Selasa, 20 Nov 2018
radarbromo
icon featured
Probolinggo

Begini Aksi Miss Cosmopolitan 2017 Pamerkan Batik Kota Probolinggo

Sabtu, 18 Nov 2017 01:12 | editor : Muhammad Fahmi

PROMOSIKAN BATIK: Aksi MCW 2017 Sherlyta Prastyscha saat mengenakan batik khas Kota Probolinggo di Festival Batik Kota Probolinggo 2017.

PROMOSIKAN BATIK: Aksi MCW 2017 Sherlyta Prastyscha saat mengenakan batik khas Kota Probolinggo di Festival Batik Kota Probolinggo 2017. (Zainal Arifin/ Radar Bromo)

KANIGARAN–Sherlyta Prastyscha, Miss Cosmopolitan World (MCW) 2017, berhasil memukau undangan Festival Batik 2017, Kamis (16/11). Dara asal Malang ini, memamerkan sejumlah batik bikinan pebatik kota mangga dengan luwes. Dalam festival yang digelar di Museum Probolinggo tersebut, 20 batik yang dilelang juga laku dibeli undangan.

Festival Batik 2017 yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Probolinggo bekerjasama dengan Jawa Pos Radar Bromo itu, mendapat sambutan hangat dari seluruh undangan. Undangan yang rata-rata pejabat pemkot serta pihak swasta itu, menikmati pagelaran batik yang dibawakan Tyscha (sapaan akrab Sherlyta Prastyscha, Red) maupun model dari Color Inc Malang.

Sebelum berlenggak lenggok di atas catwalk, Tyscha didampingi Wali Kota Rukmini, berkesempatan meninjau stan batik maupun pembelajaran membatik, yang dilakukan siswi SMK Negeri 3. Lebih dari 20 orang siswi terlihat membatik menggunakan canting. Ada juga yang sedang melakukan proses pewarnaan batik. Aktivitas itu juga menarik perhatian Rukmini.

JABAT TANGAN: Miss Cosmopolitan World 2017 Sherlyta Prayscha saat berjabat tangan dengan wali Kota Probolinggo Rukmini di Festival Batik Probolinggo.

JABAT TANGAN: Miss Cosmopolitan World 2017 Sherlyta Prayscha saat berjabat tangan dengan wali Kota Probolinggo Rukmini di Festival Batik Probolinggo. (Zainal Arifin/ Radar Bromo)

Kepada Tyscha, Rukmini juga memperlihatkan koleksi replika batik kuno yang dipajang. “Batik-batik yang asli tersimpan di Belanda.  Ini adalah replikanya,” katanya bangga. Sekitar pukul 09.00, acara Festival Batik dibuka dengan penampilan 4 orang penari berbusana batik dari sanggar Bina Tari Bayu Kencana (BTBK). 

Kepala Disbudpar Agus Efendi dalam sambutannya mengungkapkan, Festival Batik 2017 ini dilaksanakan untuk meningkatkan promosi wisata.

“Kegiatan ini melibatkan 21 pebatik Kota Probolinggo yang tergabung dalam Kelompok Batik Kota Probolinggo. Tujuannya untuk meningkatkan promosi wisata serta meningkatkan nilai tambah batik, serta kreativitas dan inovasi pebatik,” ujarnya.

Sementara Rukmini mengatakan, festival ini merupakan langkah awal untuk pengembangan kualitas dan corak batik Kota Probolinggo. “Diharapkan, setelah festival batik ini, semua UKM batik berinovasi dan berkreasi untuk pengembangan 129 replika batik kuno,” ujarnya.

Rukmini juga meminta kepada pelaku UKM untuk menjalin kerjasama dengan desainer, usaha percetakan kaos, serta usaha suvenir untuk menciptakan kreasi dari batik yang dibuatnya. “Seperti membuat tas dari batik atau kaus. Serta menciptakan beragam suvenir khas batik Kota Probolinggo,” ujarnya.

Usai sambutan, model kemudian memamerkan 20 batik milik pebatik kota mangga. Batik-batik itu harganya bervariasi. Mulai yang paling murah, yakni batik Bambu dan Bunga Matahari seharga Rp 250 ribu, sampai yang paling mahal, yakni motif Ksatriyan seharga Rp 3 juta.

Setelah puluhan batik itu dipamerkan, barulah kemudian dilelang. Tak tanggung-tanggung, yang memimpin lelang adalah Wali Kota Rukmini sendiri. Tak perlu susah-susah untuk mencari pembeli. Rukmini langsung menodong para kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk membeli batik-batik tersebut.

Nah, batik paling mahal yakni Ksatriyan, yang harganya Rp 3 juta, akhirnya laku dengan harga Rp 5 juta. Adalah notaris Hernowo yang memenangkan lelang untuk batik bikinan Nico Sawiji dari Poerwa Batik. Batik tersebut mahal karena proses membuatnya, memakan waktu satu tahun.

(br/put/mie/mie/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia