Rabu, 14 Nov 2018
radarbromo
icon-featured
Features

Cerita Pria Gay dengan Lima Kekasih yang Terinfeksi HIV

Rabu, 06 Dec 2017 07:39 | editor : Muhammad Fahmi

Gay, Homo, ODHA, ohida

BERHARAP TAK DIKUCILKAN: YW saat ditemui di sebuah kafe di Kota Probolinggo. (Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

YW mengaku tegar saat dinyatakan positif HIV/AIDS setelah melakukan uji laboratorium. Ia sadar, aktivitas seksualnya selama ini yang tidak sehat, membuatnya rentan tertular penyakit mematikan itu.

-------------------------

Usianya tak muda lagi. Tahun ini, YW menapaki umur 69 tahun. Di saat orang seusianya menikmati masa tua dengan menimang cucu, tidak demikian dengannya.

Sejak mengetahui orientasi seksualnya berbeda dengan menyukai sejenis, ia memutuskan untuk tidak menikah. Dari gaya hidupnya itu pula yang membuatnya kini jadi ODHA (Orang dengan HIV/ AIDS).

Tidak semua orang tahu penyakit yang kini diidapnya itu. YW juga tak menceritakan penyakitnya ini pada sembarang orang. Tapi, ia mau berbagi pengalaman pahitnya dengan Jawa Pos Radar Bromo.

Ia berharap, ceritanya membuat orang lain jadi lebih berhati-hati terhadap virus mematikan itu. Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh dan melemahkan kemampuan tubuh untuk melawan infeksi dan penyakit.

Pria berkacamata ini mengatakan, ketertarikannya pada sesama jenis atau sebagai gay, ia rasakan sejak usia 21 tahun. Ketika bertemu dengan lawan jenis, ia mengaku tak tertarik.

Sejak itulah, YW mantap tak akan menikah. Kalaupun menjalin hubungan asmara, tentu dengan sesama jenis. Tak tanggung-tanggung, ia mengaku punya lima kekasih. Tentunya, dengan sejenisnya.

Hubungan seksual juga ia lakukan bergantian dengan lima kekasihnya itu. Ketika mengetahui jika dirinya terjangkit HIV, ia langsung yakin jika salah seorang dari lima pasangannya itu juga merupakan penderita HIV/AIDS.

Selama ini, YW mengembara ke berbagai tempat untuk bekerja. Mulai menjadi bartender di salah satu diskotek, pelayan toko, hingga menjadi pegawai di sebuah salon di Jakarta.

Setelah sekian lama bekerja di luar kota, YW akhirnya pulang ke kampung  halamannya sekitar tahun 1991. Saat itu, YW membuka salon untuk memenuhi kebutuhannya.

YW awalnya mengetahui jika ia menderita HIV/AIDS saat ia mengalami gatal-gatal di kakinya pada 2014 lalu. Penyakit itu sembuh setelah diobati, namun kambuh saat obat telah habis. Begitu seterusnya.

Merasa aneh, YW kemudian berkonsultasi pada sahabatnya yang seorang dokter. Ia kemudian disarankan untuk tes laboratorium. Hasilnya mengejutkan. Ia dinyatakan positif menderita HIV/AIDS.

Sahabatnya yang seorang dokter itu, kemudian mengajak dirinya ke lorong sepi di rumah sakit. Saat itulah, sahabatnya memeluk YW sembari mengabarkan, bahwa ia positif HIV.

YW yang tak menyangka, sempat shock. Namun, ia lekas-lekas menguasai keadaan. Air mata penyesalan, memaksa keluar dari dua pelupuk matanya.

“Saya berusaha tegar. Saya langsung tanya bagaimana penanganannya, cara pengobatannya, dan sebagainya,” katanya. Ia sadar, bahwa penyakit ini tak bisa disembuhkan.

Namun, ia tak ingin terpuruk dan meratapi nasibnya. “Saya harus kuat. Minimal dengan berobat, saya bisa memperpanjang usia saya,” imbuhnya.

YW kemudian rutin melakukan pengobatan di RSUD Waluyo Jati, Kraksaan. Ia rutin berobat, sembari tetap menjalankan pekerjaannya sebagai hair stylish di salon miliknya.

Namun, sejak jatuh sakit, salon miliknya terus menurun. Sampai akhirnya tutup. Tentu saja, hal ini berdampak pada kondisi ekonominya.

Beruntung ia terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan, sehingga tak perlu memikirkan biaya pengobatan.

YW berharap, cukup penyakit itu saja yang menghukum kesalahannya. Ia tak ingin, orang lain menghukum dirinya dengan mengucilkannya.

Ia juga berharap, warga lain ini bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari jalan hidupnya selama ini. “Saya berpesan, menikahlah jika ingin berhubungan seksual. Lakukan itu cukup dengan satu orang saja,” katanya.

(br/mie/rpd/mie/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia