannya. Sebab, orangnya tuamua minta dia tetap tinggal di Pasuruan. Dengan alasanya, Mojokerto jauh.

Sejak itu, Halim mengikuti passionnya sebagai pelukis.  Lukisannya bergaya naturalis. Namun, yang paling sering dilukisnya adalah manusia, khususnya figur atau wajah.

Berbeda dengan pelukis sketsa wajah lainnya di kota metropolitan yang menawarkan jasanya di pinggir jalan. Halim memilih menawarkan jasanya dari hotel ke hotel. Kebanyakan hotel yang disinggahinya adalah hotel di Surabaya.

“Pernah di Novotel Balikpapan, tapi paling sering di Surabaya. Seperti di Mirama, Elmi, Hilton, Sahid dan sebagainya,” ujar bapak empat anak ini.

Rata-rata Halim melukis atau menawarkan lukisannya di sebuah hotel dalam waktu cukup lama. Antara enam bulan sampai satu tahun. Dirinya tinggal membuat lapak di lobbi depan.

Dari situ, banyak tamu hotel yang tertarik dilukis figurnya. Untuk sketsa kilat, biasanya untuk arsir kasar, model bisa menunggu hingga 30 menit. “Dan finishingnya bisa satu jam untuk sketsa hitam putih,” terangnya.

Kalau ada event besar, makin banyak pengunjung hotel yang ingin dilukis. Untuk sketsa hitam putih biasa, Halim menawarkan jasa Rp 350 ribu. Kalau ditambah pigura, ada biaya tambahan.

“Termasuk kalau ingin diwarna, bisa lebih mahal. Sampai Rp 2,5 juta ke atas. Tergantung ukurannya,” jelasnya.

Hingga kini, sudah sekitar 30 tahun Halim menjadi pelukis. Selama itupula, banyak tokoh penting yang sudah dilukisnya. Mulai artis, sampai kepala daerah. Baik wali kota, bupati, sampai gubernur.

Untuk artis, dirinya pernah melukis Emilia Contessa saat menginap di Hotel Hilton Surabaya. Sedangkan kepala daerah, yaitu Gubernur Soekarwo saat mengunjungi pameran di Sumenep tahun 2013.

Kepala daerah lain yang pernah dilukisnya adalah mantan wali kota Pasuruan almarhum Hasani, dan Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf dan yang dilukisnya bersama keluarga. Juga Riang Kulup Prayuda, Wakil Bupati Pasuruan yang kini jadi Plt Bupati Pasuruan.

“Biasanya selain dilukis figur diri, juga mereka memesan figur lukisan kiai. Seperti Kiai Hasyim Asyari, Kiai Hamid, juga Gusdur,” ujarnya.

Bahkan, banyak hasil lukisannya yang dibawa ke mancanegara oleh pengunjung hotel yang memesan. Seperti dibawa ke Malaysia, Belanda, Mesir, Kanada, Brunai dan lainnya.

Menurutnya, aspresiasi masyarakat pada seni lukis sketsa wajah tetap tinggi. “Meskipun ada foto dan mudah, tapi seni melukis dengan pensil akan sangat berbeda. Ada nilai seninya,” pungkasnya.

(br/eka/mie/mie/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia