Kamis, 22 Nov 2018
radarbromo
icon-featured
Cerpen

Jangan Menyapu pada Siang Hari

Minggu, 21 Jan 2018 11:00 | editor : Radfan Faisal

cerpen, radar bromo, ruang publik, lepas

ILUSTRASI (Abdul Wahid/Jawa Pos Radar Bromo)

KASIMAN mati seminggu yang lalu setelah ia selesai menyapu pada siang hari. Tubuhnya pucat membiru di atas dipan yang selama ini ia gunakan untuk beristirahat, tidur, juga menerkam istrinya selama tiga puluh tahun. Tubuh Kasiman kaku, serupa ikan di tempat pelelangan di tepi pantai yang baru saja dikeluarkan dari bak-bak es tempat mengawetkan ikan hasil tangkapan agar tidak membusuk.

Istri Kasiman minggat setahun yang lalu setelah suaminya tak bisa memberinya nafkah, karena sudah terlalu tua. Istrinya minggat ke luar negeri dengan alasan bekerja. Padahal dibawa lari majikannya di kota yang selama ini menjadi tempat kerjanya sejak muda. Ia tak mau memiliki suami yang pekerjaannya hanya menyapu di rumah, rebahan, juga tak berbuat apapun selain meminta jatah kesenangan batin.

Kematian Kasiman pertama kali diendus oleh Hardi. Ada bau busuk yang keluar dari dalam rumah yang hampir roboh itu. Hardi menciumnya serupa semut yang mengendus bau gula. Tetapi bedanya kali ini adalah bau busuk yang dicium, bukan bau arum manis seperti yang dijajakan di sepanjang pagelaran pasar malam.

Hidungnya kembang-kempis mengendus bau busuk itu, dicarinya dengan seksama asal bau mencurigakan itu. Hingga hidungnya yang besar itu menyeretnya ke kamar Kasiman.

Berita kematian itu segera merebak ke penjuru kampung. Orang-orang segera tahu berita kematian itu. Mudah saja, sebab di kampung ada kentongan. Dipukul tiga kali, berarti ada orang mati.

Dan orang-orang secepat mungkin berkumpul untuk membantu menyiapkan pemakaman sesegera mungkin. Tak akan dibiarkan kelewat hari meskipun hanya semalam. Tak etis. Tak ada yang perlu ditunggu. Istrinya tak mungkin akan pulang. Juga anak-anaknya, tak akan peduli. Orang-orang segera memandikan, mengafani, menyalatkan, dan menguburnya.

Orang-orang tahu jika kematian Kasiman tak akan terelak lagi, sebab orang-orang tau jika pekerjaannya di rumah hanyalah menyapu dan klunthang-klunthung. Biasanya Kasiman menyapu pada pagi dan sore hari.

Tetapi nahas, beberapa hari sebelum ajal menjemputnya, ia lebih sering menyapu pada siang hari atau lebih tepatnya pada tengah hari. Orang-orang sudah memperingatkannya, tetapi Kasiman tak peduli sama sekali. Padahal orang-orang di sekitarnya percaya bahwa menyapu pada siang hari akan mendatangkan bencana, membawa malapetaka.

”Jangan pernah kau menyapu pada siang hari jika kau tak ingin mati sia-sia.” Ujar tetangga pemilik toko depan rumah Kasiman yang melihat bencana di depan matanya.

”Biarlah, tak ada yang perlu kau cemaskan. Tak akan terjadi apapun selama kau diam saja.””

“Kau memang keras kepala Man.””

“Biarlah. Kau tak akan pernah tahu rasa kesepianku.” Kasiman mengakhiri pembicaraan itu dan bergegas meninggalkannya.

***

Jangan pernah menyapu pada siang hari.

Itulah pantangan warga kampung yang dipercaya akan membawa bencana, juga malapetaka. Larangan itu sudah ada sejak dulu, entah siapa yang memulai tak ada yang tak pernah tau. Tetapi pantangan itu dijaga sampai sekarang sebagai hal yang sakral. Jika tak ingin mati atau gila, maka jangan pernah menyapu di siang hari.

Kasiman adalah salah satu korban keganasan pantangan itu. Orang-orang membicarakannya saban hari. Ada perdebatan sengit di antara mereka. Ada yang masih percaya tentang hal itu dan ada yang tak lagi peduli dengan mitos murahan itu. Keutuhan warga terpecah menjadi dua kubu, antara percaya dengan pantangan itu dan sama sekali tak peduli lagi karena dinilai sudah uzur.

Perdebatan itu semakin membesar setelah ada orang dari kubu yang tak percaya dengan pantangan itu akan membuktikannya. Ia akan menyapu secara rutin pada siang hari, dan akan membuktikan pada orang-orang bahwa pantangan itu sudah basi. Tak perlu ditakutkan. Hanya orang kolotlah yang percaya akan pantangan semacam itu. Begitulah pikir Soma. Ia sama sekali tak percaya dengan mitos itu.

Orang-orang menentang. Tetapi Soma memaksa akan membuktikan bahwa apa yang telah dipercayai mereka selama ini keliru.

Aku akan membuktikan pada kalian semua, bahwa apa yang telah kalian takutkan selama ini sebenarnya hanyalah mitos semata, kuharap kalian tak menghalangiku,” kata Soma dengan yakin di hadapan orang-orang.

”Tak perlu, kau tak sepatutnya mati sia-sia. Berhentilah bertindak bodoh, jangan mendatangkan bencana untukmu sendiri,” tanggap salah satu orang di kerumunan.

”Tak apa jika untukku sendiri, biarkan aku yang akan menanggung semuanya.””

”Bagaimana jika kami juga tertimpa malapetaka yang kau sebabkan itu? Jangan berbuat seenaknya,” kata seseorang ketakutan.

“Kurasa tak perlu kalian cemaskan. Tak akan terjadi apa-apa. Percayalah.””

”Kami tak percaya, lihatlah Kasiman. Ia mati dan kau selanjutnya.””

”Aku tak akan mundur, dan akan kubuktikan pada kalian semua.””

”Dasar keras kepala!” ucap seseorang dan diikuti bubarnya kerumunan yang sejak tadi mengerubungi Soma.

Kekeras kepalaan Soma tak bisa dihindarkan. Ia akan menanggung resiko yang akan dihadapinya. Ia akan membuktikannya, dan bersiap mati jika memang mitos itu benar adanya. Soma siap jika harus mati dan meninggalkan istri dan dua anaknya. Tapi keyakinannya bulat. Pantangan itu hanyalah mitos dan kematian Kasiman disebabkan oleh hal lain.

Soma menyapu tepat pukul 12 siang, ia menyapu seperti biasanya. Sebab istrinya bekerja di pabrik dan akan pulang ketika Magrib. Saban hari sebelum ke waduk menjala ikan, ia selalu menyapu rumahnya. Mulai dari kamar, hingga halaman rumah.

Soma biasanya menyapu sore hari sebelum berangkat. Tetapi kali ini ia memulai menyapu pada siang hari. Dan hal ini memberikan waktu lebih luang bagi Soma untuk menyiapkan peralatan yang akan dibawa sebelum berangkat menjala ikan.

Kegiatan menyapu pada siang hari telah berlalu selama seminggu, tak terjadi apa-apa pada Soma. Ia selalu tampak tenang ketika menyapu, sampai sekarang pun demikian. Tak ada tanda-tanda malapetaka atau bencana menghampiri dirinya. Hingga sehari setelah lewat seminggu, apa yang ditakutkan orang-orang terjadi juga. Soma ditemukan mati mengambang di tengah waduk.

Tubuh Soma mengambang dan mengembang serupa ikan gabus yang ditangkapnya. Badannya melepuh, karena terlalu banyak kemasukan air. Di pinggirkan oleh teman-teman sesama pencari ikan, diangkut dengan gethek, dan mayatnya diantarkan ke rumah.

Tetangganya kaget bukan kepalang. Tetapi yang paling sedih di antara mereka adalah kedua anak Soma yang masih kecil, masih bersekolah di Taman Kanak-kanak di dekat kelurahan. Mereka berdua kembar, pulang bersama dari sekolahnya dan menemukan rumah mereka dikerumuni banyak orang.

Mereka menangis, tetapi belum tahu apa yang telah terjadi. Sementara istri Soma masih di pabrik, bekerja seperti biasanya. Setelah kejadian nahas itu, seseorang bergegas ke pabrik dan menjemputnya, memberi tahu kejadian itu, dan membawanya pulang.

Tangis pecah di antara keheningan tetangga yang menyesali kelakuan Soma. Istrinya menangis dan berhenti ketika anaknya ikut menangis. Sebagai ibu yang baik, ia ikut menenangkan kedua anaknya. Tetangga yang berkumpul saling bergunjing satu sama lain. Tetapi sebagai lazimnya tetangga ketika ada yang mati, mereka memandikan, mengafani, dan mengubur mayat Soma dengan lazim. Meskipun ada perasaan salah di antara mereka, karena tak bisa mencegah kejadian itu.

***

Mayat Soma dikubur di pemakaman desa, di pintu masuk makam itu terdapat gapura dengan bertuliskan Pemakaman Siliwangi. Pun Kasiman, tubuhnya juga terkubur dalam tanah pemakaman ini. Meskipun liang lahatnya berjauhan, tetapi mereka telah menyatu ketika dikubur di dalamnya. Dan menjadi saksi bahwa tak ada seorang pun boleh menyapu pada siang hari.

Rasa haru menyelimuti pemakaman Soma, sudah dua orang mati karena kutukan menakutkan itu. Orang-orang ikut berkabung, juga istri dan anak Soma. Dan yang mengejutkan adalah kedatangan istri Kasiman dan anak-anaknya. Mereka turut berkabung hari ini. Ada rasa mencekam yang mengalun lembut, juga rasa gemetar pada tubuh mereka.

Bunga kamboja dari pohon yang menjadi saksi sejarah kematian orang-orang itu menjadi pelengkap betapa rasa haru itu terus menguap dan menyelimuti seluruh warga desa. Juga tanah-tanah merah yang baru saja digali itu menjadi pertanda kematian yang mencekam.

Sementara itu, di sudut Pemakaman Siliwangi terdapat sepasang kekasih. Mereka gamang dan saling menunggu satu sama lain. Seorang lelaki yang sedang berusaha meyakinkan kekasihnya, belum bisa dipercaya sampai sekarang, sebab kelakuannya yang begitu tak meyakinkan kekasihnya. Sedangkan sang perempuan sedang berpikir untuk memberikan jawaban atas apa yang telah dilakukan seorang lelaki di sampingnya. Ia sedang berpikir memberikan jawaban.

Rasa bergemuruh ada di dada perempuan itu, ia memikirkan jawaban. Juga lelaki di sampingnya. Menantikan jawaban. Hingga lupa kejadian yang telah dibacanya. Dan hingga pada akhirnya, perempuan itu memberikan jawaban pada lelaki di sampingnya. Begitu sederhana: ya atau tidak atas kelanjutan hubungan mereka berdua. Mereka bertatapan mata dengan sebuah jawaban.


Oleh: Eko Setyawan, Lahir dan menetap di Karanganyar, Jawa Tengah. Beberapa karyanya termaktub dalam buku antologi puisi bersama dan kumcer.

(br/jpk/rf/rf/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia