Selasa, 20 Nov 2018
radarbromo
icon-featured
Hukum & Kriminal

PH Dimas Kanjeng Pertanyakan Waktu Penyitaan-Pengembalian BB

Rabu, 19 Jul 2017 07:30 | editor : Muhammad Fahmi

CARI KEBENARAN: Penasihat hukum terdakwa Dimas Kanjeng, Muhamad Soleh (kiri) mengecek sejumlah barang bukti yang dibawa JPU, Selasa (18/7).

CARI KEBENARAN: Penasihat hukum terdakwa Dimas Kanjeng, Muhamad Soleh (kiri) mengecek sejumlah barang bukti yang dibawa JPU, Selasa (18/7). (Arif Mashudi/Jawa Pos Radar Bromo)

KRAKSAAN - Dimas Kanjeng Taat Pribadi kembali diadili di Pengadilan Negeri (PN) Kraksaan, sebagai terdakwa kasus dugaan penipuan terhadap korban Prayitno, Selasa (18/7). Dalam persidangan itu, penasihat hukum terdakwa mempertanyakan kejanggalan waktu penyitaan dan pengembalian barang bukti (BB) yang ada dalam berkas perkara.

Sebab, waktu penetapan penyitaan BB oleh PN Kraksaan bertolak belakang dengan pengembalian barang bukti milik terdakwa. Sehingga, dalam persidangan beragenda pemeriksaan terdakwa itu, penasihat hukum terdakwa mempertanyakan kejelasan sejumlah BB-nya.

Penasihat hukum terdakwa, Muhamad Soleh mengatakan, dalam persidangan ini, dakwaan JPU ngawur. Sebab, banyak BB yang masuk berkas perkara bukan disita dari pelapor. Tapi, disita saat penggerebekan yang ternyata digunakan barang bukti perkara lain.

Selain itu, menurut Soleh, berkas perkara yang dibuat penyidik dan JPU juga ngawur. Salah satunya, PN Kraksaan menetapkan penyitaan BB pada 31 Oktober 2016. Tapi, ada sejumlah item BB yang masuk berkas tidak ada wujudnya. Alasannya, sudah dikembalikan pada terdakwa pada 11 Oktober 2016.

Padahal, menurutnya, ketika BB sudah disita dan ditetapkan oleh PN, tidak boleh dikembalikan atau harus mengubah penetapan penyitaan. “Ini, barang bukti disita dan ditetapkan 31 Oktober, kemudian tanggal 11 Oktober barang bukti ada yang dikembalikan. Tapi, barang bukti itu masuk berkas penyitaan yang ditetapkan oleh PN,” ujarnya.

Mendapati itu, JPU Muhammad Usman mengatakan, setelah dicek di kalender nasional, ternyata dalam berkas ada salah pengetikan bulan. Seharusnya, pengembalian BB itu tertulis 11 November bukan 11 Oktober. Setelah ada penetapan penyitaan BB pada 31 Oktober, memang ada barang bukti yang telah dikembalikan pada terdakwa. “Di berkas barang bukti dikembalikan pada Jumat, 11 Oktober. Ternyata, yang benar 11 November di hari Jumat. Kalau 11 Oktober itu hari Selasa,” ujarnya. (mas)

(br/mas/mie/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia